Selasa, 06 Januari 2015

SEJAUH MANAKAH KITA MENGENAL & MEMPELAJARI SEJARAH ISLAM SENDIRI??.....

Islam memiliki sejarah yang sangat gemilang sekali, tercatat dari jaman awal Nabi Adam AS dan para nabi dan para rasul lainnya hingga pada Nabi dan Rasul Terakhir, Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Dan setelah itu kejayaan Islam semakin bersinar dan tercatat pada Tinta emas setelah Rasulullah SAW, yakni ditangan Para Shahabatnya para tabi’in, tabi tabi’in dan orang-orang setelahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Umar Bin Khattab RA, Usman Bin Affan RA, Ali Bin Abi Thalib RA, Khalid Bin Walid RA (sang Penglima Perang yg jenius), Amr Bin Ash RA (Diplomat n Pembebas Mesir), Umar Bin Abdul Aziz Rahimakhulullah, Harun Ar-Rasyid, Imam Ghazali, Ibnu Taimiyah, Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nurdin Zanki & Sholahuddin Al-Ayyubi (pembebas Yerusalem), Muhammad Al-Fath (Pembebas Konstantinopel) dan masih banyak lagi sosok yang tidak dicantumkan disini, baik Ulama, Ilmuan maupun para penakluk Islam lainnya.
            
Namun sangat disayangkan sekali, karena banyak sekali umat Islam yang sedikit mengambil pelajaran darinya dan tidak sedikit melupakan sejarah-sejarah tokoh-tokoh Islam lainnya, Bahkan dewasa ini orang-orang sudah sangat jarang menelahan dan mencintai sejarah Islam Sendiri dan tidak ada kebanggaan. Sedangkan orang-orang barat dan golongan orientalis sedang betul-betul mendalami tentang Islam dalam berbagai hal termasuk pada sejarahnya bahkan tak tanggung-tanggung dibuat filmnya dengan tujuan merusak dan mengkaburkan dari yang sebenarnya.

BELAJAR DARI KILAS BALIK PERISTIWA
            
Beberapa Tahun silam Umat Islam digegarkan dengan Film yang menceritakan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang isinya benar-benar penghinaan terhadap beliau. Dan akibat pembuatan film tersebut seluruh Umat Islam yang ada diseluruh penjuru Dunia menjadi sangat marah besar tak terkecuali dinegara kita tercinta, Indoensia yang mayoritas Muslim terbesar di Dunia dan demo dimana-mana sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan terhadap Rasulullah SAW.

Bahkan sampai ada gerakan pemboikotan terhadap produk-produk Negara yang memproduksinya dan juga yang lebih parahnya lagi di Libiya, akibat film tersebut terjadi kasus pembunuhan terhadap Dubes Amerika Serikat di Negara tersebut. Meski Film tersebut sudah hentikan baik di dunia nyata maupun dunia maya, kemarahan umat islam tetap tidak terbendung bahkan para Ulama di UEA bersatu  membuat film tandingannya. Akan tetapi sejak peristiwa itu Umat Islam langsung melupakannya dan tidak belajar dari peristiwa itu.

Tahun pun berlalu, sampai pada akhirnya sampai pada tahun 2014, disini Umat Islam lagi-lagi dikejutkan dengan film, sebut saja “Jodha Akbar”. Dimana film tersebut menceritakan tentang kesultanan Mughal di India dan seorang Sultan Mughal yang sangat mencintai isterinya dan membuat Taj Mahal. Akan tetapi film tersebut bukannya mendukung dan sesuai dengan sejarah Islam malah isinya jauh dari sejarah Islam yang sebenarnya. Memang sempat ada tindakan protes dari Umat Islam Indonesia dan film tersebut harus diboikot dan langsung menuliskan sejarah yang sesungghnya, akan tetapi semakin kesini semakin tidak dihiraukan dan mengganggapnya biasa aja.

