Senin, 03 November 2014

Jilbab adalah Keshalihan Pribadi, Akhlak adalah Keshalihan Sosial

Oleh Ustadz Awy’ A. Qolawun


Sebenarnya, berjilbab (menutup aurat) itu tidak ada hubungannya dengan akhlak, dengan moralitas. Dalam pandangan masyarakat kita, wanita berjilbab selalu diidentikkan sebagai wanita yang santun, kalem, rajin shalat,rajin bersedekah, sering hadir di majelis pengajian, dan berbagai predikat kesalehan lainnya.
Boleh jadi -dan faktanya- sebagian besar wanita berkerudung memang seperti yang dipersepsikan masyarakat. Sebaliknya, muslimah yang tak berkerudung, meski akhlaknya baik, tentu saja dipandang tak sebaik muslimah berkerudung. Ini tentunya merupakan hal yang lumrah dan spontanitas muncul dalam benak masyarakat.
Akibatnya, jika kebetulan ada wanita berjilbab melakukan sesuatu yang kontradiktif dengan persepsi jilbab yang dikenakannya, maka sebagian besar masyarakat langsung mengaitkannya dengan jilbab yang dia kenakan. Tindakannya itu dianggap tidak sesuai dg jilbabnya.
Lantas muncullah suara miring seperti, “Pakai jilbab, tapi kelakuannya seperti itu.”
Karena hal inilah, dampaknya adalah sebagian muslimah yang blum berjilbab memilih tetap bertahan pada pilihannya untuk tidak mengenakan jilbab. Mereka berpikiran sangat sederhana, “Daripada tidak bisa menjaga sikap saat mengenakan jilbab, lebih baik aku tidak mengenakannya biarlah aku menjilbabi hatiku terlebih dahulu, (nanti saja pakai jilbab kalau sudah tua, sudah mau mati).”
Atau muncul slogan ironis, “Lebih baik pakai rok mini tapi bermental jilbab, daripada pakai jilbab tapi bermental rok mini.”
Sebenarnya pengkonotasian pasti antara jilbab dengan keshalehan merupakan pemahaman yang kurang tepat dalam masyarakat kita dalam memandang hubungan antara jilbab dengan akhlak.
Karena pada dasarnya sudah seharusnya muslimah yang shalihah menjalankan agamanya dengan baik dan mengaplikasi perintah agama dalam kehidupan sehari-harinya, salah satunya adalah memakai jilbab.
Tetapi saya bisa mengatakan, bahwa sebenarnya tak ada hubungan sama sekali antara jilbab dan berakhlak baik. Berjilbab adalah murni perintah agama yang diberikan kepada kaum muslimah, tanpa melihat apakah moralnya baik atau buruk.
Jadi selama dia muslimah, berjilbab adalah kewajiban. Tentu saja ada muslimah tak berjilbab, tapi itu adalah pilihan pribadi dia.
Nah, setiap pilihan tentu ada konsekuensinya, dan risiko tidak mengikuti intruksi syariat tentu saja ada sanksinya dan sanksi syariat atas pelanggaran adalah dosa.
Memang, bermoral baik adalah tuntutan sosial, di samping tentu ajaran agama. Namun pada dasarnya pelaksanaan segenap taklimat agama yang berhubungan dengan larangan dan perintah (salah satunya tentang jilbab) adalah permasalahan menyendiri yang berhubungan dengan ketundukan seorang hamba pada Tuhannya.
Artinya,berakhlak baik tidak ada hubungan langsung dengan itu,meski tentu scara implisit dari sudut pandang lain berkorelasi dna terkait erat. Contoh mudahnya, meski penjahat sekalipun, ia tetap wajib menunaikan shalat.Bukan lantas karena jahat sehingga shalat tidak wajib baginya
Mungkin seorang muslimah yang belum berjilbab bilang cukup saya jilbabi hati saja dulu. Tetapi dia tetap harus mengakui bahwa berjilbab adalah wajib baginya.
Siap tidak siap, baik tidak baik, kewajiban muslimah adalah berjilbab (dalam konteks bahasa yang lebih umum, menutup aurat)
Jadi kalau kita surfing di internet dan kebetulan melewati judul-judul aneh semacam “jilbab bugil”, “berjilbab tapi telanjang”, atau di keseharian kita menemukan cewek berjilbab tapi bergaulnya dengan lawan jenis sangat Laa Haula wa laa quwwata illa billah, ngakak-ngakak, meluk-meluk, menggelayut manja pada lain jenis, jalan bergandengan, bergoncengan; atau akhir-akhir ini kita kerap menemukan berita muslimah berhijab (bahkan bercadar) yang terlibat kasus korupsi dan narkoba; maka jangan cepat-cepat menyalahkan jilbabnya. Karena dampak negatif generalisasi perspektif seperti itu adalah muslimah lain yang baik-baik dan berjilbab akhirnya menjadi objek omongan dan kecurigaan tak berdasar, “Jangan-jangan seperti itu juga.”
Karena sekali lagi,moralitas tak ada hubungan dengan jilbab,meski tentu dituntut dari gadis berjilbab untuk bermoral sesuai dg jilbabnya.
Jadi, kesimpulannya, jilbab adalah wajib dikenakan tiap muslimah yang telah masuk usia baligh, tanpa melihat apakah moralnya baik atau jelek. Dan moral adalah sesuatu yang sangat dituntut dalam kehidupan sosial sekaligus sebagai bentuk ihsan dalam beragama. Maka, itu yang harus diketahui setiap muslimah terlebih dahulu. Adapun setelahnya jika dia tidak mengenakan, itu pilihan pribadi, tentu saja berkonsekwensi dosa dan ada keharusan dari yang lain mengingatkan muslimah tadi untuk mengenakan jilbab.
Kalaupun si muslimah tadi tetap belum berkenan mengenakan, maka yang menasehati bebas tugas. Dan tentu saja sebaliknya, jika dia mengenakan jilbab, maka pahala akan terus mengalir padanya selama jilbab itu bertengger di kepalanya sebagai bentuk balasan atas ketaatan menjalankan perintah agama.
Soal jilbabnya lebar, kecil, bajunya ketat, longgar, itu bab menyendiri lagi yang berhubungan dg tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang.
Akhirnya, muslimah yang berjilbab dan berakhlak baik tentu saja adalah muslimah sempurna. Adapun muslimah yang berjilbab namun akhlaknya tidak baik atau akhlaknya baik tetapi belum berjilbab adalah muslimah yang belum sempurna dan sedang berproses menuju kepada kesempurnaan.
Semoga segera meraihnya. Allahumma amin..
(Sumber: Fimadani)

