Senin, 24 Februari 2025

Mengapa Memilih Dunia Pendidikan?

             Ini merupakan perjalanan hidup aku yang entah karena kecelakaan atau bagaimana, tapi sebetulnya saya menyukai dunia pendidikan sejak kuliah semester 5, meskipun kuliah bukan dari pendidikan tetapi di Fakultas Hukum. Tetapi saya baru tahu kalau suatu saat saya akan menjadi seorang guru bagi keluarga nanti. Awalnya ketika saya mengikuti kegiatan mengajari anak jalanan disebuah komunitas yang bernama Kampus Peduli. Disitulah saya merasakan betapa pentingnya kita harus peduli kepada anak-anak, tentunya anak-anak jalanan.

            Lalu ketika aku di semester 8, saya mengikuti perkuliahan PAI (Pandangan Alam/Hidup Islam) tetapi sifatnya seperti kajian yang diselenggarakan dari PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan) Bandung. Disitu aku mengikuti perkuliahan dari 2012 sampai saat ini. Dari muatan materi PAI yang selama ini aku ikuti, rupanya sangat cocok dengan apa yang selama ini dipelajari, terutama ketika membahas konsep Tuhan, Agama, Nabi & Wahyu, Ilmu, Konsep Pendidikan, dan Konsep Kebahagiaan, serta Islamisasi. Disinilah aku merasa sangat menyukai dari materi tersebut apalagi tentang pendidikan.

            Setelah itu, aku memilih menjadi guru karena aku tidak kuat kalau kerja dikantoran, apalagi kalau sudah harus mengikuti aturan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Terlebih karena sudah menjiwai di pendidikan. Karena pilihanku ini, banyak sekali teman-teman yang menanyakan: “Kenapa memilih jadi guru? Padahal aku kan Lulusan Hukum, kenapa engga milih di kerja yang gajinya tinggi atau yang sesuai, kan sayang ilmu yang dipelajari selama kuliah”.

            Memang betul juga yang dikatakan teman-temanku bilang dan aku pun menjawab seadanya saja, tidak terlalu serius. Namun, meski begitu, aku suka membagi-bagikan ilmu kepada siapapun dan juga suka kesana-kemari apabila ada kajian-kajian. kembali lagi ke ceritaku, kenapa aku memilih dunia pendidikan? Sebetulan, ada beberapa hal yang membuat aku memilih dunia pendidikan dan suka didalamnya. Diantaranya adalah:

1.   Inspirasi dari 6 guruku sejak SD-SMA

Salah satu yang membuat aku suka dan memilih dunia pendidikan adalah, seperti yang ada pada poin diatas. Yah, karena inilah yang membuat saya memilih menjadi guru. Karena guru adalah gudangnya ilmu dan sebagai orang tua kedua ketika disekolah, dialah yang selalu dekat denganku, meski aku tidak begitu dekat, tetapi dialah yang selalu dekat, perhatian dan sayang kepadaku dan kebaikan dan ketulusan itulah aku selalu simpan dan dikenang sampai saat ini, meski banyak sekali yang aku kenal. Siapakah guru yang saya sebutkan?

a.       Pak Didi Junaidi

Dia adalah guru wali kelasku dari kelas 5-6 SD. Beliau adalah guru yang selalu baik kepadaku dan selalu memberikan motivasi kepadaku ketika aku lagi turun semangatnya. Beliau selain bisa dalam 5 pelajaran (Matematika, Bahasa Indoensia, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS), tetapi mengajari tentang arti semangat belajar, arti semangat untuk terus hidup. Inilah salah satu kenapa saya tetap semangat untuk terus dan terus berjuang untuk menggapai apa yang diimpikan menjadi orang baik.

b.      Bu Ami

Ada juga yang membuat aku suka dengan dunia pendidikan yaitu kehadiran seorang guru tetapi selalu menaruh perhatian kepadaku, sayang padaku dan karena dekatnya beliau kepadaku membuat aku menjadi senang dan bahagia sekali karena merasa diperhatikan. Dia adalah bu Ami. Guru yang sangat cantik, anggun, sholehah dan baik akhlaknya dan sayang ke anak-anak tentunya kepadaku. Meskipun guru les bimbel di tridaya tetapi seakan-akan aku merasa punya ibu yang sayang padaku dan bahkan seperti ibu peri.

Itulah yang membuat aku sangat menyukai ibu Ami, dengan sosok yang sangat baik dan lembut dalam mengajari ke anak-anaknya termasuk kepadaku dan semakin aku mencintai Dunia Pendidikan, meski akhirnya sempat pisah tidak ketemu karena ketika kelas 6 dan kelas 1 SMP tidak ikutan les Bimbel Tridaya. Namun Alhamdulillah bisa ketemu lagi dengan Ibu Ami saat ikutan les Tridaya di kelas 2 dan 3 SMP. Terimakasih Ibu Ami, kau selalu perhatian dan sayang padaku ketika pertema ketemu yang akhirnya saya belajar tentang kepedulian dan kasih sayang ke orang lain.  

c.       Bu Iyam Sari Hayati

Lalu ada juga guru di SMP Negeri 7 tempat aku belajar, dia adalah Ibu Iyam Sari Hayati. Selain guru Biologi, beliau adalah guru BK (bimbingan konseling) yang cantik dan selalu perhatian kepadaku selama ini di SMP Negeri 7, dialah yang selalu membuatku menjadi sangat senang & bahagia. Karena beliau selalu perhatian kepadaku dengan kasih sayang yang tulus selama aku di SMP Negeri 7.  Meski begitu, beliau tidak membanding-bandingkan dengan murid-murid yang lain antara pintar dan bodoh. Serasa seperti ibu sendiri. Hehehe….

Itulah yang membuat aku belajar untuk tidak membanding-bandingkan dengan yang lain ketika pelajaran ataupun ketika berdiskusi dan disinilah aku belajar bagaimana cara menghadapi anak-anak ketika pelajaran dan ketika bicara 4 mata baik ke sesama maupun ke  lawan jenis, serta mengajariku tentang keindahan apapun itu.

d.      Bu Elin

Selanjutnya guru yang faham dengan pelajaran Sosial dan Kenegaraan, beliau adalah guru bimbel di Tridaya, beliau mengajar mata pelajaran IPS dan PPKn kelas 1-3 SMP. Dialah guru bimbel yang tangguh dan baik, beliau mengajariku pelajaran IPS (Ekonomi, Sejarah Geografi) dan PPKn sejak aku masuk bimbel Tridaya dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMP, bahkan sampai lulus. Beliau mengajarkan banyak sekali hal kepadaku, termasuk pelajaran yang disampaikan dikaitkan dengan kondisi dan realita saat ini dan bagaimana kita menyikapi dan mencari solusinya, dan juga selalu sabar dalam mengajari termasuk kepadaku.

            Itulah yang membuat aku semakin semangat dan terus bangkit serta terus belajar, belajar dan belajar. Karena merupakan bagian dari Ibadah. Berkat beliaulah aku bisa menjadi guru IPS dan PPKn kelas 7, 8 dan 9 SMP Daarul Adab tempat aku mengajar dan mendidik anak-anakku. Artinya, ini mejadi cikal bakal aku terus belajar IPS dan PPKn sejak SMP sampai Sekarang dan menjadi seorang guru yang terbaik dimata Allah dan Manusia lainnya, termasuk ke anak-anakku, inipun juga tak lepas dari Bimbel Tridaya yang dimana tempat lesku selama 5 Tahun (SD kelas 4-5, kelas 6 tidak dilanjut. Namun, dilanjut di SMP kelas 1-3). 

e.       Teh Anggun               

Kali ini adalah guru kesayanganku, dialah Teh Anggun, nama lengkapnya Anggun Widiyani. Dia bukan sekedar guru saja, tetapi sahabat dekat, teteh tempat curhat dan juga faham agama. Beliau adalah pengajar Bahasa Jepang di SMA Plus Muthahhari. Meskipun sekolahnya memang ajarannya Syi’ah. Tetapi untuk teteh anggun ini, beliau menolak bahkan menentang ajaran Syi’ah sejak lama selain mengajariku Bahasa Jepang, tetapi tempat aku belajar agama bersamanya.