Beberapa bulan kemudian (penghujung Tauhun 2014), Umat Islam kembali digegerkan dengan Film “King Sulaiman”, film tersebut buatan Turki (sekarang menjadi Abad Kejayaan) yang filmnya sangat jauh dari sejarah Islam yang sebenarnya karena selain adegan yang sangat Fulgar, punya isteri banyak, bersikap sangat keras dan lain sebagainya yang jelek-jelek ditampilkan difilm tersebut. Dinegara Turki sendiri memang sudah dihentikan filmnya karena memang merusak citra Islam, dan Indonesia seluruh Umat Islam rame-rame teriak BOIKOT Film King Sulaiman, bukan Cuma di dunia nyata tetapi juga di dunia maya bahkan sampai-sampai media-media sosial angkat bicara terkait film tersebut bahkan orang-orang rame-rame mengirimkan SMS ke KPI untuk diboikot film tersebut sebagai bukti protes dan sampai-sampai selain memanggil Pihak Stadion tersebut (saya tak akan sebut namanya) dan KPI  juga menelibatkan para Ulama juga dari MUI. Akan tetapi, lagi-lagi Umat Islam tidak ada langkah konktit, tidak belajar dari peristiwa sebelumnya dan tindakannya hanya sebatas protes semata, bahkan film tersebut masih tetap tayang dan dianggap biasa aja.

Lalu ada juga Film Noa, film yang menceritakan tentang Nabi Nuh AS dan Film Exodus, film yang menceritakan tentang sosok Nabi Musa AS (termasuk di Indonesia sendiri diputar). Yang film tersebut buatan orang-orang barat dan Israel. Namun, lagi-lagi film tersebut melenceng dari sejarah yang sesungguhnya dan dari Islam sendiri bahkan menjadi alat propaganda mereka. Tetapi lagi-lagi Umat Islam cuek terhadap sejarahnya dan mengganggap film tersebut sebagai film fiksi, padahal cerita film tersebut dari sejarah Islam sendiri.

KALAU SUDAH SEPERTI INI, SALAH SIAPA?
            
Sekarang nasi sudah berubah menjadi bubur, film tersebut terlanjur tayang dilayar kaca bahkan hingga sekarang ini, masih mending jadi bubur ayam karena setelah peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi kedepan & mencari solusi, tetapi ini udah jadi bubur malah mencari-cari kesalahkan atau mencari kambing hitam dari peristiwa tersebut. Bahkan sampai mengutuk yang membuat film tersebut dan juga mengutuk media dan orang-orang barat termasuk orientalis dan musuh-musuh Islam.
            
Namun, pernahkan kita berfikir kalau peristiwa itu terjadi karena kita sendiri?.... pernahkan kita berfikir kalau tintakan tersebut harus ada solusi?..... dan pernahkan kita berfikir mereka membuat film tersebut untuk melencengkan sejarah yang sesungguhnya karena kita sendiri cuek dan tidak bangga dengan sejarah islam sendiri?.....
            
Jika kita mencari-cari kesalahan, sebenarnya kesalahan itu tak jauh-jauh dari kita, yaitu “kita sendiri”. Ya, kita sendiri sebagai Umat Islam-lah yang salah. Loh, kenapa kita sendiri?.... kita lihat saja, ketika Orang-orang barat (Oriantalis dan musuh-musuh Islam) terus mempelajari dan menelaah sejarah Islam, kita malah cuek seakan-akan tidak peduli, ketika orang-orang luar sangat bangga dengan Sejarah Islam dari segala aspek baik Iptek, tradisi, peradaban, Ilmu Pengetahuan dan lain sebagainya, kita sebagai Umat Islam malah tidak bangga dengan sejarah Islam sendiri malah terbalik, lebih membangga-banggakan yang diluar Islam contoh terlalu membangga-banggakan tokoh-tokoh barat dan sejarah serta kebudayaanya.
            
Dan yang paling menyedihkan adalah, hilangnya tradisi membaca buku, termasuk buku-buku ilmu pengetahuan dan sejarah dan tidak menelaahnya atau Umat Islam tidak membuat cerita dengan cara difilmkan. Jangankan menelaah membaca saja males apalagi yang satu ini, difilmkan. Inilah salah satu kelemahan terbesar seluruh Umat Islam dewasa ini, sudah kehilangan tradisi membaca buku apalagi buku-buku sejarah. Padahal membaca buku sebagai membuka jendela dunia apalagi buku sejarah, dan sejarah bukan sekedar membahas tentang peritiwa yang terjadi seperti tanggal, bulan dan tahun tetapi mengandung sarat dan hikmah yang bisa dipelajari dan dikaji serta ditelaah serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang-orang barat terus mati-matian membaca dan menggali serta menelaah sejarah Islam tanpa kita sadari.
            
