Ketika
aku kelas 11 SMA, aku pernah membaca buku dengan judul “Tahun 2015, Indonesia
akan terpecah belah”. Dalam buku tersebut dibahas dari asal muasal dan penyebab
Indonesia akan terpecah belah. Lalu ada buku juga dengan judul “Indonesia
Bubar” yang pernah aku baca yang sisinya sangat menarik untuk jadi bahas
diskusi terlebih dilengkapi dengan data-data akurat tetapi disajikan dengan
bentuk gambar. Ada lagi buku yang kali ini ditulis oleh Amin Rais dengan tema
“Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia”. Pada ketiga buku tersebut
menggambarkan Indonesia yang akan datang dan prediksi-prediksi yang akan
terjadi pada tahun 2010 kesana.
Sejak ada buku itu. Aku melakukan penelitian kecil-kecilan kenapa
Indonesia ini bisa bubar. Terlebih sejak tahun 2015, aku semakin terus menggali
terus apa penyebab dan bagaimana cara Indonesia ini bubar selain 3 buku itu
yang menjadi rujukan, tetapi juga mencari kondisi-kondisi dilapangan, terlebih
sejak adanya Aksi Bela Islam yang puncaknya adalah 411 dan 212 bulan November
dan Desember tahun 2016. Sejak saat itu semakin kelihatan siapa yang
betul-betul memperjuangan Indonesia dengan siapa yang betul-betul pengkhianat
Indonesia yang selalu berkedok dan berlindung dibalik Pancasila dan HAM.
Banyak sekali bukti-bukti yang
terkuak oleh para pakar hukum dan ketatanegaraan serta dari para tokoh ilmuan,
cendikiawan dan agamawan terutama Ulama,
bahwasannya Indonesia ini sudah hampir 100% dikuasai oleh asing dan
aseng dari segala aspek. Hal ini terlihat ketika pemilu (pemilihan umum) dan
pilpres (pemilihan presiden) tahun 2014 dan 2019 serta masuknya orang-orang
asing dan aseng ke Indonesia pada masa Pandemi COVID-19 ini.
Menguak Tahun 2030 dan 2045
Ada
sebuah misteri terbesar pada tahun 2030.
Apa itu? Sempat viral pernyataan oleh Prabowo Subianto pada pidato
pencalonan Presiden 2019 di Internal Partai Gerindra, “Tahun 2030 Indonesia bisa Bubar”. Pernyataan tersebut banyak
menuai kritik, apresiasi dan banyak atas pernyataan yang disampaikan oleh
Prabowo ini. Karena dianggap memecah belah bangsa, ada juga yang mengatakan itu
adalah hak setiap orang untuk berpendapat, ada juga yang membenarkan akan
pertakaan Prabowo tersebut. Karena melihat kondisi dan situasi yang sangat
memprihatinkan saat ini dan kedepannya. Bahkan perkataan tersebut ditambah oleh
kedua Mantan Panglima TNI (Alm. Djoko Santoso dan Gatot Nurmantyo), “bahkan
bisa lebih cepat dari tahun 2030”. Seolah-olah pernyataan tersebut bahwa NKRI
kita ini betul-betul di ujung tanduk.
Adapun beberapa pakar yang
mengakatan bahwa Indonesia ini akan menjadi negara Adidaya. Dimana di lihat
dari demografi penduduk pada tahun 2015 dan puncaknya adalah tahun 2045. Puncak-puncak
usia produktif pada tahun itu dan pastinya akan dibarengi dengan perbaikan
“IPOLEKSOSBUDHANKAM” (termasuk di dalamnya ada pendidikan, kesehatan). Organisasi-organisasi
kepemudaan dari mahasiswa pun berfikir sama dan organisasi kemasyarakatan dan
keagamaan pun demikian. Bahkan Negara-negara Asing dan Aseng pun mengakui NKRI
kelak akan menjadi Negara Adidaya dengan SDA dan SDM yang begitu kuat dan
hebat. Karena itulah mereka iri dengan keberadaan Indonesia terlebih semenjadi
menjadi Pendiri KAA, ASEAN, Gerakan Non-Blok dan menjadi garda depan dalam
Perdamaian dunia.
Mana yang akan terjadi?
Ini menjadi sebuah renungan ketika
membahas kondisi Indonesia hari ini dan kedepannya. Karena kita tidak akan
mengetahui apa yang akan terjadi kedepan. Apakah Indonesia ini akan tetap ada
atau tidak?, menjadi Negera yang terpecah atau Negera Adidaya? Atau bahkan
menjadi Negara Boneka dari Asing dan Aseng? Kita tetap tidak mengetahuinya.
Kita hanya bisa menganalisis apa yang ada di depan kita untuk ke depan.
Ada buku yang aku punya dan baca
dengan judul-judul buku yang berbeda tetapi mengarah ke arah yang sama yaitu
Bangkit dan Runtuhnya Daulah Islamiyah (Umawiyah, Abassiyah, Bani Saljuk,
Zankiyah, Ayyubiyah, Andalusia, Mamluk, Turki Usmani dan masih banyak lagi).
Dalam buku yang aku baca ini ada beberapa poin yang menyebabkan Daulah ini
runtuh. Yaitu, pergolakan internal, terpecah semangat persatuan dan kesatuan, Sistem
Pemerintah yang lemah, Tidak melahirkan Generasi-generasi yang tangguk karena
pendidikan yang rusak, meninggalkan semangat Amar Makruf Nahyi Munkar dan
Jihad, Kerja sama dengan pihak musuh di luar dan masih banyak lagi.
Adapun di satu sisi buku tentang Ekonomi Pasar Modal tentang kekuatan ekonomi Indonesia dimasa yang akan datang, buku tentang Pendidikan Islam: Menuju Indonesia yang Adidaya 2045, tentang Parenting, menjaga kedaulatan bangsa dari Islam dan Pancasila, Pancasila Bukan untuk menindas Konstituante, Api Sejarah 1 & 2, buku buku sejarah Nasional Indonesia dalam kaca mata terbaru dan masih banyak lagi yang sejenis tentang ini, menggambarkan secara jelas seakan Umat Islam adalah “Benteng Terakhir NKRI” dimasa depan.
Pernah Penulis mengikuti Webinar baru-baru ini yang diselenggarakan oleh Gerakan Pramuka Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang dan Universitas Bale Bandung dengan tema “Kepemimpinan Generasi Z Pramuka Untuk Indonesia”, yang dimana pembahasan tersebut secara garis besarnya adalah Kondisi Bangsa Indonesia dan kepemimpinan Bangsa Indonesia kedepan ini Tergantung pada Generasi Z yang lahir sekitar tahun 1996-2010 dan Gerakan Pramuka hari ini.
Artinya, ini menjadi sebuah gambaran jelas bagaimana kondisi NKRI apakah akan menjadi Negara Terpecah (bubar) atau Negara Adidaya atau bahkan menjadi Negara yang diatur oleh Asing dan Aseng? Semuanya tergantung pada Kondisi NKRI dari IPOLEKSOSBUDHANKAM (di dalamnya ada Pendidikan dan Kesehatan juga) dan generasi muda / Generasi Z pada hari ini serta peranan Gerakan Pramuka melahirkan tunas-tunas Bangsa.
Muhammad Iqbal Nur Hakim, Master Islamic World & Scout