Kamis, 30 Oktober 2014

Hanya Indonesia yang mengabaikan Bahasa Penjajah

Dalam memperingati Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober kemaren, kebanyakan yang saya baca di setiap tulisan baik di media cetak dan media sosial, isinya kebanyakan adalah membahas agar para pemuda Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan. Namun, dalam tulisan saya ini saya akan membahan sederhana tentang bahasa saja, sebab bila membahas tentang kebangkitan pasti sudah banyak.


Ketika Negara Bekas Jajahan menjadikan Bahasa Jajahan sebagai Bahasa Nasional
            
Kita bisa melihat Negara-negara yang dimana bekas jajahan sebut saja Negara Brazil, bila kita kesana masyarakatnya pasti akan menggunakan bahasa Portugal. Karena Brazil bekas jajahan Portugal selama 500 tahun.

Bila kita berada di Mexico, Venezuela, kolombia, Peru atau Negara-negara yang berada di Amerika Latin lainnya, maka kita pasti akan mendapati mereka dengan berbahasa Spanyol. Karena Negara-negara tersebut bekas jajahan Spanyol selama ratusan tahun.    
            
Begitu juga dengan Negara-negara jajahan di benua Afrika seperti Aljazair, Tunisia, Maroko, dan Chad yang dijajah oleh Prancis. Bahkan dinegara mereka menjadikan Bahasa Prancis menjadi bahasa nasionalnya.
            
Malaysia bekas jajahan Inggris menggunakan bahasa Inggris, india kalangan terdidiknya juga menggunakan bahasa Inggris bahkan Negara-negara Oceania (Negara-negara kepulauan yang berada di Samudra Pasifik) seperti Fiji, Selandia Baru, Tonga, Palau, Solomon, Kirimbati dllmenggunakan bahasa inggris sebagai bahasa nasionalnya.

Cuma Indonesia yang Berani Beda
            
Begitulah pemaparan singkat Negara-negara dari Asia, Afrika, Amerika Latin yang bekas jajahan Spanyol, Protugal dan Inggris yang masih menggunakan bahasa jajahan bahkan tak tanggung-tanggung bahasa bekas jajahan tersebut dijadikannya sebagai bahasa nasional mereka.
            
Lalu bagaimana dengan Indonesia yang selama 3,5 abad dijajah oleh Belanda?...... apakah menggunakan bahasa belanda juga sebagai bahasa sehari-hari?..... ternyata tidak, bangsa Indonesia menolak menggunakan bahasa penjajah, bahasa Belanda. Bahkan bahasa belanda sudah dilupakan sama sekali oleh orang Indonesia.
            
Mengapa demikian?.... Jauh sebelum Indonesia merdeka, meskipun masih dibawa jajahan Belanda, bangsa Indonesia sudah dari dulu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional. Dan itu pun dibuktikan ketika Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Yang dimana kongres tersebut melahirkan sumpah pemuda yang isinya sebagai berikut:

“Sumpah Pemuda.
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu. Tanah Air Indonesia
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku berbangsa satu. Bangsa Indonesia
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku manjunjung bahasa persatuan. Bahasa Indonesia
HIDUP INDONESIA…… HIDUP INDONESIA…… HIDUP INDONESIA…….”