Itulah yang sekarang sedang terjadi dalam kehidupan Umat Islam sampai sekarang ini. Termasuk dalam media pembuatan film sendiri kita masih kalah jauh dari mereka-mereka.  Kenapa tidak menyalahkan Media dan orang-orang Barat (Orientalis dan musuh-musuh Islam)?.... oke, saya jelaskan kenapa tidak menyalahkan media dan orang-orang barat. 1) Media, kalau media memang kerjaanya adalah mencari ranting, siapa yang jumlah yang menonton acara tersebut maka tayangan tersebut akan terus tayang apabila rantingnya sedikit akan dihentikan penayangannya. Artinya, media hanya mencari Untung Ekonomi. 2) Orang-orang Barat (Orientalis n musuh-musuh Islam), mereka (musuh-musuh Islam) memang tak usah ditanya, karena memang tujuan mereka selama ini jelas. Akan selalu menyerang Umat Islam dari segala penjuru, apalagi para orientalis yang bukan orang islam tetapi terus mempelajari Islam dengan tujuan untuk mencari titik kelemahan dan menghantam Umat Islam.   

TINDAKAN DAN SOLUSI YANG HARUS DILAKUKAN
            
Kalau kita hanya bisa teriak Boikot, Boikot dan Boikot tetapi tidak ada lanjutan setelah itu, rasanya percuma sekali. Kenapa?.... karena kalau kita hanya melakukan dengan cara yang sama dan hanya bisa mencari permasalahan tanpa ada solusi yang jelas n konkrit maka sama saja dengan bohong.
            
Jadi, apabilah kita memang sungguh-sungguh dan serius dalam membela ajaran islam dari penyimpangan-penyimpangan tentunya menjaga sejarah Islam tetap murni. Maka solusinya selain tindakan pemboikotan, yaitu:

1. Membuat Film Tandingan

Membuat film yang sama tetapi merujuk pada sejarah yang aslinya dan juga melibatkan para tokoh ulama dan pakar ahli sejarah yang menguasai pada bidang itu, kita patut berbangga karena kita memiliki film sejarah Islam yang mendukung seperti The Message, Fetih, Omar, Riwayat kehidupan Imam Bukhari dan film-film islam lainnya yang mendukung.

Akan tetapi, itu masih belum bagus dalam segi grafik gambarnya dan masih terlihat jadul. Bahkan info yang saya dapati terkain film The Message dan Omar, pemeran utamanya bukan seorang muslim tetapi seorang non-muslim, ini sanga tidak etis ketika film islam tetapi pemeran utamanya adalah seorang non-muslim. Entah itu benar atau tidak ini pun harus menjadi evaluasi bersama kita.

Adapun film Fetih, grafik gambarnya bagus dan lebih modern dan mutakhir tidak jadul-jadul amat, tetapi ceritanya dalam kepribadian sultan jauh dari sejarah yang sebenarnya. Bahkan ada adegan yang tidak senonoh ditampilkan dalam film tersebut.

Artinya, kita umat Islam masih kalah jauh dalam perfilman berbentuk sejarah dan kalah saing dengan media-media barat. Namun, tidak menutup kemungkinan kita tetap terus bangkit dalam berperan di media. Artinya selain umat Islam terjun ke dalam media tetapi juga harus mengkemas film-film sejarah Islam lebih modern dan menarik perhatian baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim. Memang tidak semudah seperti membalikan tangan apalagi dalam pekerjaan tersebut, tetapi memang perjuangan membutuhkan proses yang panjang dan semoga tetap istiqamah dalam pekerjaanya. 