      Berangkat dari Teh Anggun inilah aku mulai mendalami Agama Islam, meskipun di sekolah sangat bertetangan dengan Islam. Tetapi disini saya belajar lebih dalam Ajaran Islam dan ajaran sesat dan menyesakan lainnya.           

            Itulah kenapa aku memilih untuk terjun ke Dunia Pendidikan, meskipun aku sendiri bukanlah lulusan Dunia Pendidikan atau Lulusan Sarjana Hukum dari Unisba. Tetapi aku mewarisi semangat dari keenam guru ini ditambah aku mengikuti kegiatan seperti mengajar anak jalanan dan mengikuti pelatihan-pelatihan mengajar seperti KMD, KML Gerakan Pramuka, Public Speaking, Master Author, Master Motivator & Trainer Pendidikan dan masih banyak lagi. Namun meski begitu, aku tetap terus belajar untuk menjadi seorang guru teladan.

2.   Generasi muda yang semakin rusak

Kita bisa melihat dari generasi ke generasi kondisi anak-anak muda terutama dengan kondisi hari ini. Yah. Bisa kita katakan generasi muda jaman dulu sangat minim akan teknologi yang canggih, tetapi dalam sifat sopan santun, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda betul betul terasa. Bahkan guru pun dihormati dan ilmu sangat didapat dengan keberkahan berkat doa baik dari orang tua, guru, teman terdekat dan hasil usaha sendiri.

Berbeda dangan generasi muda jaman sekarang. Dimana semua serba ada, baik buku, tulisan, majalan, maupun internet & komputer seperti PC, Laptop, dan semuanya serba ada. Apalagi sekarang sudah banyak fasilitas-fasilitas Wi-fi dimana-mana sehingga semua orang mudah akses. Namun, meski semua sangat mudah untuk di akses, cara dalam pembelajaran semakin berkurang, apalagi bila tidak ada pengontrolan dari kedua orang tua, maka akan akan terbawa arus sehingga anak-anak dapat kecanduan.

Kita lihat saja kasus yang terjadi pada generasi muda sekarang, dimana banyak sekali murid-murid yang berani melawan ke guru, bukannya saling kerjasama antar guru dan orang tua malah guru tersebut dilaporkan karena dianggap melanggar HAM, padahal tujuannya untuk kedusiplinan anak tersebut. Ada juga seperti kebablasana dalam pergaulan sehari-hari seperti seks bebas, penggunaan obat-obat terlarang, tawuran, nonton film tidak senooh, main games yang berlebihan sehingga kondisi anak-anak sekarang menjadi rusak parah.

Itu merupakan cuplikan atau gambaran kondisi generasi yang semakin rusak, bahkan ada yang lebih rusak dari pada itu yaitu, Hilangnya Identitas diri sebagai seorang muslim. Ini murupakan kondisi yang teramat sangat parah. Dimana banyak sekali generasi-generasi mudah serang lebih banyak mengidolakan tokoh-tokoh dari luar negeri baik itu dari dunia perfilman Box Office maupun dari K-Pop yang meracuni generasi muda sekarang bahkan yang lebih parahnya lagi adalah meniru kegiatan dari orang tersebut sehingga identitas sebagai seorang muslim tidak dipedulikan sama sekali dan melupakan sosok yang harus diteladani oleh generasi muslim.  

3.   Ucapan yang tidak bisa terkontrol atau terjaga

Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi banyak sekali informasi-informasi yang mudah diakses tentunya dari Bahasa-bahasa yang gaul yang kurang dimengerti oleh orang-orang. Salah satunya Bahasa-bahasa gaul didalam kehidupan sehari-hari selain Bahasa gaul yang sudah popular sperti la, loe gua, gue. Tetapi lebih dari itu, seperti otw, omg hello, wew, coy dan lain sebagainya. Namun, meski begitu, penempatan Bahasa-bahasa yang gaul harus ditempatkan pada tempatnya karena tidak semua orang menerima kata-kata seperti itu.

Apalagi sekarang ini banyak istilah Bahasa-bahasa yang gaul tetapi isi dan makna yang tersirat sangatlah merusak sekali. Maka disitulah saya merasa terpanggil untuk mendidik anak-akan dengan perkataan yang baik dan benar. Karena saya percaya, setiap perkataan dan doa pasti akan kembali lagi kepada pemiliknya dan saya sebagai guru akan mengajarkan yang baik dan benar.  

4.   Rusaknya Dunia Pendidikan saat ini.

Kerusakan pada Dunia Pendidikan hari ini betul-betul terasa, betapa tidak? Kerusakan dunia pendirikan ini bukan dari kondisi sekolah dan/atau guru dan/ atau siswa. Melainkan sistem pendidikan yang setiap tahun selalu berganti sehingga para guru dan murid pun menjadi sangat kesulitan untuk belajar dengna efektif dan efisien baik di sekolah maupun di rumah sehingga benar perkataan ini selalu ada, “Ganti Menteri, Ganti Sistem”. Karena setiap ganti menteri pasti selalu ganti kebijakan kurikulum yang diterapkan di sekolah dasar dan menengah.

Ditambah lagi pendidikan kita ini oriantasinya adalah lebih kepada nilai tertinggi dan bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga nilai-nilai pendidikan yang sesungguhnya menjadi hilang dan tidak ada arah. Padahal tujuan pendidikan yang sesungguhnya bukan sekedar mengejar nilai tinggi dan cari pekerjaan semata, tetapi lebih dari pada itu. Yaitu melahirkan orang-orang yang beriman, bertakwa dan beramal sholeh. Itulah tujuan dari pendidikan di Indonesia sebagaimana dalam UU Pendidian. Akan tetapi, pada kenyataanya dalam pelaksanaan di lapangannya jauh dari apa yang diharapkan.

Inilah merupakan tantangan tersendiri bagi aku memilih dunia pendidikan. Tetapi sekali melangkah, Insya Allah tidak akan mundur kebelakang demi melahirkan generasi-generasi yang beriman dan bertakwa.  

5.   Nilai-nilai Islam harus dimasukan.

Ini pun akhirnya menjadi tugasku, misiku, dan bahkan menjadi jalan dakwahku ketika memilih manjadi guru di dunia pendidikan. Yah, memasukan nilai-nilai Islam dalam pelajaran yang aku emban seperti mapel IPS, PPKn, Sejarah dan Pramuka. Karena bagiku, mapel ini sangat vital sekali ketika berhubungan dengan masyarakat luas. Banyak sekali buku-buku dalam mapel ini nilai-nilai Islamnya sangat sedikit bahan hampir tidak ada dan yang lebih parahnya lagi isinya bukan lagi kepada pencerdasan, melainkan mengarah kepada pembodohan.

Akhirnya ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku bagaimana caranya memasukan nilai-nilai Islam dan bahkan merupakan Islamisasi, dimana hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai Islam dimasukan pada mapel tersebut. Ini memang menjadi tugasku yang sangat berat terlebih semenjak mengikuti Kuliah PAI dari PIMPIN Bandung harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tulisan ini dibuat dari tahun 2016 dan selesai pada tahun 2021

Minggu, 30 Oktober 2022

Santri Untuk NKRI: Harapan dan Kenyataan Santri Tangguh di Tahun 2045

Sejarah Singkat Hari Santri

            Berangkat dari kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia mennyataak diri sebagai negera Merdeka yang berdaulat. Terlebih prangkat-prangkat negara sudah dibuat. Dimulai dari pembentukan Dasar Negara, UUD, Pemerintahan Daerah (Provinsi), keamanan rakyat dan masih banyak lagi. Dimana dibuat oleh BPUPKI, Panitia 9, dan PPKI. Maka, Indonesia sudah siap menentukan nasibnya sendiri.

            Namun, baru saja menikmanti manisnya kemerdekaan (belum genap 1 bulan). Indonesia mendapatkan ujian dan cobaan berat. Dimana Pasukan Sekutu yang di dalam nya ada tentara Belanda dengan Satuan AFNEI mendarat di Jakarta dengan tujuan untuk melucuti senjata Jepang, mengurus tahanan perang. Namun, pihak Sekutu berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia yang baru saja merdeka. Pemerintah Indonesia menyetujui akan hal itu, tetapi dengan catatan tidak mengotak-ngatik status kemerdeakaan Indonesia. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

            Bung Karno Galau, beliau menilai bila terjadi pertempuran maka secara matematis kalah jauh, terlebih persenjataan mereka lengkap dan keahlian militer lebih memadai. Atas Usul dari Soedirman (masih menjadi Panglima Divisi) mengusulkan ke Bung Karno untuk mengirim Utusan ke Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Untuk menemui KH. Hasyim Asy’ari dan menanyakan Fatwa apa hukum Jihad membela negara yang notabene bukan negera Islam.