            
Dengan lahirnya sumpah pemuda dan menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalnya, ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki harga diri menolak menggunakan bahasa penjajah dan jati diri yang sangat kuat. Meski pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda, bangsa Indonesia tidak mau ikut-ikutan menggunakan bahasa dari penjajah Belanda.

Bahasa Juga bisa menjadi Penentu Perdamaian Negara.
            
Pernah mendengar, dengan bahasa sebuah wilayah Negara bisa bersatu tetapi dengan bahasa juga sebuah wilayah menjadi terpacah belah?..... mungkin sebagian besar dari kita belum pernah mendengarnya, tetapi ini perah terjadi di berbagai Negara yang ingin memisahkan diri karena perbedaan bahasa.
            
Kita belajar dari Pakistan barat dan Pakistan timur dimana Negara tersebut terpecah menjadi dua Negara disebabkan (tentu saja ada sebab lainnya) karena perbedaan bahasa sehingga Negara Pakistan Barat dan Pakistan Timur menjadi dua Negara, Pakistan dan Bangladesh.
            
Quebec, salah satu Negara bagian di Kanada, ingin memerdekakan diri. Salah satu alasannya karena mereka ingin bahasa Prancis sebagaian bahasa nasional resmi mereka. Di Belgia terjadi perseteruan antara pendudul yang menggunakan bahasa Belanda dengan penduduk yang sehari-hari menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi mereka. 
            
Namun berbeda dengan Negara Afrika selatan yang menjadikan 11 bahasa, baik bahasa penjajah maupun bahasa daerah atau etnis menjadi bahasa nasional. Hal ini dilakukan untuk mencegah peperangan dan perpecahan karena bahasa.
            
Begitu juga dengan Indonesia, bahkan lebih hebat ketimbang Negara-negara lain. Mengapa demikian? Indonesia memiliki banyak jumlah bahasa, bila dihitung Negara kita memiliki 746 bahasa, tetapi tiak berperang, malah sepakat dengan menetapkan 1 bahasa, yaitu bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuannya.

Terlebih bangsa Indonesia juga bangsa yang berkeinginan untuk bersatu dan mau berkorban menurunkan ego masing-masing tiap suku. Apalagi sejak bangsa Indonesia merdeka dengan slogan “Bhinaka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu dengan penduduk mayoritas musilm.
            
Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13 berbunyi:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
            
Mekipun berbeda-beda suku, bahasa dan bangsa seharusnya membuat semakin saling menyayangi dan menghormati satu sama lain, bukan malah menjadi sebab dari perpecahan, pertikaian apalagi sampai terjadi peperangan.

Tetaplah Bangga dan Bersyukur menjadi Orang Indonesia
            
Kita sebagai orang Indonesia memang sepantasnya berbangga diri karena banyak sekali orang-orang luar negeri baik dari Negara-negara Asia, Eropa, dan Afrika berbondong-bondong mempelajari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah lainnya ditengah-tengah anak-anak muda lebih suka dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Dan juga harus bersyukur Sang Maha Pencipta. Karena ini juga merupakan sebuah kenikmatan kelebihan dari bangsa kita yang memiliki ratusan bahasa dengan suku dan ras yang berbeda yang dimana Negara-negara manapun tidak dimilikinya selain bangsa kita sendiri.
            
Oleh sebab itu, mari kita sama-sama menjaga kekayaan bahasa daerah kita dan bahasa persatuan kita. Boleh kita belajar bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Prancis, bahasa Arab, bahasa Korea dan Jepang yang saat ini lagi buming dan digemari oleh anak-anak muda sekarang dan bahasa Mandarin dan lain sebagainya. Tetapi kita jangan sampai lupa dengan bahasa daerah kita dan bahasa Ibu (persatuan) kita. Semoga bangsa kita ini menjadi bangsa yang besar dan hebat dimata dunia Internasional. Aamiin.

(Sumber sebagian dari buku gara-gara Indonesia) 

Minggu, 26 Januari 2014

Pemimpin Berhati Iblis

Akhir-akhir ini memang telah muncul banyak pemimpin yang sesungguhnya maupun yang karbitan. Yang serius maupun yang membingungkan. Yang Istiqamah (Konsisten) maupun yang mencle-mencle, yang ikhlas mernurani maupun "berhati setan". Tentang fenomena terakhir ini, telah dinubuwatkan Nabi SAW. sebagaimana didokumentasikan Muhammad Bin ABu Bakar dalam kitabnya yang kondang Al-'Usfuriyah bab akhir.

Diberitakan oleh Abdullah ibnu Abbas R.A., bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Pada akhir masa kelak akan lahir golongan (yang dipimpin) oleh mereka yang berwajahnya manusia, tetapi hatinya seperti setan. Mereka ibarat serigala buas yang tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali. Mereka suka menumpahkan darah dan gemar keburukan".