2. Umat Islam Harus menghidupkan kembali membaca buku termasuk tentang Sejarah Islam

Salah satu kelemahan Umat Islam Saat ini adalah sebagaimana yang saya terangkan diatas, lemahnya dalam semangat membaca buku apalagi yang berkaitan dengan Sejarah Islam sendiri, padahal umat Islam bisa berkembang pesat diawali dengan membaca buku, setelah selesai baru lahirnya semangat untuk menulis apa yang telah kita baca dan disinilah lahir pula forum diskusi.

Yang tradisi seperti ini semakin kesini semakin hilang dalam tradisi kelilmuan umat islam, jangankan untuk menulis dan diskusi membaca buku saja sudah malas bahkan orang-orang sekrang males baca buku sejarah yang tebal-tebal dan hanya dari ingin infonya saja, sehingga jangan heran banyak sekali umat Islam yang lemah dalam masalah kelimuan bahkan menjadi ragu apabila seseorang menyampaikan berdasarkan kebenaran. Padahal orang-orang barat malah sedang serius mempelajari dan mengkaji terkait dengan Sejarah dan Peradaban Islam segala macam melalui Buku-buku karya Umat Islam sendiri dan bahkan berkembang pesat hingga saat ini. Sedangkan kita malah sebaliknya, mengagung-agungkan dari barat dan tidak mempelajari sejarah Islam sendiri.

Artinya Umat Islam memang “Wajib” belajar mengenai tentang Ilmu Sejarah, mengapa? Sebab sayang banget apabila kita tidak mempelajari, banyak sekali sejarah-sejarah Islam kita yang memiliki catatan-catatan emas baik dari Para Nabi & Rasul, Para Sahabat Nabi, Generasi sesudahnya (Tabi’in & Tabi Tabi’in), para Ilmuan-ilmuan dan Ulama-ulama terdahulu, dan semuanya bisa menjadi pelajaran untuk apa yang bisa kita lakukan kedepan apalagi Firman Allah (Al-Quran) sendiri sebagian besar menjelaskan tentang sejarah.

RENUNGAN

Sejarah Islam kita ini banyak sekali yang bisa diangkat ke permukaan baik dalam kajian Maupun media, apalagi bila diceritakan dengan difilmkan pasti menjadi sangat menarik. Apalagi dari Jaman para Nabi n Rasul, Para  Shahabat Nabi, Kerajaan-kerajaan Islam yang mencapai kejayaanya (Umawiyah, Abassiyah, Ayyubiyah, Mamluk, Mughal di India, terakhir Usmani di Turki), bahakn para Ilmuan muslim dan Ulama. 
            
Akan tetapi karena teknologi kita terbatas. “mungkin”, dan karena tidak ada yang mengisi dibidang tersebut, kita masih kalah jauh dengan orang-orang barat sana. Terlebih kondisi Umat Islam ini dalam tradisi membaca buku semakin kesini semakin berkurang dan terhenti pada tataran diskusi dan didunia maya. Apalagi yang berbasis sejarah, jadi dalam mengedukasi dan mengaplikasi dalam kehidupan sehari-hari menjadi kacau.
            
Ini merupakan PR dan tugas kita semua, bisa dikatakan ini cukup berat atau bahkan sangat berat, karena dengan melihat realitas saat ini, yaitu dimana banyak sekali orang yang ber-KTP Islam, namun sangat alergi bahkan fobia dengan Islam sendiri. Ini sungguh sebuah Ironi bahkan mereka lebih bangga dengan Identitas yang bukan Islam seperti budaya hedonisme. Apalagi dalam mempelajari ajaran Islam sendiri begitu juga dengan sejarah-sejarah Islam.
            
Artinya kita harus bangga dengan Agama kita yaitu Islam dan juga bangga dengan sejarah-sejarah Islam yang kita miliki saat ini dengan cara mempelajari dan menelaah Islam dan sejarah-sejarah dan peradaban Islam dan menghidupkan kembali tradisi membaca buku. Karena dengan menghidupkan kembali tradisi yang satu ini, akan melahirkan tulisan dan dengan melahirkan karya-karya tulisan maka akan membentuk sebuah forum diskusi dan langkah gerakan nyata dan konkrit.
            
Kalau tidak ada langkah konkrit dengan membuat film tandingan atau film-film sejarah Islam sendiri, tidak menghidupkan kembali tradisi membaca buku, dan berhenti ditatanan diskusi dan didunia maya, maka pergerakan Umat Islam semakin menjadi stagnan.
            
