Ini merupakan perjalanan hidup aku yang entah karena kecelakaan atau bagaimana, tapi sebetulnya saya menyukai dunia pendidikan sejak kuliah semester 5, meskipun kuliah bukan dari pendidikan tetapi di Fakultas Hukum. Tetapi saya baru tahu kalau suatu saat saya akan menjadi seorang guru bagi keluarga nanti. Awalnya ketika saya mengikuti kegiatan mengajari anak jalanan disebuah komunitas yang bernama Kampus Peduli. Disitulah saya merasakan betapa pentingnya kita harus peduli kepada anak-anak, tentunya anak-anak jalanan.
Lalu ketika aku di semester 8, saya
mengikuti perkuliahan PAI (Pandangan Alam/Hidup Islam) tetapi sifatnya seperti
kajian yang diselenggarakan dari PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan
Insan) Bandung. Disitu aku mengikuti perkuliahan dari 2012 sampai saat ini. Dari
muatan materi PAI yang selama ini aku ikuti, rupanya sangat cocok dengan apa
yang selama ini dipelajari, terutama ketika membahas konsep Tuhan, Agama, Nabi
& Wahyu, Ilmu, Konsep Pendidikan, dan Konsep Kebahagiaan, serta Islamisasi.
Disinilah aku merasa sangat menyukai dari materi tersebut apalagi tentang
pendidikan.
Setelah itu, aku memilih menjadi
guru karena aku tidak kuat kalau kerja dikantoran, apalagi kalau sudah harus
mengikuti aturan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Terlebih karena sudah menjiwai
di pendidikan. Karena pilihanku ini, banyak sekali teman-teman yang menanyakan:
“Kenapa memilih jadi guru? Padahal aku kan Lulusan Hukum, kenapa engga milih di
kerja yang gajinya tinggi atau yang sesuai, kan sayang ilmu yang dipelajari
selama kuliah”.
Memang betul juga yang dikatakan
teman-temanku bilang dan aku pun menjawab seadanya saja, tidak terlalu serius.
Namun, meski begitu, aku suka membagi-bagikan ilmu kepada siapapun dan juga
suka kesana-kemari apabila ada kajian-kajian. kembali lagi ke ceritaku, kenapa
aku memilih dunia pendidikan? Sebetulan, ada beberapa hal yang membuat aku
memilih dunia pendidikan dan suka didalamnya. Diantaranya adalah:
1.
Inspirasi
dari 6 guruku sejak SD-SMA
Salah
satu yang membuat aku suka dan memilih dunia pendidikan adalah, seperti yang
ada pada poin diatas. Yah, karena inilah yang membuat saya memilih menjadi
guru. Karena guru adalah gudangnya ilmu dan sebagai orang tua kedua ketika
disekolah, dialah yang selalu dekat denganku, meski aku tidak begitu dekat,
tetapi dialah yang selalu dekat, perhatian dan sayang kepadaku dan kebaikan dan
ketulusan itulah aku selalu simpan dan dikenang sampai saat ini, meski banyak
sekali yang aku kenal. Siapakah guru yang saya sebutkan?
a. Pak
Didi Junaidi
Dia
adalah guru wali kelasku dari kelas 5-6 SD. Beliau adalah guru yang selalu baik
kepadaku dan selalu memberikan motivasi kepadaku ketika aku lagi turun
semangatnya. Beliau selain bisa dalam 5 pelajaran (Matematika, Bahasa
Indoensia, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS), tetapi mengajari tentang arti
semangat belajar, arti semangat untuk terus hidup. Inilah salah satu kenapa
saya tetap semangat untuk terus dan terus berjuang untuk menggapai apa yang
diimpikan menjadi orang baik.
b. Bu
Ami
Ada
juga yang membuat aku suka dengan dunia pendidikan yaitu kehadiran seorang guru
tetapi selalu menaruh perhatian kepadaku, sayang padaku dan karena dekatnya
beliau kepadaku membuat aku menjadi senang dan bahagia sekali karena merasa
diperhatikan. Dia adalah bu Ami. Guru yang sangat cantik, anggun, sholehah dan
baik akhlaknya dan sayang ke anak-anak tentunya kepadaku. Meskipun guru les
bimbel di tridaya tetapi seakan-akan aku merasa punya ibu yang sayang padaku
dan bahkan seperti ibu peri.