Jika anda mengikuti ajakannya, mereka akan membinamu. Sebaliknya, jika menjauhinya, anda dicela, bahkan dimusuhinya. Ciri-ciri lain: bila anda memberikan amanat, mereka berkhianat. Para remaja mereka suka ugal-ugalan di jalan, sedang orangtuanya bergeming maksiat. Mereka tidak menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran. Hukum (syariat) di tengah kelompok ini adalah bid'ah dan sebaliknya bid'ah bagi mereka dianggap Sunnah. Sehingga, tatkala Tuhan membiarkan mereka berkuasa, lantas ada sedikit yang salah berdoa, sedangkan doanya pun tida diterima.

Selaras dangan Teks tersebut, lalu Muhammad bin Abu Bakar meriwayatkan melalui As-Syaikh Muslim Al-Badani, bahwa Nabi pernah bersabda, "Akan datang suatu zaman, orang akan menganggap sunnahku sudah asing, kemudian memunculkan bid'ah. Maka, barangsiapa mengikuti sunnahku saat itu, mereka menjadi asing. Barangsiapa yang mengikuti bid'ah mereka akan mendapati banyak pendukung." Para sahabat bertanya, "Apakah mereka melihatmu ya Rasul?" Nabi Menjawab, "Tidak!" Mereka bertanya lagi. "Apakah turun wahyu kepada mereka?" kata Nabi, "Tidak! mereka seperti garang di dalam air. Hati mereka meleleh seperti garam di dalam air." Sahabat bertanya, "Seperti ulat didalam cuka." Lantas ada sahabat yang menukas, "Bagaimana mereka menjaga agamanya?"  Bersabdalah Baginda Rasulullah SAW., "Mereka seperti memegang bara api, jika kamu letakkan padam, jika tersentuh niscaya membakar".

Bagaimana kiat kita menghadapi fenomena zaman seperti ini? Tentu saja jalan menuju selamat itu, tidak lain adalah sikap Istiqamah; dan selalu menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai satu-satu petunjuk meraih kebenaran dan keridhaan Allah. Sekaligus kita menjadikan kedua syariat tadi sebagai pemisah atas yang hak dan batil.

Di samping itu, harus ada kesadaran iman dari setiap individu muslim, bahwa kita harus yakin sejak dini bila ingin menjadi muslim yang baik. Juga, jangan terlampau berlebihan fanatisme pada pemimpin golongan. Ingat, idola setiap muslim itu adalah Rasulullah SAW. yang kepemimpinannya hidup dalam ajaran yang kita anut.
Wallahu a'lam   

Dari buku Islam Idealitas, Islam Realitas.

Selasa, 19 November 2013

Syiah adalah Pembunuh Sayyidina Husain di Karbala




Oleh:


Seorang tokoh Islam yang terkenal di Pakistan, Maulana Ali Ahmad Abbasi menulis di dalam bukunya “Hazrat Mu’aawiah Ki Siasi Zindagi” bahwa di dalam sejarah Islam, ada dua orang yang sungguh kontroversial. Seorang di antaranya adalah Amirul Mukminin Yazid yang makin lama makin dimusnahkan image-nya walaupun semasa hayatnya beliau diterima baik oleh tokoh-tokoh utama di zaman itu. Seorang lagi ialah Manshur Al Hallaj. Di zamannya dia telah dihukum sebagai mulhid, zindiq, dan salah seorang dari golongan Qaramithah oleh masyarakat Islam yang membawanya disalib. Amirul Mukminin Al Muqtadir Billah telah menghukumnya murtad berdasarkan fatwa seluruh ulama dan fuqaha’ yang hidup pada waktu itu, tetapi image-nya semakin cerah tahun demi tahun sehingga akhirnya telah dianggap sebagai salah seorang ‘Aulia Illah’.

Bagaimanapun, semua ini adalah permainan khayalan dan fantasi manusia yang jauh dari berpijak di bumi yang nyata. Semua ini adalah akibat dari tidak menghargai dan memberikan penilaian yang sewajarnya kepada pendapat orang-orang pada zaman mereka masing-masing.

Pendapat tokoh-tokoh dari kalangan sabahat dan tabi’in yang sezaman dengan Yazid, berdasarkan riwayat-riwayat yang muktabar dan sangat kuat kedudukannya, menjelaskan kepada kita bahwa Yazid adalah seorang anak muda yang bertaqwa, alim, budiman, shalih, dan pemimpin ummah yang sah dan disepakati kepemimpinannya. Baladzuri umpamanya dalam “Ansabu Al Asyraf” mengatakan bahwa, “Bila Yazid dilantik menjadi khalifah maka Abdullah bin Abbas, seorang tokoh dari Ahlul Bait berkata: “Sesungguhnya anaknya Yazid adalah dari keluarga yang shalih. Oleh karena itu, tetaplah kamu berada di tempat-tempat duduk kamu dan berilah ketaatan dan bai’at kamu kepadanya” (Ansabu Al Asyraf, jilid 4, halaman 4).

Sejarawan Baladzuri adalah di antara ahli sejarah yang setia kepada para Khulafa Al Abbasiyah. Beliau telah mengemukakan kata-kata Ibnu Abbas ini di hadapan mereka dan menyebutkan pula sebelum nama Yazid sebutan ‘Amirul Mukminin’.