Jadi jangan heran dan jangan marah, apabila suatu saat orang-orang barat (orientalis & musuh-musuh Islam) membuat Film-film sejarah yang berkaitan dengan Islam atau semisal dengan itu dengan tujuan merusak dan menyimpang dari sejarah yang sebenarnya karena kita sendiri tidak pernah mengkaji, mempelajari dan menelaah sejarah Islam, tidak menghidupkan budaya membaca, dan membuat film tandingan terkait itu.
            
Karena kalau mereka membuat film yang menyimpang dan kita Umat Islam teriak-teriak Boikot, tetapi kita sendiri malah cuek dengan ini berarti sama saja dengan bohong bin bodoh bin goblok bin bapak moyangnya.              

PENUTUP
            
Seprtinya saya sudah tidak perlu membahas panjang lebar lagi dalam tulisan ini. Intinya kita sebagai Umat Islam Harus Bersatu padu dalam menjaga Aqidah Umat serta meluruskan sejarah yang menyimpang dengan cara langsung melakukan tindakan nyata dan kokrit. Apalagi membicarakan sejarah itu sangat sensitif sekali. Karena mempengaruhi kehidupan dan tindakan sesudanya.
            
Semoga kita sebagai Umat Islam terus semangat mendalami Islam, bangga dengan sejarah Islam dengan cara mempelajari, menelaah, mengambil sarat hikmah serta dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, membuat film yang bertema sejarah Islam yang sudah ada sebagai bukti bentuk kecintaan kita terhadap Agama Islam.

                   

Kamis, 18 Desember 2014

Mengenal Puasa Sunnah



Pendahuluan

            
Ini merupakan Tulisan tentang Mengenal Puasa (shaum) Sunnah. Sebelum kita mengetahui shaum sunnah, mari sedikitnya kita mengetahui shaum yang wajib untuk dilaksanakan sebagai seorang Muslim. Ada 2 macam puasa (shaum) yang wajib yang harus dikerjakan apabila ditinggalkan maka akan berdosa. Puasa wajib tersebut tidak lain adalah: Puasa (shaum) Ramadhan, Puasa (shaum) Nazar (Janji).

            
Puasa Ramadhan: Puasa ini merupakan Puasa yang wajib diikuti oleh seluruh Umat Islam yang ada di seluruh Dunia, dimana puasa Ramadhan ini merupakan rangkaian Rukun Islam yang harus dijalani. Lama puasa Ramadhan ini mencapai 29 hari. Namun, ada juga yang sampai 30 hari tergantung dari tampat Hilal itu berdiri dan diputuskan biasanya oleh seorang Ulama yang ahli dibidang Isbat.
                
Puasa Nazar: Puasa nazar ini merupakan puasa janji. Biasanya bila mendapatkan, melakukan sesuatu dan lain sebagainya dan apa yang dilakukannya berhasil maka seseorang tersebut akan melaksanakan puasa nazar. Lama puasa nazar tergantung dari berapa hari kita janjikan untuk melakukan puasannya, kalau seminggu yah harus dikerjakan semiggu.  



Mengenal Puasa Sunnah lebih dekat
            
Ada sekitar lima puasa sunnah yang kita ketahui diantaranya yaitu:

1. Puasa Senin & Kamis
2. Puasa Ayyamul Bidh
3. Puasa 6 hari di bulan Syawwal
4. Puasa Arafah
5. Puasa Asyura &Tasu'a

Berikut penjelasan-penjelasan puasa sunnah sebagai berikut:  

1. Puasa  Senin  & Kamis 



Waktu : hari  Senin  dan  hari  Kamis .

Hikmah : menambah  derajat  kemuliaan  ,karena  amal manusia  ditunjukkan  pada  Allah swt

pada  setiap   hari  senin  dan  hari  kamis . 

Mengapa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita mesti puasa sunnah pada tiap hari Senin dan Kamis? Dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Segala amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Tirmidzi)
 Puasa yang dilakukan secara rutin dapat memberikan banyak manfaat bagi fisik/lahiriah maupun jiwa/bathiniah.