            K.H. Hasyim Asy’ari mengumpulkan Ulama NU se-Jawa dan Madura untuk membahas persoalan ini, bukan hanya itu, Meliau meminta untuk para Pemimpin Kiyai NU untuk melaksanakan Sholat Istikharah, Salah satunya Kiyai Abbas dari Buntet, Cirebon, Jawa Barat. Tepat tanggal 21 Oktober 1945, Seluruh delegasi Kiyai NU se-Jawa dan Madura berkumpul di kota Surabaya dan Rapat dipimpin langsung oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahabb Hasbullah. Setelah diskusi yang cukup panjang dan mendengarkan hasil Istikharah dari Para Pemimpin Kiyai NU, maka besok siangnya tanggal 22 Oktober 1945 lahirlah rumusan penting yang dikenal dengan “Resolusi Jihad NU”, yang berisi:

“Hukum membela negera dan melawan penjajah adalah Fardhu A’in, bagi setiap muslim yang berjuang lalu terbunuh maka disebut mati syahid. Apabila ada pihak Indonesia yang sengaja membocorkan rahasia kepada musuh maka wajib hukumnya untuk dibunuh”.

            Dokumen Resolusi Jihad inipun akhirnya disebarluaskan ke seluruh pesantren-pesantren di Jawa dan Madura, tak terkecuali ke Komandan Hizbullah. Dari Lahirnya Resolusi Jihad NU ini akhirnya menjadi cikal bakal Hari Santri.

Apakah Kita adalah Santri?

Membahas ini apakah kita santri atau bukan. Maka kita akan membuka arti Santri dalam Arti Sempit dan Arti Luas. Santri dalam arti sempit adalah santri yang memang belajar pada Pondok-pondok pesantren yang talaqi/belajar langsung dengan Kiyai dan memang mondok/tinggal dipesantren itu. Itulah santri dalam artian sempit, hanya sebatas lingkungan Pesantren.

Sedangkan Santri dalam arti luas adalah bukan yang hanya mondok/tinggal di lingkungan santri saja, tetapi lebih dari pada itu. Bisa dari Sekolah-sekolah Islam Terpadu yang Boarding School, maupun Full Day School, Ikut mengaji dan belajar Ilmu agama dengan para Ustadz dan/atau Kiyai seperti Belajar Tahsin, Tahfiz, mengikuti Program Kajian/Pengajian setiap pekannya sama Ustadz dan/atau Kiyai (Kita Kenal Santri Kalong, Santri Pulang-Pergi yang memang tidak tinggal di lingkungan Pesantren). Itulah santri dalam artian luas, karena dilihat berbagai faktor sesuai perkembangan Zaman. Nah yang jadi pertanyaan, diposisi manakah kita sekarang? Semoga kita salah satu dari keduanya atau bahkan keduanya.

Tantangan Santri dimasa Sekarang dan Akan Datang   

Tantangan Para Santri yang ada di Indonesia saat ini memang banyak sekali dan ini sudah menjadi rahasia umum. Bila tidak segera disikapi maka tak bisa dipungkiri jumlah dan semangat santri semakin hari akan semakin habis. Diantaranya adalah:

1.      Kurangnya Pemahaman dan Pendalaman terhadap IPTEK

Ini merupakan tantangan yang terbesar dalam Dunia Pesantren. Karena dalam Pesantren sangat sedikit sekali yang mempelajari dan menadalami Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Memang Ilmu tentang IMTAQ (Iman dan Taqwa) harus ditonjolkan bagi setiap santri, tetapi dalam pengetahuan dan teknologi. Para Santri tidak mempelajari dan mendalami ilmu tersebut. Sehingga banyak sekali para santri yang sudah lulus dari Pondok Pesantren tanpa dibekali Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sedangkan masalah dan krisis terbesar pada Umat ini adalah Krisis Ilmu.

Terlebih sekarang sudah memasuki Era 5.0, dimana seluruh kegiatan banyak yang mendukung digitalisasi. Jika para santri tidak dibekali ilmu ini, maka bisa dikatakan akan seterusnya ketinggalan jaman dan tidak ada yang mau menjadi santri.

2.      Orientasi Para Santri hanya berfokus untuk menjadi Pengusaha Saja, tetapi sedikit untuk kaderisasi menjadi Ulama dan Cendikiawan.

Berorientasi untuk menjadi Pengusaha memang tidak ada salahnya. Karena memang setiap santri memang harus memiliki Jiwa Enterprener Ship agar bisa membantu banyak orang dan juga diri sendiri. Namun sangat disayangkan, diantara banyak yang ingin menjadi pengusaha, sangat sedikit untuk menjadi sosok Ulama. Padahal, Pesantren salah satu kaderisasi untuk melahirakan para Ulama dan Cendikiawan. Tetapi sangat sedikit untuk diperhatikan.

Sehingga yang terjadi saat ini, negara kita kekurangan sekali sosok Ulama dan Cendikiawan yang ahli pada bidangnya. Ditambah para Ulama yang ada saat ini baik di Pesantren maupun di tempat pengajian sudah sepuh/lanjut usia dan tidak ada yang meneruskan dan apabila sosok Ulama wafat, tidak ada generasi yang meneruskan dan ini sangat berbahaya bila tidak ada yang meneruskan perjuangan ulama.

3.      Terjebak pada percintaan antar santri laki-laki dengan santri perempuan

Kejadian seperti ini sudah tidak aneh lagi pada dunia pesantren. Meski tempat Pondok Pesantren baik dari segi pembelajaran, pengajian maupun sampai tempat tinggal sudah jelas terpisah jauh. Tetapi tetap saja ada kejadian-kejadian seperti ini. Apa yang menyebabkan itu terjadi? Sebetulnya sederhana, karena di dunia Pesantren memang sangat dibatasi interaksi antara santri laki-laki dan santri perempuan ditambah ada beberapa yang saling suka sama lain tetapi kebablasan. Sehingga terjebak pada percintaan dan tak sedikit yang ketahuan dan dihukum oleh pengasuh pesantren.

Sebetulnya hal yang seperti ini bisa diatasi apabila sesama santri bisa menjaga pandangan dan juga menjaga dari cinta yang tidak halal dan thoyibah dan juga adanya pengawasan oleh para pejaga, ustadz dan ustadzahnya untuk para santri laki-laki dan santri perempuan.

4.      Kurangnya di didik untuk menjadi Santri Pejuang

Santri pada awal Kemerdekaan Indonesia, selalu berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan sejak Resolusi Jihad hingga akhir tahun 1950. Selain itu juga banyak para santri menjadi pejuang di bidang pemikiran dan pergerakan yang menjadi inspirasi Umat Islam saat ini. Bahkan ada santri yang berjuang berdakwah di pelosok-pelosok terpencil di Indonesia agar Islam tetap bertahan dan tegak ditengah-tengah gelombang missionaris saat itu untuk melakukan kristenisai.

Namun untuk kondisi Santri pada hari ini, masih sedikit untuk di didik menjadi pejuang seperti dakwah ke pelosok-pelosok terpencil, minimnya pengetahuan akan kebangsaan, kurang dilatih dalam  perjuangan Amar Makruf Nahyi Munkar dan Jihad Fii Sabilillah bagi Agama, Bangsa dan Negara, kalaupun itu ada tetapi tidak terlalu signifikan. Sehingga ketika ada permasalahan bangsa, para santri tidak tahu dalam menyelesaikan permasalahan Umat, seperti krisis yang dihadapi negeri, kemerosotan aqidah, moral serta kurang perhatian akan bahaya Kristenisasi.