Abdullah Ibnu Umar yang dianggap sebagai orang tua di kalangan sahabat pada masa itu pun bersikap tegas terhadap orang-orang yang menyokong pemberontakan yang dipimpin oleh Ibnu Zubair terhadap kerajaan Yazid, dan sikap yang ini disebutkan di dalam Shahih Bukhari bahwa, bila penduduk Madinah membatalkan bai’at mereka terhadap Yazid bin Muawiyah maka Ibnu Umar mengumpulkan anak pinak dan sanak saudaranya lalu berkata,

“Saya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Akan dipancangkan bendera untuk setiap orang yang curang (membatalkan bai’atnya) pada hari kiamat. Sesungguhnya kita telah berbai’at kepadanya dengan nama Allah dan RasulNya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui kecurangan yang lebih besar dibandingkan kita berbai’at kepada seseorang dengan nama Allah dan RasulNya, kemudian kita bangkit pula memeranginya. Kalau saya tahu ada siapa saja dari kamu membatalkan bai’at kepadanya, dan turut serta di dalam pemberontakan ini, maka terputuslah hubungan di antaraku dengannya.” (Shahih Bukhari – Kitabu Al Fitan)

Sebenarnya jika dikaji sejarah permulaan Islam, kita dapati pembunuhan Sayyidina Husain di zaman pemerintahan Yazid-lah yang merupakan fakta terpenting mendorong segala fitnah dan keaiban yang dikaitkan dengan Yazid tidak mudah ditolak oleh generasi kemudian. Hakikat inilah yang mendorong lebih banyak cerita-cerita palsu tentang Yazid  yang diada-adakan oleh musuh-musuh Islam. Tentu saja, orang yang membunuh menantu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tersayang- dibelai oleh Rasulullah dengan penuh kasih sayang semasa hayatnya kemudian dijunjung pula dengan menyebutkan kelebihan dan keutamaan-keutamaannya di dalam hadits-hadits Baginda- tidak akan dipandang sebagai seorang yang berperi kemanusiaan apalagi untuk mengatakannya seorang shalih, budiman, bertaqwa, dan pemimpin umat Islam.

Karena itulah cerita-cerita seperti Yazid sering kali minum arak, seorang yang suka berfoya-foya, suka mendengar musik, dan menghabiskan waktu dengan penari-penari, begitu juga beliau adalah orang terlalu rendah jiwanya sehingga suka bermain dengan monyet dan kera, terlalu mudah diterima oleh umat Islam kemudian.

Tetapi soalnya, benarkah Yazid membunuh Sayyidina Husain? Atau benarkah Yazid memerintahkan supaya Sayyidina Husain dibunuh di Karbala?

Selagi tidak dapat ditentukan siapakah pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya dan terus diucapkan, “Yazid-lah pembunuhnya,” tanpa soal selidik yang mendalam dan teliti, maka selama itulah nama Yazid akan terus tercemar dan dia akan dipandang sebagai manusia yang paling malang. Tetapi bagaimana jika yang membunuh Sayyidina Husain itu bukan Yazid? Kemanakah pula akan kita bawa segala tuduhan-tuduhan liar, fitnah, dan caci maki yang selama ini telah kita sandarkan pada Yazid itu?

Jika kita seorang yang cintakan keadilan, berlapang dada, sudah tentu kita akan berusaha untuk membincangkan segala keburukan yang dihubungkan kepada Yazid selama ini dan kita pindahkannya ke halaman rumah pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya. Apalagi jika kita seorang Ahlus Sunnah wal Jamaah, sudah tentu dengan dengan adanya bukti-bukti yang kuat dan kukuh dari sumber-sumber rujukan muktabar dan berdasarkan prinsip-prinsip aqidah yang diterima di kalangan Ahlus Sunnah, kita akan terdorong untuk membersihkan Yazid daripada segala tuduhan dan meletakkannya ditempat yang istimewa dan selayak dengannya di dalam rentetan sejarah awal Islam.
Sekarang marilah kita pergi ke tengah-tengah medan penyelidikan tentang pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala bersama-sama dengan sekian banyak anggota keluarganya.

Pembunuh Sayyidina Husain Adalah Syiah Kufah

Terlebih dahulu kita akan menyatakan dakwaan kita secara terus terang dan terbuka bahwa pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya bukanlah Yazid, tetapi adalah golongan Syiah Kufah.
Dakwaan ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti-bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang muktabar. Kita akan membahagi-bahagikan bukti-bukti yang akan dikemukakan nanti kepada dua bagian :
  1.  Bukti-bukti utama
  2.  Bukti-bukti pendukung
I. Bukti-bukti Utama

Dengan adanya bukti-bukti utama ini, tiada mahkamah pengadilan yang dibangun untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan akan memutuskan Yazid sebagai terdakwa dan sebagai penjahat yang bertanggungjawab di dalam pembunuhan Sayyidina Husain. Bahkan Yazid akan dilepaskan dengan penuh penghormatan dan akan terbongkarlah rahasia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya di Karbala.