Beberapa manfaat puasa Senin-Kamis bagi kesehatan jasmani antara lain adalah:
 Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan.  
Karena pada hari saat kita tidak berpuasa alat penceranaan di dalam tubuh bekerja sangat keras, dan pada saat puasalah alat pencernaan tersebut beristirahat 

Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi).
Dengan puasa Senin-Kamis, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksi dan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh. 

Mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan gizi, yang belum tentu baik untuk kesehatan seseorang.
Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain.  

2. Puasa Ayyamul Bidh



Waktu : pada  hari  ke  13 , 14  dan  ke  15  setiap  bulan  ( kecuali  hari  tasyrik  13  Dzulhijjah ).


Hikmah : berpeluang  mendapat  pahala  seperti  puasa  selama  setahun.
 Kenapa puasa ini begitu istimewa? Ada beberapa Alasan mengapa puasa ini terasa begitu istimewa, antara lain: 

Bahwa puasa ini memiliki ganjaran yang sangat besar di sisi Allah, sudah tentu kita sebagai umat muslim akan rugi jika melewatkannya. 
  
Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai) 

Puasa ini juga puasa yang selalu dilakukan (sunah muakkad) oleh teladan terbaik kita Rasulullah Muhammad Saw, dan beliau juga mewasiatkannya kepada para sahabatnya juga umatnya: 

Abu Hurairah ra. Berkata, “Teman dekatku (Nabi Muhammad saw.) berpesan tiga hal kepadaku: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih) 

Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (HR. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan) 

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Kapan, nih?
 Terus gimana kalau terlewat atau lupa, atau hari tersebut jatuh pada hari dimana tidak diperbolehkan puasa misalnya…dan apakah harus di tiga hari tersebut?

Mu’adzah Al-Adawiyyah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah ra., “Apakah Rasulullah saw. berpuasa tiga hari setiap bulan?” Aisyah menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Dari bagian bulan mana beliau berpuasa?” Aisyah menjawab, “beliau tidak peduli dari bagian mana beliau berpuasa.” (HR. Muslim)
 Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada pengkhususan di hari berapa puasa sunah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam menetapkan hari- hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata imam Nawawi, dalam hadits lain dijelaskan bahwa yang paling utamaadalah di harike -13, 14, dan 15 , seprti  dalam hadist:

Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi)

3. Puasa 6 hari di bulan Syawwal

Waktu  :  hanya  pada  hari hari  selama  bulan  Syawal.

Hikmah : yang  melaksanakan  puasa  6  hari  di  bulan  syawal  setelah  puasa  ramadhan  maka

pahalanya  sama  dengan  jika  puasa  selama  1  thn  penuh .

Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim). 

Imam Ahmad dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hubban dalam “Shahih” mereka) 

Dari Abu Hurairah radhallaahu ‘anhu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun.” (HR. al-Bazzar) 

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa enam hari penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka. 

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfa’at, di antaranya: 

1.  Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2.   Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.


3.  Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi.” (QS. an-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfa’at puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci. 

Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta’ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun.” 

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal. 

Ketahuilah amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a’a berfirman, “Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr: 99)

4. Puasa Ara'fah



Waktu : tanggal  9  Dzulhijjah


Hikmah :  dapat  menghapus  dosa  2 tahun ,1  tahun  yang  lalu  dan  1  thn  yang  akan  datang.
 
Hari Arafah memang salah satu hari istimewa, karena pada hari itu Allah membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah di hadapan para malaikat-Nya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, 'Apa yang dikehendaki oleh mereka ini?'” (HR. Muslim, no. 1348; dan lainnya dari 'Aisyah).


Olah karena itulah, tidak aneh jika kaum muslimin yang tidak wukuf di Arafah disyariatkan berpuasa satu hari Arafah ini dengan janji keutamaan yang sangat besar.


Marilah kita renungkan hadits di bawah ini, yang menjelaskan keutamaan puasa Arafah, yang disyariatkan oleh Ar-Rahman Yang Memiliki sifat rahmat yang luas dan disampaikan oleh Nabi pembawa rahmat kepada seluruh alam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah).