5.      Faham dan/atau Aliran sesat yang mulai menggerogoti pesantren dan santri

Tantangan saat ini dan ke depan yang tidak kalah mengerikan adalah banyaknya pesantren-pesantren yang sudah terkena virus-virus faham dan/atau aliran sesat yang akhirnya mengakar ke para santri-santri. Inilah yang saat ini terjadi dan akan sangat berbahaya dimasa yang akan datang. Dimana Pesantren dan/atau sekolah-sekolah Islam  adalah Benteng terakhir Dunia Pendidikan saat ini dan kedepan yang akan melahirkan para santri-santri yang hebat, tangguh pejunag dalam menegakan Amar Makruf Nahyi Munkar dan Jihad Fii Sabilillah bagi Agama, Bangsa dan Negara tercinta ini. Karena adanya faham-faham atau aliran sesat yang menggerogoti pesantren dan para santri akhirnya konsep pendidikan di pesantren menjadi rusak dan pola pikir para santri menjadi kacau.

Faham-faham yang menyesatkan tersebut adalah Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme, Matrealisme, Komunisme, Ekstrimisme dan masih banyak isme-isme yang menyesatkan lainnya. Sedangkan aliran sesat diantaranya adalah Syi’ah, Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Qadariyah, LDII dan masih banyak lagi aliran sesat lainnya. Faham-faham dan aliran sesat ini tentu sangat berbahaya dan ancaman bagi Agama, Bangsa dan Negara tercinta ini. Karena selain bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Ijtihad Para Ulama, tetapi juga bisa meruntuhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa tercinta ini.

Yang Harus Disipakan dalam Menyongsong Santri Tangguh di Tahun 2045  

            Untuk menjadi Santri yang Tanguh dalam menyongsung Indonesia Beradidaya di tahun 2045. Maka Setiap Pesantren dan/atau Sekolah-sekolah yang notabene adalah sekolah Islam Terpadu baik itu Boerding maupun Full Day, harus mempersiapkan itu semua. Apa sajakah itu?. Ini yang akan disampaikan.

1.      Penguatan IMTAQ dan IPTEK harus berdampingan

Hal ini tentu harus dipelajari baik santri di Ponpes maupun Sekolah Islam Terpadu. Karena selain mengajarkan Ilmu Akhirat, Ilmu Dunia pun perlu dipelajari dan diamalkan kelak dikemudian hari setelah lulus. Tujuan mempelajari dan mendalami IPTEK agar para santri tidak Gaptek (Gagap Teknologi) yang semakin hari semakin modern, sedangkan tujuan mempelajari dan mendalami IMTAQ sudah jelas. Yaitu mengimbangi IPTEK yang sedang dipelajari dan bisa diselaraskan dengan konsep-konsep Islam.

Sekarang ini, Alhamdulillah setiap Ponpes dan Sekolah Islam Terpadu sudah banyak yang mempelajari dan menyeimbangi antara Ilmu IMTAQ dan IPTEK, bahkan ada sekarang Ponpes yang sudah moderen seperti Gontor, Tebu Ireng, Daar El-Qolam, Darunnajah,   Asy Syafi’iah Nahdatul Wathon, Al-Mukmin, Husnul Khotimah dll. Lalu Sekolah Islam Terpadu yang sudah moderen baik Boarding maupun Full Day pun sudah mulai banyak bermunculan. Artinya punya kesempatan besar dalam mendidi para santri yang ahli di IMTAQ dan IPTEK.

2.      Adanya Kaderisasi menjadi Ulama dan Cendikiawan pada Bidangnya serta menjadi Pejuang.

Tujuan adanya Pesantren dan Sekolah-sekolah Islam terpadu lainnya. Tak bukan ialah mencetak para Ulama dan Cendikiawan pada bidangnya serta menjadi Pejuang. Karenanya sudah saatnya untuk fokus melahirkan sosok yang seperti itu, terlebih jumlah Ulama dan Cendikiawan saat ini, semakin hari semakin berkurang. Bahkan bisa dikatakan akan habis semua ketika tidak ada yang mau meneruskan perjuangan para Ulama dan Cendikiawan yang ahli dalam bidangnya. Kalau sudah habis maka tidak akan ada lagi yang akan memperjuangkan Islam dan tidak akan ada lagi Pesantren dan Sekolah Islam Terpadu dan Islam hanya tinggal nama saja. Terlebih Faham dan /atau aliran sesat semakin massif dalam penyebaran di Indonesia, begitu juga dengan Kristenisasi yang semakin gencar tiap tahuannya ditambah gelombang PKI (Komunis) yang mau bangkit kembali untuk balas dendam dan menghabisi orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka.

Karenanya, Perlu para santri untuk di didik dan dilatih selain menjadi Ulama dan Cendikiawan  yang ahli pada bidangnya tetapi juga menjadi pejuang dalam membela agama bangsa dan negara tercinta kita. Bagaimana cara mendidiknya dan penyalurannya? Setiap Pesantren dan Sekolah Islam Terpadu pasti punya wadahnya masing-masing seperti ada kegiatan tambahan seperti Pramuka, Rohis, Paskibra, Literasi, Kajian/Pengajian tiap pekan, Bela Diri, Panahan, Berkuda, Berenang, Diskusi antar santri. Dengan demikian akan terbentuk karakter dan ciri khas setiap santri dan setelah lulus sudah siap dalam menegakan Amar Makruf Nahyi Munkar dan Jihad Fii Sabilillah bagi Agama, Bangsa dan Negara tercinta ini.

3.      Tetap berwirausaha

Tidak salah seorang santri yang telah lulus menjalakan wirausaha atau bahkan menjadi pengusaha. Karena memang sudah tentu agar terhindar dari yang namanya meminta-minta. Tapi tetap, jangan sampai terlalu fokus pada itu saja. Harus diimbangi dengan ilmu yang sudah kita pelajari untuk diamalkan. Seperti berdakwah dan berwirausaha harus seimbang, juga mengajari bagaimana berwirausaha menghindari dari praktik Riba, Kecurangan dalam Usaha dan Sombong dan Pamer.

Selain untuk memenuhi kebutuhan Hidup diri dan Keluarga tetapi juga bisa disalurkan untuk kegiatan-kegiatan dakwah lainnya seperti bersedekah, membiayai para pegawai dan menolong orang-orang yang tidak mampu. Artinya yang bergelut di dunia usaha memang Santri harus kaya agar bisa menolong banyak orang di sekitar.

4.      Jaga Pandangan, bila sudah siap lahir batin maka segera halalkan

Yang mananya percintaan, pasti akan selalu ada pada diri manusia. Tak terkecuali para santri laki-laki dan santri perempuan, akan selalu ada dimanapun itu berada. Cuma yang harus dilakukan sebisa mungkin tetap untuk menjaga pandangan yang tidak halal. Jika ada salah satu diantara atau bahkan keduanya saling suka. Tapi lebih baiknya doakan dalam setiap beres sholat terutama selepas sholat tahajjud. Bila kelak berjodoh Alhamdulillah, bila tidak berjodoh tidak berkecil hati. Asalkan harus siap lahir batin untuk jenjang yang serius, yaitu pernikahan. Agar bisa bernilai ibadah dan menjadi penyatu tali silaturahim dan adanya regenerasi.

Kita sering melihat banyak santri laki-laki dan santri perempuan kena hukuman seperti disiram comeran di depan seluruh santi lainnya, ada juga diarak keliling pesantren dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, wajib untuk menjaga pandangan dan menjaga syahwat agar tidak terjerumus kedalam hal-hal yang diharamkan dalam Agama Islam.

5.      Bersama-sama untuk menagkal faham dan/atau aliaran sesat ditubuh Pesantren dan Sekolah Islam Terpadu

Faham dan/atau aliran sesat yang ada di Indonesia semakin hari semakin memprihatinkan dan sudah mulai berani menunjukan diri di masyarakat untuk menyesatkan masyarakat dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Oleh karena itu, penting untuk memerangi faham dan/ atau aliran sesat yang ada di Negeri ini, tapi sebelum di masyarakat, harus dari Pesantren dan Sekolah Islam Terpadu terlebih dahulu. Karena penyebarannya ternyatan sebagaian besar dari situ. Meski tidak semua, tetapi tetap harus menjadi perhatian kita semua untuk selalu mawas diri.

Karena faham dan/atau Aliran sesat ini lebih kepada perang pemikiran, maka harus ditangani oleh pemikiran juga. Tidak bisa dengan kekuatan fisik, karena jusru akan lebih fanatik dengan faham dan/atau aliran sesat. Harus ada dialog antara kedua belah pihak untuk menagkal hal tersebut untuk kembali ke jalan yang benar.