Itulah
yang membuat aku sangat menyukai ibu Ami, dengan sosok yang sangat baik dan
lembut dalam mengajari ke anak-anaknya termasuk kepadaku dan semakin aku
mencintai Dunia Pendidikan, meski akhirnya sempat pisah tidak ketemu karena
ketika kelas 6 dan kelas 1 SMP tidak ikutan les Bimbel Tridaya. Namun
Alhamdulillah bisa ketemu lagi dengan Ibu Ami saat ikutan les Tridaya di kelas
2 dan 3 SMP. Terimakasih Ibu Ami, kau selalu perhatian dan sayang padaku ketika
pertema ketemu yang akhirnya saya belajar tentang kepedulian dan kasih sayang
ke orang lain.
c. Bu
Iyam Sari Hayati
Lalu
ada juga guru di SMP Negeri 7 tempat aku belajar, dia adalah Ibu Iyam Sari
Hayati. Selain guru Biologi, beliau adalah guru BK (bimbingan konseling) yang
cantik dan selalu perhatian kepadaku selama ini di SMP Negeri 7, dialah yang selalu
membuatku menjadi sangat senang & bahagia. Karena beliau selalu perhatian
kepadaku dengan kasih sayang yang tulus selama aku di SMP Negeri 7. Meski begitu, beliau tidak
membanding-bandingkan dengan murid-murid yang lain antara pintar dan bodoh.
Serasa seperti ibu sendiri. Hehehe….
Itulah
yang membuat aku belajar untuk tidak membanding-bandingkan dengan yang lain
ketika pelajaran ataupun ketika berdiskusi dan disinilah aku belajar bagaimana
cara menghadapi anak-anak ketika pelajaran dan ketika bicara 4 mata baik ke
sesama maupun ke lawan jenis, serta
mengajariku tentang keindahan apapun itu.
d. Bu
Elin
Selanjutnya
guru yang faham dengan pelajaran Sosial dan Kenegaraan, beliau adalah guru
bimbel di Tridaya, beliau mengajar mata pelajaran IPS dan PPKn kelas 1-3 SMP.
Dialah guru bimbel yang tangguh dan baik, beliau mengajariku pelajaran IPS
(Ekonomi, Sejarah Geografi) dan PPKn sejak aku masuk bimbel Tridaya dari kelas
1 SMP sampai kelas 3 SMP, bahkan sampai lulus. Beliau mengajarkan banyak sekali
hal kepadaku, termasuk pelajaran yang disampaikan dikaitkan dengan kondisi dan
realita saat ini dan bagaimana kita menyikapi dan mencari solusinya, dan juga
selalu sabar dalam mengajari termasuk kepadaku.
Itulah yang membuat aku semakin
semangat dan terus bangkit serta terus belajar, belajar dan belajar. Karena
merupakan bagian dari Ibadah. Berkat beliaulah aku bisa menjadi guru IPS dan
PPKn kelas 7, 8 dan 9 SMP Daarul Adab tempat aku mengajar dan mendidik
anak-anakku. Artinya, ini mejadi cikal bakal aku terus belajar IPS dan PPKn
sejak SMP sampai Sekarang dan menjadi seorang guru yang terbaik dimata Allah
dan Manusia lainnya, termasuk ke anak-anakku, inipun juga tak lepas dari Bimbel
Tridaya yang dimana tempat lesku selama 5 Tahun (SD kelas 4-5, kelas 6 tidak
dilanjut. Namun, dilanjut di SMP kelas 1-3).
e. Teh
Anggun
Kali
ini adalah guru kesayanganku, dialah Teh Anggun, nama lengkapnya Anggun
Widiyani. Dia bukan sekedar guru saja, tetapi sahabat dekat, teteh tempat
curhat dan juga faham agama. Beliau adalah pengajar Bahasa Jepang di SMA Plus
Muthahhari. Meskipun sekolahnya memang ajarannya Syi’ah. Tetapi untuk teteh
anggun ini, beliau menolak bahkan menentang ajaran Syi’ah sejak lama selain
mengajariku Bahasa Jepang, tetapi tempat aku belajar agama bersamanya.