Alangkah pemurahnya Allah Ta'ala. Puasa sehari menghapuskan dosa dua tahun! Kaum muslimin biasa berpuasa satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, dan mereka sanggup melakukan. Maka, sesungguhnya berpuasa satu hari Arafah ini merupakan perkara yang mudah, bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala.


Barangsiapa membaca atau mendengar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia ini pastilah hatinya tergerak untuk mengamalkan puasa tersebut. Karena, setiap manusia pasti menyadari bahwa dia tidak dapat lepas dari dosa.

Dosa Apa yang dihapus?

Apakah dosa-dosa yang dihapuskan itu meliputi semua dosa, dosa kecil dan dosa besar? Atau hanya dosa kecil saja? Dalam masalah ini para ulama berselisih.

Sebagian ulama, termasuk Ibnu Hazm rahimahullah, berpendapat sebagaimana zhahir hadits. Bahwa semua dosa terhapuskan, baik dosa besar, atau dosa kecil.

Namun jumhur ulama, termasuk Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Ibnu Rajab, berpendapat bahwa dosa-dosa yang terhapus dengan amal-amal shalih, seperti wudhu', shalat, shadaqah, puasa, dan lainnya, termasuk puasa Arafah ini, hanyalah dosa-dosa kecil.

Pendapat jumhur ini di dukung dengan berbagai alasan, antara lain:

Allah telah memerintahkan tobat, sehingga hukumnya adalah wajib. Jika dosa-dosa besar terhapus dengan semata-mata amal-amal shalih, berarti taubat tidak dibutuhkan, maka ini merupakan kebatilan secara ijma'.

Nash-nash dari hadits lain yang men-taqyid (mengikat; mensyaratkan) dijauhinya dosa-dosa besar untuk penghapusan dosa dengan amal shalih.

Dosa-dosa besar tidak terhapus kecuali dengan bertobat darinya atau hukuman pada dosa tersebut. Baik hukuman itu ditentukan oleh syariat, yang berupa hudud dan ta'zir atau hukuman dengan takdir Allah, yang berupa musibah, penyakit, dan lainnya.

Bahwa di dalam syariat-Nya, Allah tidak menjadikan kaffarah (penebusan dosa) terhadap dosa-dosa besar. Namun, kaffarah itu dijadikan untuk dosa-dosa kecil (Lihat Jami'ul 'Ulum wal Hikam, syarh hadits no. 18, karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali).


Puasa Arafah untuk Selain yang Berada di Arafah

Kemudian, bahwa disunnahkannya puasa Arafah ini berlaku bagi kaum muslimin yang tidak wuquf di Arafah. Adapun bagi kaum muslimin yang wuquf di Arafah, maka tidak berpuasa, sebagaimana hadits di bawah ini,

“Dari Ummul Fadhl binti al-Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, 'Beliau berpuasa.' Sebagian lainnya mengatakan, 'Beliau tidak berpuasa.' Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari, no. 1988; Muslim, no. 1123).

5. Puasa Asy'suro & Tasu'a 

Waktu : tanggal  9  dan  10  Muharam  atau  10  dan  11  Muharam

Hikmah : menghapus  dosa dosa  kecil  setahun  yang  lalu .

Sebuah hadits Abu Qatadah Radiyyallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi Sallam bersabda : “Aku berdo’a pada Allah bahwa puasa pada hari Asyura dapat menebus dosa tahun yang lalu.” Riwayat Imam Muslim, Al-Jami’-Us-Sahih II/2602.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura, maka beliau menjawab: “Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297).

Ibnu Abbas menyatakan : “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaanya selain hari ini (Asyura’) dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan).” (HR. al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram. (HR. Muslim,1163).

Juga, “Abu Hurairah Radiyallahu Anhu meriwayatkan Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda : ” Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling utama sesudah salat fardlu adalah sholat malam.” HR Muslim II/2611.

Dalam hadits disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah! sesungguhnya Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan.” (HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).