Penutup

            Perjuangan Santri untuk NKRI ini masih panjang. Banyak perjalanan yang berliku dan berduri. Terlebih menjadi Santri Tangguh untuk mempersiapkan Indonesia Beradidaya di tahun 2045 ini akan banyak sekali tantangan demi tantanga yang harus dijalanni. Karena itu berupa ujian untuk Santri dan Negara tercinta kita ini. Tetapi Insya Allah akan mendapat manisnya perjuangan selama kita berada pada jalan yang lurus sesuai tntunan dalam Al-Quran, As-Sunnah dan Ijtihad para Ulama.

            Semoga Para santri menjadi garda terdepan dalam mempertahankan NKRI tercinta kita ini dari segala ancaman baik dari luar maupun dari dalam serta senantiasa terus menjadi yang terbaik dalam diri. Agar para santri menjadi solusi dalam berbagai masalah yang sedang dihadapai. Aamiin. Wallahu A’lam bish Shawwab.

 

Penulis: Muhammad Iqbal Nur Hakim, S.H., MGT., C.MAI., C.PS., C.MMI., C.STPI

“Tulisan ini dibuat dalam rangka Hari Santri 2022”

           

 

 

      

   

     

Rabu, 12 Mei 2021

Perbedaan Antara Lebaran Dengan Idul Fitri & 1 Tahun Bersama Pandemi

 (Oleh Muhammad Iqbal Nur Hakim, Master Islamic World & Scout)

Ini tulisan ringan dari saya pribadi tentang permasalahan yang timbul di masyarakat. Umumnya masyarakat dari kelas menengah kebawah belum tahu banyak tentang arti/ makna sebuah Lebaran atau Idul Fitri. Saya sebagai penulis hanya ingin berbagi informasi akan hal ini.

Apa sih Perbedaan Antara Lebaran dengan Idul Fitri yang selama ini kita ketahui? Mari kita bahas bersama.

Lebaran hanya di peruntukan oleh semua orang atau nasional, jadi siapa pun baik muslim maupun non muslim / baik orang yang menjalankan puasa ataupun tidak puasa bisa merayakan Lebaran. Beda halnya dengan makna atau arti Idul Fitri, Idul Fitri hanya dimiliki bagi orang-orang muslim yang menjalankan Ibadah-ibadah ramadhan / puasa.

 Satu Tahun Bersama Pandemi COVID-19

Alhmdulillah kita diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan Bulan Ramadhan dan Idul Fitri kembali. Kali ini, bukan pada kondisi-kondisi normal. Yah, sudah 1 Tahun kita merayakan Hari yang Fitri ini pada masa Pandemi. Dimana seluruh kegiatan-kegiatan kita baik aktivitas kerja dan Ibadah dibatasi. Terlebih ketika awal Pandemi mulai melanda di Indonesia, Bulan Ramadhan yang dijalani seakan bukan Bulan Ramdhan dan Idul Fitri seakan bukan Idul Fitri. Karena Pada Tahun yang lalu. Semua Kegiatan harus berada didalam Rumah, begitupun juga dengan Ibadah, termasuk Sholat Tarawih dan Sholat Id. Bahkan Sampai Silaturahim pun harus menggunakan media daring. Meski begitu tetap harus disambut dengan Suka Cita.

Namun untuk Tahun ini, Sudah mulai ada penerapan Protokol Kesehatan, sehingga dalam aktivitas apapun harus sesuai dengan standar Protokol Kesehatan sesuai Imbauan dari Pemerintah melalui Satuan Tugas COVID-19. Maka, Masyarakat pun untuk Tahun ini, dalam melaksanakn Sholat Tarawih dan Sholad Id pagi nanti harus sesuai dengan Aturan Protokol Kesehatan. Meski begitu, semua kegiatan dibatasi 50% dikarenakan Wabah COVID-19 ini belum berakhir dan jumlah korban yang positif terus bertambah meski sudah banyak yang sehat, tetapi korban yang meninggal terus bertambah sehingga tetap harus antisipasi dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini.

Setelah kita ditinggalkan oleh Bulan Suci Ramadhan yang penuh berkah dan penuh ampunan ini. Tanpa terasa, kita sudah memasuki Bulan Syawal, dimana bulan tersebut masih hangat-hangatnya setelah bulan Ramadhan berakhir dan nuansa saling bersiraturahim kepada siapa pun.

Mari kita manfaatkan bulan Syawal ini sebaik-baiknya untuk saling bersilaturahim dan saling memaafkan kepada sanak keluarga, kerabat, sahabat dan lain-lain. Semoga kita selalu memperkuat tali silaturahim kepada siapa pun dan senantiasa memperbanyak amal yaumi setelah kita meninggalkan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini. Barakallahu Fikum. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah.

Taqabalallahu Minna wa Minkum Siyamanna wa Siyamakum.

Minal Aidzin Wal Faidzin.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

*Di selesaikan di Desa Mundu, Cirebon. 12 September 2011. Di Revisi di Kota Bandung. 12 Mei 2021

Senin, 28 Desember 2020

Menghidupkan Kembali Semangat Anak-anak dalam Belajar dan Sekolah Di masa Pandemi

 Oleh: Muhammad Iqbal Nur Hakim (Master Islamic World & Scout)

Sejak Wabah COVID-19 ini melanda keseluruh Dunia dari Awal Tahun 2020 hingga mendekati Akhir Tahun 2020. Banyak sekali kegiatan-kegiatan yang harus dirumahkan baik pekerjaan, sekolah, kuliah dan lain sebagainya. Begitupun di Indonesia. Karena tujuannya adalah memutus mata rantai penyebaran Wabah COVID-19 ke semua orang.

Meski penyebaran Wabah COVID-19 ini semakin hari semakin parah, banyak sekalai korban jiwa yang berjatuhan karena kerkena wabah ini, masyarakat tetap saja melakukan aktivitas di luar rumah namun tetap menjalankan Protokol Kesehatan. Yang menjadi Fokus dalam tulisan ini adalah tentang kondisi anak selama pembelajaran Online.

Berangkat dari tanggal 15 Maret 2020 adalah awal KBM Daring

Sebagaimana yang kita ketahui, semenjak wabah COVID-19 ini melanda Indonesia sejak Awal Maret 2020. Pemerintah pada saat itu masih belum terlalu intens dalam penanganan. Karena bagi Pemerintah Indonesia sendiri hanya sebatas wabah biasa yang mengenai manusia dengan cara berpindah dari satu ke yang lain.

Namun, sejak kena 2 orang yang dinyatakan Positif COVID-19. Kondisi Negara Indonesia sudah mulai siaga 1. Tetapi karena penanganan yang terlambat mengakibatkan wabah COVID-19 sendiri dapat tersebar dengan cepat sehingga pada tanggal 15 Maret ditetapkan untuk semua kegiatan Belajar mengajar baik tingkat TK sampai tingkat Kuliah harus mengadakan secara Online. Bukan hanya itu saja. Para guru, dosen, pekerja dan pegawai kantoran pun pun juga ikut terdampak. Sehingga segala sesuatu harus dilakukan dengan sistem daring atau online.    

Terlebih Pemerintah sendiri sebetulnya sudah ada wacana bahwa konsep pembelajaran sekolah dan perkuliahan akan dilakukan melalui digital. Dimana orang-orang tidak perlu lagi untuk dating ke sekolah dan ke kampus. Cukup melalui virtual saja sudah ada. Maka sejak bulan maret inilah akhirnya segala sesuatu baik belajar bahkan sampai belanja pun dilakukan secara daring atau online dengan aplikasi-aplikasi yang mendukung prangkat seperti HP maupun Laptop.

 

Kondisi Belajar Online dari Maret-Juni

Selama Pembelajaran daring atau online di awal ini. Kondisi anak-anak dan mahasiswa masih belum terbiasa, begitupun juga dengan para guru dan dosen. Karena ini baru pertama kaliannya kegiatan belajar dilakukan dengan online yang biasanya mengajar dengan tatap muka ini diganti dengan daring atau online.