Berangkat dari Teh Anggun inilah aku mulai
mendalami Agama Islam, meskipun di sekolah sangat bertetangan dengan Islam.
Tetapi disini saya belajar lebih dalam Ajaran Islam dan ajaran sesat dan
menyesakan lainnya.
Itulah kenapa aku memilih untuk
terjun ke Dunia Pendidikan, meskipun aku sendiri bukanlah lulusan Dunia
Pendidikan atau Lulusan Sarjana Hukum dari Unisba. Tetapi aku mewarisi semangat
dari keenam guru ini ditambah aku mengikuti kegiatan seperti mengajar anak
jalanan dan mengikuti pelatihan-pelatihan mengajar seperti KMD, KML Gerakan Pramuka,
Public Speaking, Master Author, Master Motivator & Trainer Pendidikan dan
masih banyak lagi. Namun meski begitu, aku tetap terus belajar untuk menjadi
seorang guru teladan.
2.
Generasi
muda yang semakin rusak
Kita
bisa melihat dari generasi ke generasi kondisi anak-anak muda terutama dengan
kondisi hari ini. Yah. Bisa kita katakan generasi muda jaman dulu sangat minim
akan teknologi yang canggih, tetapi dalam sifat sopan santun, menghormati yang
lebih tua dan menyayangi yang lebih muda betul betul terasa. Bahkan guru pun
dihormati dan ilmu sangat didapat dengan keberkahan berkat doa baik dari orang
tua, guru, teman terdekat dan hasil usaha sendiri.
Berbeda
dangan generasi muda jaman sekarang. Dimana semua serba ada, baik buku,
tulisan, majalan, maupun internet & komputer seperti PC, Laptop, dan semuanya serba ada. Apalagi sekarang sudah banyak
fasilitas-fasilitas Wi-fi dimana-mana sehingga semua orang mudah akses. Namun,
meski semua sangat mudah untuk di akses, cara dalam pembelajaran semakin
berkurang, apalagi bila tidak ada pengontrolan dari kedua orang tua, maka akan
akan terbawa arus sehingga anak-anak dapat kecanduan.
Kita
lihat saja kasus yang terjadi pada generasi muda sekarang, dimana banyak sekali
murid-murid yang berani melawan ke guru, bukannya saling kerjasama antar guru
dan orang tua malah guru tersebut dilaporkan karena dianggap melanggar HAM,
padahal tujuannya untuk kedusiplinan anak tersebut. Ada juga seperti
kebablasana dalam pergaulan sehari-hari seperti seks bebas, penggunaan
obat-obat terlarang, tawuran, nonton film tidak senooh, main games yang
berlebihan sehingga kondisi anak-anak sekarang menjadi rusak parah.
Itu
merupakan cuplikan atau gambaran kondisi generasi yang semakin rusak, bahkan
ada yang lebih rusak dari pada itu yaitu, Hilangnya Identitas diri sebagai
seorang muslim. Ini murupakan kondisi yang teramat sangat parah. Dimana banyak
sekali generasi-generasi mudah serang lebih banyak mengidolakan tokoh-tokoh
dari luar negeri baik itu dari dunia perfilman Box Office maupun dari K-Pop
yang meracuni generasi muda sekarang bahkan yang lebih parahnya lagi adalah
meniru kegiatan dari orang tersebut sehingga identitas sebagai seorang muslim
tidak dipedulikan sama sekali dan melupakan sosok yang harus diteladani oleh
generasi muslim.
3.