Bukti pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahwa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan “At Tawwaabun” yang konon menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah karena kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina.

Air mata darah yang dicurahkan oleh golongan “At Tawaabun” itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun coba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu cara.

Pengakuan Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama-ulama Syiah yang merupakan tunggak dalam agama mereka seperti Baqir Majlisi, Nurullah Syustri, dan lain-lain di dalam buku mereka masing-masing. Baqir Majlisi menulis :

“Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, “Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh “Penghulu Pemuda Ahli Surga” karena Ibnu Ziad anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibnu Ziad tetapi tidak berguna apa-apa.” (Jilaau Al ‘Uyun, halaman 430)

Qadhi Nurullah Syustri pula menulis di dalam bukunya Majalisu Al Mu’minin bahwa setelah  sekian lama (lebih kurang 4 atau 5 tahun) Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syiah mengumpulkan orang-orang Syiah dan berkata,

“Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampuni kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita.” Dengan itu berkumpullah sekian banyak orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, “Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu.” (Al Baqarah: 54). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelar “At Tawaabun.”

Sejarah tidak lupa dan tidak akan melupakan peranan Syits bin Rab’i di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tahukah Anda siapa itu Syits bin Rab’i? Dia adalah seorang Syiah tulen, pernah menjadi duta pada Sayyidina Ali di dalam peperangan Shiffin, senantiasa bersama Sayyidina Husain. Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap pemerintahan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?
Sejarah memaparkan bahwa dialah yang mengepalai 4.000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. (Jilaau Al Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, halaman 37)

Adakah masih ada orang yang ragu-ragu tentang Syiah-nya Syits bin Rab’i dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mullah Baqir Majlisi, seorang tokoh Syiah terkenal? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan dari pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan itu.
Lihatlah pula kepada Qais bin Asy’ats, ipar Sayyidina Husain, yang tidak diragui tentang Syiahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah menjelaskan kepada kita bahwa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya selepas selesai pertempuran? (Khulashatu Al Mashaaib, halaman 192)

Selain dari pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain, pernyataan saksi-saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala, yang terus hidup selepas peristiwa ini, juga membenarkan dakwaan ini termasuk pernyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat direkam oleh sejarah sebelum beliau terbunuh. Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang- orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau:

“Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim, dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-musuh di dalam menentang kami.” (Jilaau Al Uyun, halaman 391).

Beliau juga berkata kepada Syiah:

“Binasalah kamu! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa sembarang permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sembarang sebab?” (Ibid).
Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau:

“Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan selerakkanlah mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka karena mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami.” (Ibid)

Beliau juga dicatat telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya:

“Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat… Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia adzab Tuhan untukmu  di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya.” (Mullah Baqir Majlisi – Jilaau Al Uyun, halaman 409).

Dari kata-kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mullah Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahwa:
  1. Propaganda yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam melalui penulisan sejarah bahwa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar, Uhud, Shiffin, dan lain-lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata karena pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Kufah.
  2. Keadaan Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan termakbulnya doa Sayyidina Husain di medan Karbala atas Syiah.
  3. Upacara menyiksa badan dengan memukul tubuhnya dengan rantai, pisau, dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syiah. Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah terjadi upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahwa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.
  4. Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian banyak anggota keluarganya, walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau. Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya karena sebaik saja mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Dzuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara berkabung ini setiap kali tibanya 10 Muharram?
Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup selepas terjadinya peristiwa itu juga berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang merentap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka,

“Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka?” (At Thabarsi, Al Ihtijaj, halaman 156).

Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Kata beliau,

“Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sadar bahwa kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu karena amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu.”

Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya,

“Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum kering karena kezalimanmu itu. Keluhan kami belum terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran… Adakah kamu meratapi kami, padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tumpukan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun.” (Jilaau Al  Uyun, halaman 424).

Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga hari ini.

Ummu Kultsum anak Sayyidatina Fatimah berkata sambil menangis di atas sekedupnya, “Wahai orang-oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku, Husain, kemudian tidak membantunya, bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari Ahli Bait-nya. Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu.”

Beliau juga berkata, ” Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti.” (Ibid, halaman 426-428)

Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain berkata, “Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami, kemudian telah membunuh kakekku Ali (Sayyidina Ali). Senantiasa darah-darah kami menetes dari ujung-ujung pedangmu…… Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan terus menerus menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih.”

Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah binti Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri dimana pun Syiah berada.

Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Dari keterangan dalam keduaa bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :
  1. Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syiah.
  2. Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syiah.
  3. Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri daripada saudara-saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiah-lah yang telah membunuh mereka.
  4. Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung karena kematian orang-orang yang dibunuh oleh mereka.
Mahkamah di dunia ini menerima keempat perkara yang tersebut tadi sebagai bukti yang kukuh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenarnya di dalam suatu kasus pembunuhan, yaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan puncaknya ialah pengakuan pembunuh itu sendiri. Jika keempat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua pengadilan sebagai kasus pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragui lagi tentang pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain itu?