Meski begitu, murid guru dan dosen berusaha untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi seperti ini. Mengingat kondisi penyebaran wabah COVID-19 memakin harus semakin bertambah. Maka materi yang diajarkan berupa penugasan-penugasan yang diberikan oleh guru dan dosen sesuai dengan materi yang diajarkan selama pembelajaran daring atau online.

Kondisi Belajar Online dari Juli-Desember

Memasuki Tahun Ajaran Baru 2020/2021. Kondisi pembelajaran kali ini sungguh sangat memprihatinkan. Karena disini sudah mulai ada titik jenuh baik pada kondisi anak-anak, orang tua maupun guru dan dosen. Karena selain memasuki tahun ajaran baru, kondisi sekolah belum boleh dibuka terlebih penyebaran wabah COVID-19 semakin hari semakin berambah parah.

Terlebih yang baru lulus TK, SMP, SMA bahkan sampai masuk Perguruan Tinggi yang biasanya ketemu sama teman-teman baru, menghirup suasana baru disekolah dan kampus dan mengikuti kegiatan masa orientasi. Kini harus tetap dirumah demi mejaga keamanan dan keselamatan agat tetap dirumah dan tidak berkerumun.

Sehingga banyak sekali yang baru –baru Lulus TK, SD dan SMP memilih untuk tidak melanjukan sekolah karena kondisi masih seperti ini, sudah kehilangan semangat sekolah lagi dan tidak sedikit yang sudah lulus SMP memilih untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan. Begitu pun juga yang baru lulus SMA tidak sedikit yang akhirnya setelah lulus memilih untuk menikah dengna pacaranya dan setelah menikah memilih untuk bekerja dan tidak meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Kondisi Psikis Anak, Orang Tua, Guru & Dosen selama Pembelajaran melalui daring atau Online

Dalam kondisi seperti ini, pastinya anak-anak sudah mengalami depresi dan setress karena selain tugas-tugas yang begitu menunmpuk, juga membuat anak-anak kehilangan semangat untuk belajar kembali sehingga banyak sekali tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guru di sekolah tidak dikerjakan. Apalagi untuk anak-anak yang usia TK dan SD, malah ornag tua yang ikut membantu anaknya mengerjakan.

Orang tua dan Guru pun tidak kalah setressnya, karena ornag tua harus bagi-bagi waktu untuk pekerjaannya yang harus di rumah dengan mengajari anaknya yang sedang belajar online agar bisa terpantau. Guru juga ikut bingung bagaimana caranya agar murid-murid yang diajarkan tetap bisa mengerjakan tugas sebagai bentuk kehadiran dan mempengaruhi di raport semester nanti. 

Begitupun juga dengan mahasiswa yang sedang kuliah. Mereka pun betul-betul setress ketika banyaknya tugas yang diberikan oleh pada dosen-dosennya setiap pertemuan. Tetapi yang membedakan untuk para mahasiswa masih bisa terus mengikuti bagaimana agar bisa kuliah meski harus cara daring atau online.

Sangat Mempengaruhi Kegiatan Belajar Pengembangan diri di Organisasi baik di Sekolah maupun Kampus

Tentu sejak diberkalukan tanggal 15 Maret 2020 semua kegiatan organisasi baik dari sekolah maupun perkuliahan akhirnya terpakasa harus dibatalkan secara mendadak dan tidak boleh ada kegiatan kumpul-kumpul meskipun hanya sebatas rapat. Karena semua kegiatan yang bersifat kerumunan itu dilarang oleh pemerintah demi mencegahnya penyebaran wabah COVID-19.

Maka sejak saat itu semua kegiatan organisasi baik di sekolah maupun kampus harus dilakukan secara daring atau online. Maka sejak saat itu Organisasi di Sekolah dan Kampus betul betul vakum karena tidak ada kegiatan dan melarang adanya kegiatan apapun baik disekolah maupun dikampus sehingga selama hampir 1 tahun ini betul-betul putus generasi dalam kegiatan dan lain sebagainya.

Mengapa Pemerintah Masih belum Boleh membuka Sekolah dan Kampus?

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pemerintah tidak mau disalahkan apabila sekolah dan kampus dibuka ditengah wabah yang semakin parah dan pihak Sekolah dan Kampus seluruh Indonesia pun tidak mau mengambil resiko akan hal ini dikhawatirkan ada cluster baru dalam penyebaran wabah COVID-19 ini. Maka pihak sekolah pun akhirnya berusaha untuk mencari aman dalam hal ini, terlebih izin untuk sekolah dan kuliah belum dibolehkan tatap muka apabia dibuka dan ada cluster baru maka pihak sekolah dan kampun akan pertama kali disorot dan di salahkan akan kejadian ini.

Sistem Belajar secara Luring, Salah satu cara Efektif menghilangkan kejenuhan

Karena kondisi anak-anak sudah mulai ada kejenuhan, maka beberapa sekolah pun mengadakan rapat bersama guru-guru yang dimana konsep membelajaran selama pendemi wabah COVID-19 ini dilakukan dengan sistem luring. Konsep membelajaran ini pun dilakukan demi menghilangkan kejenuhan selama belajar dan anak-anak bisa ceria kembali dengan bertemu dengan teman-teman lainnya yang dimana selama bulan Maret – Juli mereka selalu dirumah tanpa aktivitas dan hiburan apapun. Maka dengan diadakan konsep pembelajaran secara luring selama Pendemi ini bisa membangkitkan seamangt belajar dan bersekolah kembali.

Kondisi pembelajaran secara luring ini memang didukung oleh Dinas pendidikan setempat, dan ada juga dilakukan di sekolah. Akan tetapi, tidak semua dilaksanakan secara sererntak, karena masih ada orang tua yang khawatir karena penyebaran wabah masih berlanjut, begitu pula dengan sekolah-sekolah. Tidak semua sekolah mengizinkan dengan mengadakan secara luring tergantung dari Dinas pendidikan setempat.

Meski konsep membelajaran luring ini tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar dan tidak terlalu efektif. Tetapi dengan diadakan luring meski hanya 2-3 hari dan waktunya dibatasi sampai dhuhur. Masih ada sedikit harapan untuk membangkitkan semangat anak-anak untuk belajar bersekolah meski dengan kondisi yang serba terbatas dan dalam kondisi darurat.

Terlebih banyak sekali pelatihan-pelatihan untuk para guru dalam pembelajaran baik secara daring maupun secara luring pasti para guru yang mengikuti pelatihan tersebut sudah tahu bagaimana cara mengajara yang tepat meski tidak sempurna sekali.

Menghidupkan kembali kegiatan Organisasi pengembangan diri agar tidak putus generasi

Sejak tanggal 15 Maret 2020, seluruh kegiatan organisasi baik tingkat sekolah maupun kampus dilarang untuk diadakan melainkan melalui daring atau online atau kegiatan sosial. Namun, sejak awal Ramadhan beberapa organisasi akhirnya berusaha untuk tetap aktif meskipun sangat terbatas. Maka, momen seperti inilah yang dilakukan oleh semua organisasi baik tingkat sekolah maunpun tingkat kampus untuk melaksanakan kegiatan Bakti Sosial ke daerah-daerah yang terdampak wabah COVID-19. Beberapa organiasi ini pun selain melaksanakna baksos, tetapi juga turut andil untuk membantu para petugas dalam penanganan bencana wabah COVID-19 seperti pembagian masker, penyemprotan dispenta ke seluruh sekolah, kampus, perkantoran, mengkampanyekan Protokol kesehatan semua warga dan maih banyak lagi.

Langkah yang diambil organisasi-organisasi tingkat sekolah maupun kampus mendapat apresiasi baik oleh Satgas COVID-19 dan Pemerintah setempat dalam menangangani bencana wabah COVID-19. Sehingga Pemerintah Setempat bekerja sama dengan Lembaga setempat membuat pelatihan kerelawanan untuk Penanggulangan Bencana COVID-19 ini disetiap daerah di Indonesia. Untuk terhindar dari putus generasi dalam berorganisasi, banyak kegiatan-kegiatan organisasi baik tingkat sekolah maupun tingkat kampus dengan kegiatan “Webinar”. Baik dengan media WA, Line, Telegram, maupun Google Meet dan Zoom Meet. Bahkan setiap rapat dan kegiatan bahkan sampai pelatihan, pelantikan dan wisuda pun berbentuk daring atau online dengan perangkat aplikasi yang mendukung di HP dan Laptop. Dari bulan Oktober hingga Desember ini, boleh mengadakan kegiatan tatap muka tetapi sesuai dengan protokol kesehatan yang betul-betul terjamin serta sudah mendapatkan izin dari Sekolah, Satgas dan Pemerintah setempat. Alhamdulillah meskipun tidak semua mendapat izin untuk tatap muka, tetapi masih bisa tetap berkarya meski ditengah-tengah Wabah COVID-19 yang sampai hari ini bertambah parah.