Ucapan
yang tidak bisa terkontrol atau terjaga
Semakin
majunya ilmu pengetahuan dan teknologi banyak sekali informasi-informasi yang
mudah diakses tentunya dari Bahasa-bahasa yang gaul yang kurang dimengerti oleh
orang-orang. Salah satunya Bahasa-bahasa gaul didalam kehidupan sehari-hari
selain Bahasa gaul yang sudah popular sperti la, loe gua, gue. Tetapi lebih
dari itu, seperti otw, omg hello, wew, coy dan lain sebagainya. Namun, meski
begitu, penempatan Bahasa-bahasa yang gaul harus ditempatkan pada tempatnya
karena tidak semua orang menerima kata-kata seperti itu.
Apalagi
sekarang ini banyak istilah Bahasa-bahasa yang gaul tetapi isi dan makna yang
tersirat sangatlah merusak sekali. Maka disitulah saya merasa terpanggil untuk
mendidik anak-akan dengan perkataan yang baik dan benar. Karena saya percaya,
setiap perkataan dan doa pasti akan kembali lagi kepada pemiliknya dan saya
sebagai guru akan mengajarkan yang baik dan benar.
4.
Rusaknya
Dunia Pendidikan saat ini.
Kerusakan
pada Dunia Pendidikan hari ini betul-betul terasa, betapa tidak? Kerusakan
dunia pendirikan ini bukan dari kondisi sekolah dan/atau guru dan/ atau siswa.
Melainkan sistem pendidikan yang setiap tahun selalu berganti sehingga para
guru dan murid pun menjadi sangat kesulitan untuk belajar dengna efektif dan
efisien baik di sekolah maupun di rumah sehingga benar perkataan ini selalu
ada, “Ganti Menteri, Ganti Sistem”. Karena setiap ganti menteri pasti selalu
ganti kebijakan kurikulum yang diterapkan di sekolah dasar dan menengah.
Ditambah
lagi pendidikan kita ini oriantasinya adalah lebih kepada nilai tertinggi dan
bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga nilai-nilai pendidikan
yang sesungguhnya menjadi hilang dan tidak ada arah. Padahal tujuan pendidikan
yang sesungguhnya bukan sekedar mengejar nilai tinggi dan cari pekerjaan
semata, tetapi lebih dari pada itu. Yaitu melahirkan orang-orang yang beriman,
bertakwa dan beramal sholeh. Itulah tujuan dari pendidikan di Indonesia
sebagaimana dalam UU Pendidian. Akan tetapi, pada kenyataanya dalam pelaksanaan
di lapangannya jauh dari apa yang diharapkan.
Inilah
merupakan tantangan tersendiri bagi aku memilih dunia pendidikan. Tetapi sekali
melangkah, Insya Allah tidak akan mundur kebelakang demi melahirkan
generasi-generasi yang beriman dan bertakwa.
5.
Nilai-nilai
Islam harus dimasukan.
Ini
pun akhirnya menjadi tugasku, misiku, dan bahkan menjadi jalan dakwahku ketika
memilih manjadi guru di dunia pendidikan. Yah, memasukan nilai-nilai Islam
dalam pelajaran yang aku emban seperti mapel IPS, PPKn, Sejarah dan Pramuka.
Karena bagiku, mapel ini sangat vital sekali ketika berhubungan dengan
masyarakat luas. Banyak sekali buku-buku dalam mapel ini nilai-nilai Islamnya
sangat sedikit bahan hampir tidak ada dan yang lebih parahnya lagi isinya bukan
lagi kepada pencerdasan, melainkan mengarah kepada pembodohan.
Akhirnya
ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku bagaimana caranya memasukan
nilai-nilai Islam dan bahkan merupakan Islamisasi, dimana hal-hal yang
berhubungan dengan nilai-nilai Islam dimasukan pada mapel tersebut. Ini memang
menjadi tugasku yang sangat berat terlebih semenjak mengikuti Kuliah PAI dari
PIMPIN Bandung harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini dibuat dari tahun 2016 dan selesai pada tahun 2021