II. Bukti-bukti Pendukung

Walau bagaimanapun kita akan mengemukakan lagi beberapa bukti pendukung supaya lebih menyakinkan kita tentang golongan Syiah itulah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain. Di antaranya ialah:

Pertama
Tidak sukar untuk kita terima bahwa mereka sebagai pembunuh Sayyidina Husain apabila kita melihat sikap mereka yang biadab terhadap Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan sebelum itu. Begitu juga sikap mereka yang biadap terhadap orang-orang yang dianggap oleh mereka sebagai Imam selepas Sayyidina Husain. Bahkan terdapat banyak pula bukti yang menunjukkan merekalah yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan beberapa orang Imam walaupun mereka menuduh orang lain sebagai pembunuh Imam-imam itu dengan menyebar luaskan propaganda-propaganda mereka terhadap tertuduh itu.

Di antara kebiadaban mereka terhadap Sayyidina Ali ialah mereka menuduh Sayyidina Ali berdusta dan mereka pernah mengancam untuk membunuh Sayyidina Ali. Bahkan Ibnu Muljim yang kemudian membunuh Sayyidina Ali itu juga mendapat latihan serta didikan untuk menentang Sayyidina Utsman di Mesir dan berpura-pura mengasihi Sayyidina Ali. Dia pernah berkhidmat sebagai pengawal Sayyidina Ali selama beberapa tahun di Madinah dan Kufah.

Di dalam Jilaau Al Uyun disebutkan bahwa Abdul Rahman ibnu Muljim adalah salah seorang dari kelompok yang terhormat yang telah dikirimkan oleh Muhammad bin Abu Bakr dari Mesir. Dia juga telah berbai’at dengan memegang tangan Sayyidina Ali dan dia juga berkata kepada Sayyidina Hasan, ”Bahwa aku telah berjanji dengan Tuhan untuk membunuh bapakmu dan sekarang aku menunaikannya. Sekarang wahai Hasan, jika engkau mau membunuhku, bunuhlah. Tetapi kalau engkau maafkan aku, aku akan pergi membunuh Muawiyah pula supaya engkau selamat daripada kejahatannya.” (Jilaau Al Uyun, halaman 218)

Tetapi setelah golongan Syiah pada ketika itu merasakan rencana mereka semua akan gagal jika perjanjian damai di antara pihak Sayyidina Ali dan Muawiyah disetujui, maka golongan Syiah yang merupakan musuh-musuh Islam yang menyamar atas nama Islam itu memikirkan diri mereka tidak selamat apabila perdamaian antara Sayyidina Ali dan Muawiyah terjadi. Maka segolongan dari mereka telah mengasingkan diri dari mengikuti Sayyidina Ali dan mereka menjadi golongan 
Khawarij sementara segolongan lagi tetap berada bersama Sayyidina Ali. Perpecahan yang terjadi ini sebanarnya satu taktik mereka untuk mempergunakan Sayyidina Ali demi kepentingan mereka yang jahat itu dan untuk berlindung di balik beliau dari hukuman karena pembunuhan Khalifah Utsman.

Sayyidina Hasan pun pernah ditikam oleh golongan Syiah pahanya hingga tembus kemudian mereka menunjukkan pula kebiadabannya terhadap Sayyidina Hasan dengan merampas harta bendanya dan menarik kain sajadah yang diduduki oleh Sayyidina Hasan. Ini semua tidak lain melainkan karena Sayyidina Hasan telah bersedia untuk berdamai dengan pihak Sayyidina Muawiyah. Bahkan bukan sekadar itu saja mereka telah menuduh Sayyidina Hasan sebagai orang yang menghinakan orang-orang Islam dan sebagai orang yang menghitamkan muka orang-orang Mukmin.
Kebiadaban Syiah dan kebusukan hatinya ditujukan juga kepada Imam Ja’far Ash Shadiq bila seorang Syiah yang sangat setia kepada Imam Ja’far Ash Shadiq, yaitu Rabi’, menangkap Imam Ja’far Ash Shadiq dan membawanya kehadapan Khalifah Al Mansur supaya dibunuh. Rabi’ telah memerintahkan anaknya yang paling keras hati supaya menyeret Imam Ja’far Ash Shadiq dengan kudanya. Ini tersebut di dalam kitab Jilaau Al Uyun karangan Mullah Baqir Majlisi.

Di dalam kitab yang sama, pengarangnya juga menyebutkan kisah pembunuhan Ali Ar Ridha yaitu Imam yang ke delapan menurut Syiah, bahwa beliau telah dibunuh oleh Sabih Dailamy, seorang Syiah tulen atas perintah Al Makmun. Diceritakan bahwa selepas dibunuh itu, Imam Ar Ridha dengan mukjizatnya terus hidup kembali dan tidak ada langsung bekas-bekas pedang di tubuhnya.
Bagaimanapun Syiah telah menyempurnakan tugasnya untuk membunuh Imam Ar Ridha. Oleh karena itu, tidaklah heran golongan yang sampai begini biadabnya terhadap Imam-imam bisa membunuh Sayyidina Husain tanpa belas kasihan di medan Karbala.