Bagaimana bisa sekolah dibuka kembali, apakah sudah siap?

Banyak sekali sekolah-sekolah yang melakukan persiapan apabila sudah dimulai dengan tatap muka. Mulai dari tempat cuci tangan, termogan, satitizer, sabun masker kacamata penghalang dan banyak hal lainnya. Semua dilakukan demi persiapan bila mana pemerintah sudah membolehkan kegiatan Belajar tatap muka dan pastinya harus melalui izin yang sangat ketat dari Satgas COVID-19, Dinas Pendidikan dan Pemerintah setempat. Bahkan sampai ada simulasinya.

Melihat dari ini, sebetulnya baik sekolah maupun kampus sudah melakukan uji kelayakan boleh tatap dan sudah siap dari jauh-jauh hari. Namun meski begitu, tetap melihat dari situasi daerah penyebaran wabah COVID-19 itu sendiri. Karena tetap harus dipantau dan di awasi langsung agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Seandainya jika masih dilarang sampai Juni 2021 apa yang harus dilakukan?

Melihat dari situasi sekarang. Kita harus akui penyebaran wabah COVID-19 di berbagai daerah setiap hari selalu bertambah dan tidak ada pengurangan secara singnifikan bahkan semakin hari bertambah parah. Pemerintah pun masih bingung apakan sekolah dan kampus akan dibuka atau tidak. Bila dibuka ditambah dengan kondisi makin parah. Pastinya pemerintah tidak mau mengambil resiko dan tidak mau jadi sasaran kesalahan.

Begitu pun juga dengan sekolah dan kampus. Sama-sama tidak mau mengambil resiko yang serupa. Artinya, bila kondisi masih seperti ini. Maka pihak sekolah dan kampus harus bersabar sampai Juli 2021. Pastinya anak-anak dan mahasiswa bakal banyak kejenuhan yang membuat mereka putus semangat untuk belajar dan sekolah lagi. Guru dan Dosen pun harus bersiap-siap untuk mengajar dalam kondisi seperti ini dan harus memberikan inovatif dan kreatif dalam mengajar.

Penutup

Sepertinya perang melawan wabah COVID-19 ini masih dikatakan jauh dari selesai. Pasalnya setiap hari korban yang terdampak masih terus bertambah, meskipun yang sembuh tetap bertambah, tetapi yang meninggal pun terus bertambah banyak. Artinya kita harus menjaga diri kita dari segala macam penyakit. Di mulai dari diri kita untuk memperkuat Iman, Aman dan Imun.

Kita tetap harus berdoa. Semoga anak-anak Sekolah dan para Mahasiwa tetap sehat dan selamat dalam segala aktivitas, tetap semangat untuk menimba ilmu dan bersekolah serta berkuliah dan semoga juga wabah COVID-19 ini yang kita sama-sama akui semakin hari semakin parah ini segera berakhir dari Dunia ini khususnya Indonesia. Aamiin. Wallahu A’lam.

Sabtu, 12 September 2020

NEW NORMAL ATAU NEW ANORMAL? (Adaptasi Kebiasaan baru berujung Petaka)

 Oleh: Muhammad Iqbal Nur Hakim (Master Islamic World & Scout, U-Report No ID 46800655, Co. Founder Class Online Scout Indonesia).

Prolog

Sudah menjelang 6 bulan, wabah Pandemi atau sekarang lebih ke Endemi COVID-19 ini melanda Indonesia tertanggal dari 15 Maret 2020 hingga saat ini. Banyak sekali para dokter dari kalangan senior, junior bahkan relawan yang berjuang melawan wabah ini dan akhirnya mereka gugur saat bertugas. Total mereka yang gugur adalah 100 jiwa, ini belum termasuk yang lain. Total Positif hampir 200.000 orang, total sembuh sekitar 120.000 orang dan yang meninggal 8000 lebih. Dan setiap harinya selalu ada penambahan kasus bahkan semakin hari semakin bertambah parah dan memang diprediksi sampai Akhir tahun 2020 dan/ atau awal tahun 2021.

Namun, disisi lain, pemerintah baik dari tingkat Pusat sampai tingkat Kecamatan demi menjaga kestabilitas ekonomi dan kejenuhan maka diterapkan “New Normal” atau Adaptasi Kebiasaan Baru. Padahal sebagaimana yang telah kita ketahui, penyebaran COVID-19 ini semakin hari semakin ganas dan bertambah parah, tetapi pemerintah tetap menerapkan New Normal/ AKB ditambah masyarakat sudah jenuh dan sudah dianggap biasa dan semakin tidak peduli. Padalah inilah yang sangat berbahaya.

Motif Berlakuknya New Normal/AKB

Memang niat Pemerintah kita ini baik, tujuannya adalah mensabilkan kondisi negara Indonesia karena sejak wabah COVID-19 ini banyak sekali pengangguran dimana-mana, tempat-tempat pekerjaan banyak yang gulung tikar, penghasilan untuk kebutuhan menjadi sedikit sehingga tingkat perceraian sejak wabah COVID-19 ini terus bertambah, bahkan tingkat kejahatan seperti perampokan, pencurian, pembunuhan dan lain-lain menjadi bertambah banyak. Begitu  pun kegiatan sekolah dari tingkat TK sampai Kuliah S-1, S-2 dan S-3 banyak yang daring. Maka pemerintah melakukan konsep New Normal. Jadi seperti kembali lagi sebelum adanya wabah COVID-19.

Itulah awal motif pemerintah kita mau menerapkan New Normal/ AKB ini memang aku akui keputunannya baik. Akan tetapi, seharusnya penerapan New Normal/ Adaptasi Kebiasaan Baru ini tidak bisa diterapkan begitu saja. Karena untuk menerapkan konsep seperi ini, wabah COVID-19 ini harus ada penguruangan disetiap harinya. Bukan pada saat sekarang ini, dimana waban COVID-19 ini semakin hari semakin parah sehingga banyak sekali yang kena.    

Akibat Salah Mengambil Keputusan   

Apa yang terjadi sekarang ketika pemerintah tetap memaksakan penerapan konsep ini sedangkan kondisi semakin hari semakin parah?. Kita bisa melihat sendiri sekarang. Dimana yang masih berkerumun tetap berkerumun, yang ga pakai masker tetap banyak, dan masih banyak yang tidak mengikuti aturan-aturan protokol keseharan jadi wajar apalabila semakin kesini semakin bertambah, semakin ganas dan parah.

Kalau sudah separah seperti saat ini mau siapa yang akan disalahkan? Pemerintah kah? Masyarakat kah ? atau siapa?. Memang kalau bisa dikatakan keduanya sama-sama salah. Kenapa? Pemerintah yang membuat kebijakan malah dilanggar sendiri. Seperti hari ini kebijakannya A, Besoknya B, besoknya lagi C dan lain sebagainya sehingga masyarakat menjadi bingung dan tidak tahu harus merujuk ke yang mana. Ditambah lagi dengan kurangnya kesadaran dari masyarakat jadi lengkaplah sudah pemerintah bilang ini, masyarkat melakukan itu dan akhirnya wabah COVID-19 sudah terlanjur menyebar luas dan sampai separah ini.

Wabah COVID-19 akan menyerang ke semua orang layaknya Tsunami, Benarkah?

Jika ditanya tentang ini pasti aka nada yang menjawab antara iya atau tidak. Dan pasti akan banyak asumsi-asumsi dari yang berbeda pendapat. Tapi kalau dilihat dari kesadaran masyarakat, besar kemungkinan iya. Mengapa? Selain Wabah ini semakin hari semakin parah, tetapi apabila tidak ada kesadaran dari masyarakat dalam menjalankan prototol kesehatan bahkan sampai ada yang tidak peduli akan kesehatan, pasti akan mengenai semua orang dan hari ini pun akhirya terjadi. Banyak sekali kasus-kasus yang di dapati di seluruh Indonesia baik di sekolah, perkantoran, pasar, dan masih banyak lagi yang kita kenal dengan nama “Klaster Baru Penyebaran COVID-19”.