Diperbolehkan untuk puasa hari Asyura. (hari kesepuluh Muharram) satu hari saja, akan tetapi hal itu menjadi lebih baik untuk puasa hari sebelumnya atau hari setelahnya juga dan ini adalah Sunnah yang diajarkan Nabi (Salallaahu `Alaihi wa Sallam) yang bersabda : “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan.” (hari Muharam), (Diriwayatkan oleh Imam Muslim (1134) dari Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Ibn Majah, Ibn Abi Syaibah, At-Tahawi, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi]. Ibn ‘ Abbas ( radliyallaahu ‘ anhumaa) berkata : (bersama dengan hari yang kesepuluh (bulan muharam).

“Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245), red)

Selain  puasa2  sunnah  diatas  masih  ada  puasa  sunnah  yang  lainnya  seperti  puasa  N.Daud  sehari  puasa  sehari  tidak  kecuali  2  hari  raya  ( Idhul  Fitri  dan Idhul  Adha )  dan 3  hari  tasyrik  .Puasa pada  10  hari  pertama  pada  bulan  Dzulhijjah, puasa  bulan  Muharam  dan  puasa  bulan  Sya’ban  semua  puasa  sunnah itu  ada  hikmahnya asal  dijalani  dengan ikhlas  Lillah hita’alla ,artinya walaupun  perut  kosong  jangan  marah-marah,  jangan  gibah,  jangan  bohong &  jangan  riya.


Puasa Ditinjau dari Segi Kesehatan menurut Para Ahli
  
Hal ini juga diakui oleh beberapa orang ahli dari Barat yang non-muslim, seperti Allan Cott M.D (Amerika), Dr. Yuri Nikolayev (Rusia) dan Alvenia M. Fulton (Amerika).

Allan Cott M.D bahkan telah membukukan beberapa hikmah dari puasa ke dalam sebuah buku yang berjudul Why Fast?

Berikut adalah beberapa hikmah dari puasa yang diambil dari buku Why Fast? :
  1. To feel better physically and mentally (merasa lebih baik secara fisik dan mental)
  2. To look and fell younger (supaya terlihat dan merasa lebih muda)
  3. To clean out the body (membersihkan badan)
  4. To lower blood pressure and cholesterol levels (menurunkan tekanan darah dan kadar lemak)
  5. To get more out of sex (lebih mampu mengendalikan sex)
  6. To let the body health itself (membuat tubuh sehat dengan sendirinya)
  7. To relieve tension (mengendorkan/melapaskan ketegangan jiwa)
  8. To sharp the senses (menajamkan fungsi indrawi)
  9. To gain control of oneself (memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri)
  10. To slow the aging process (memperlambat proses penuaan)
Sementara itu, Dr. Yuri Nikolayev berpendapat bahwa kemampuan puasa yang bisa membuat seseorang menjadi awet muda adalah sebagai suatu penemuan terbesar abad ini. Beliau mengatakan: “What do you think is the most important discovery in our time? The radioactive watches? Exocet bombs? In my opinion the bigest discovery of our time is the ability to make onself younger phisically, mentally and spiritually through rational fasting.” (Menurut pendapat Anda, apakah penemuan terpenting pada abad ini? Jam radioaktif? Bom exoset? Menurut pendapat saya, penemuan terbesar dalam abad ini ialah kemampuan seseorang membuat dirinya tetap awet muda secara fisik, mental, dan spiritual, melalui puasa yang rasional).

Alvenia M. Fulton, Direktur Lembaga Makanan Sehat “Fultonia” di Amerika Serikat menyatakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik perempuan secara alami. Puasa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Puasa menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh (fasting is the ladies best beautifier, it brings grace charm and poice, it normalizes female functions and reshapes the body contour).


Penutup


Ketiga orang ahli tersebut yang notabene adalah non-muslim bahkan mengakui kehebatan dari puasa. Mengapa kita yang muslim justru terkadang melalaikannya? Padahal jelas sekali Rasulullah telah bersabda seperti di atas tersebut.


Mari kita mulai berpuasa, jangan menunggu hingga Ramadhan tiba untuk berpuasa karena belum tentu usia kita akan sampai ke Ramadhan mendatang. Mari kita mulai dengan puasa sunnah minimal belajar puasa Senin-Kamis. Dan jangan lupa untuk sahur dan berbuka mengikuti anjuran Rasulullah saw.



Bahan:  Berbagai Sumber