Dan bila hal-hal seperti ini masyarakat masih belum ada kesadaran apalagi sampai tidak peduli lagi termasuk mengabaikan protocol kesehatan termasuk pemerintah salah mengambil sikap dan kebijakan. Saya berani yakin, “Dalam waktu 4 bulan (Oktober-Desember) Dari Sekarang. Wabah COVID-19 ini akan mengenai semaua orang seperti korban tsunami. Jumlah positif bukan lagi ribuan tetapi bisa jadi Jutaan perharinya dan yang meninggal bukan lagi ratusan perhari tetapi lebih dari itu bisa sampai jutaan yang meninggal karena wabah COVID-19 per harinya kerena kesalahan dalam kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan bencana ini dan tidak ada kesadaran masyarakat akan bahaya wabah COVID-19 ini”.

Aku teringat pesan dari Habib Husen Bin Thoha. Beliau adalah Dzuriah Nabi Muhammad SAW. Tepatnya hari ke 30 Ramadhan sebelum Idul Fitri. Beliau menyampaikan Ceramah dan Pesan ke seluruh Warga Indonesia seperti ini “Keselamatan Indonesia ditentukan 15 hari setelah lebaran, apabila warga Indonesia tidak mematuhi imbauan dari pemerintah untuk memutus mata rantai COVID-19 ini, lihat saja sebentar lagi wabah COVID-19 akan menampar seluruh wajah-wajah kalian disetiap rumah-rumah”. Pesan yang beliau sampaikan rupanya berbentuk isyarat dan firasat yang memang betul-betul akan terjadi setelah ini dan aku mendengarnya merindung. Dan aku pun akhirnya merasakan ada firasat buruk ketika mendengar ceramah sekitar hari ke 20 Syawal. Dimana firasatku ini mengatakan bahwa Wabah COVID-19 akan semakin parah sampai 2021, sekolah, kampus dan pengajian akan ditutup, haji dilarang dan huru hara seperti kejahatan-kejahatan, pencurian, perampokan, penculikan dan pembunuhan akan semakin banyak selama itu. 

Subhanallah. Kini firasat dari Habib Husen dan dariku betul-betul terjadi. Kita berlindung dari segala wabah penyakit dan segala bentuk kejahatan-kejahatan lainnya. Aamiin. Karena memang apa yg dikatakan dan difirasatkan betul-betul sedang terjadi. Meski begitu kita harus terus berdoa, dekat kepada Allah, jauhi segala bentuk-bentuk yang merugikan, tetap dirumah karena wabah dan fitnah semakin banyak ketika diluar rumah bila keluar rumah hanya dalam kondisi sangat genting dan penting. 

Apa yang bisa kita lakukan?

Pernah aku menyampaikan Tausiyah Ngopiq (Ngobrol Perkara Iman dan Taqwa) via WhatsApp tentang New Normal atau New Dead. Dimana isinya lebih singkat dari tulisan ini. Banyak yang mengatakan wabah COVID-19 ini adalah Virus nyata, ada juga yang mengatakan ini adalah konspirasi dari Cina untuk menjadikan senjata pemusnah massal, ada yang mengatakan lain sebagainya. Nah, sekarang aku balik nanya “kalau ini adalah Penyakit kamu mau ngampain?” “kalau ini konspirasi kamu mau melawan pakai apa?? Kosnpirasi adalah sebuah kejahatan makar yang sangat sulit dilawan karena sistemik kalau kita melawan jusru kita yang akan mati”.

Lantas apa yang seharusnya kita lakukan dalma menghadapi Endemi COVID-19 ini yang dimana memasuki New Normal/ Adaptasi Kebiasaan Baru tetapi wabah semakin hari semakin ganas dan semakin parah?

1. Tetap optimis, yakin, penuh harap dan doa kepada Allah SWT.

Karena Allah SWT adalah sang Maha pemilik segalanya, penyakit datangnya dari Allah SWT menyerang dan mengambilnya bagaimana kehendak Allah SWT, bisa saja ini adalah teguran kepada kita semua karena kita kurang dekat dengan Allah SWT sehingga Allah SWT memberikan teguran berupa wabah ini agar kembali kepada Allah SWT dan juga bisa berupa Ujian bagi kita yang berimana kepada Allah SWT agar kita bisa terus mengambil hikmah dibalik musibah ini. Sehingga kita tetap yakin kepada Allah SWT kelak wabah ini akan diangkat oleh Allah SWT sekehendak-Nya.

Oleh karena itu jangan menyerah dalam berdoa agar kita semua selama dari segala musibah dan bencana dan tetap yakin semoga wabah ini diangkat oleh Allah SWT.

2. Jangan termakan berita-berita yang belum tentu itu benar adanya.

Apalagi dalam kondisi seperti ini banyak dari kalangan tertentu yang ingin menyebarkan berita tetapi tidak pada sumber yang valid dan dipercaya sehingga berapa banyak yang tertipu dan melemahkan semangat semua orang. Maka dari itu kita harus terus hati-hari terkait berita tantang Wabah COVID-19 ini.

Carilah berita-berita yang valid terkait kondisi penyebaran COVID-19 ini, jangan sampai termakan dengan berita-berita yang belum tentu benarnya.

3. Jangan keluar rumah kecuali bila sangat genting.

Tentu ini sudah jauh-jauh hari sejak wabah COVID-19 ini mulai merambah ke negeri Indonesia dan akhirnya banyak sekali yang terkena wabah ini, maka jalan satu-satunya yang aman adalah tetap dirumah dan terus bersabar dengan apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi wabah COVID-19 yang menyebar ke seluruh Dunia. Jika ada yang mau keluar rumah hanya hal-hal yang sangat genting dan penting sekali. Jika tidak maka akan mendatangkan Mudharat yang lebih besar lagi dan mengerikan.

4. Terus jadi garda dan benteng terakhir untuk semua orang.

Untuk kalian yang berprofesi sebagai doker, polisi, tentara, PMI, Damkar, relawan kesehatan, relawan dari satuan manapun, baik dari Pramuka, Komunitas, Rohis, para aktivis mahasiswa dan lain-lain yang berjuang digaris depan dalam memerangi COVID-19 ini. Tetap semangat, jangan menyerah, meski banyak teman-teman yang jatuh berguguran (Insya Allah mereka Syuhada) tetapi kalian adalah benteng terakhir bagi kami. Maka jangan kendor dan bersedih, teruslah semangat dan tetap bangkit. Insya Allah perjuangan dan pengorbanan kalian sudah Allah SWT catat sebagai amal Jihad menolong banyak orang bila kalian gugur Insya Allah Syuhadah.

5. Hidup sehat Ala Rasulullah SAW.

Tentu ini merupakan cara yang terbaik dalam mencegah dan menghadapai Wabah COVID-19 ini yang semakin hari semakin parah. Maka tentu kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW harus selalu menjaga pola makan, istirahat dan kebiasaan hidup lainnya dengan pola hidup sehat yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Agar kita selaku umatnya mendapatkan syafaat tertinggi. Aamiin.

Penutup

Kita tidak tahu kapan wabah ini akan selesai. Tetapi yang jelas ini masih jauh dari selesai. Meski pemerintah sudah menggagas New Normal/Adaptasi Kebiasaan Baru, tetapi pada kenyataanya korban terus bertambah dan wabah semakin parah. Tetapi meski begitu kita tetap jangan pesimis, harus yakin bahwa kita punya Allah SWT kita memohon perlindungan dan ketia memang harus berkeluar rumah, tetap ikui prosedur protokol kesehatan dalam pencegahan COVID-19.

Semoga Allah SWT melindugi kita semua dari segala wabah dan penyakit yang sedang melandan di negeri kita ini. Kalau pun memang kita berada pada puncak-puncak parahnya sampai Akhir tahun dan/atau awal tahun. Semoga kita tetap bersabar dan kita ambil hikmah yang sedang terjadi. Aamiin. Wallahu A’lam bish shawwab.