Boleh jadi kita akan mengatakan bagaimana mungkin pengikut-pengikut setia Imam-imam ini yang dikenal dengan sebutan ‘Syiah’ bisa bertindak kejam pula terhadap Imam-imamnya? Tidakkah mereka sanggup mempertahankan nyawa demi mempertahankan Iman-imam mereka? Secara ringkas, bolehlah kita katakan bahwa ‘perasaan keheranan’ yang seperti ini mungkin timbul dari dalam fikiran Syiah, yang tidak mengetahui latar belakang terbentuknya Syiah itu sendiri. Mereka hanya menerima secara membabi buta daripada orang-orang terdahulu. Adapun orang-orang yang mengadakan sesuatu fahaman dengan tujuan-tujuan yang tertentu dan masih hidup ketika mana ajaran dan fahaman itu mula dikembangkan tentu sekali mereka sedar maksud dan tujuan mereka mengadakan ajaran tersebut. Pada lahirnya mereka menunjukkan taat setia dan kasih sayang kepada Imam-imam itu, tetapi pada hakikatnya adalah sebaliknya.

Kedua

Di antara bukti yang menunjukkan tidak adanya peranan Yazid dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala, bahkan golongan Syiah-lah yang bertanggungjawab membunuh beliau bersama dengan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongan itu, ialah adanya hubungan perbesanan di antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, selepas terjadinya peperangan Shiffin dan juga selepas terjadinya peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala.

Tidak mungkin orang-orang yang memiliki kehormatan seperti kalangan Ahlul Bait akan menikah dengan orang-orang yang diketahui oleh mereka sebagai pembunuh-pembunuh atau orang-orang yang bertanggungjawab di dalam membunuh ayah, kakek, atau paman mereka Sayyidina Husain. Hubungan ini, selain menunjukkan pemerintah-pemerintah dari kalangan Bani Muawiyah dan Yazid sebagai orang yang tidak bersalah di dalam pembunuhan ini, juga menunjukkan mereka adalah golongan yang banyak berbudi kepada Ahlul Bait dan senantiasa menjalinkan ikatan kasih sayang di antara mereka dan Ahlul Bait.

Di antara contoh hubungan perbesanan ini ialah:
  1. Anak perempuan Sayyidina Ali sendiri bernama Ramlah telah menikah dengan anak Marwan bin Al Hakam yang bernama Muawiyah yaitu saudara Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. (Ibn Hazm, Jamharatu Al Ansab, halaman 80)
  2. Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali menikah dengan Amirul Mukminin Abdul Malik sendiri yaitu khalifah yang ke empat dari kerajaan Bani Umayah. (Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 9 halaman 69)
  3. Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali yaitu Khadijah menikah dengan anak gubernur  ’Amir bin Kuraiz dari Bani Umayah bernama Abdul Rahman. (Jamharatu An Ansab, halaman 68). ‘Amir bin Kuraiz adalah gubernur pihak Muawiyah di Basrah dan dalam peperangan Jamal dia berada di pihak lawan Sayyidina Ali.
Cucu Sayyidina Hasan bukan seorang dua orang saja yang telah menikah dengan pemimpin-pemimpin kerajaan Bani Umayah, bahkan sejarah telah mencatat 6 orang dari cucu beliau telah menikah dengan mereka yaitu:
  1. Nafisah binti Zaid bin Hasan menikah dengan Amirul Mukminin Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan.
  2. Zainab binti Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali juga telah menikah dengan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik. Zainab ini adalah di antara orang yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah dan dia adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala dengan mata kepalanya sendiri.
  3. Ummu Qasim binti Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali menikah dengan cucu Sayyidina Utsman yaitu Marwan bin Aban. Ummu Qasim ini selepas kematian suaminya Marwan menikah pula dengan Ali Zainal Abidin bin Al Husain.
  4. Cucu perempuan Sayyidina Hasan yang keempat telah menikah dengan anak Marwan bin Al Hakam yaitu Muawiyah.
  5. Cucu Sayyidina Hasan yang kelima bernama Hammaadah binti Hasan Al Mutsanna menikah dengan anak saudara Amirul Mukminin Marwan bin Al Hakam yaitu Ismail bin Abdul Malik.
  6. Cucu Sayyidina Hasan yang keenam bernama Khadijah binti Husain bin Hasan bin Ali juga pernah menikah dengan Ismail bin Abdul Malik yang tersebut tadi sebelum sepupunya Hammaadah.
Perlu diingat bahwa semua mereka yang tersebut itu meninggalkan keturunan.
Dari kalangan anak cucu Sayyidina Husain pula banyak yang telah menjalinkan perkawinan dengan individu-individu dari keluarga Bani Umayah, antaranya ialah:
  1. Anak perempuan Sayyidina Husain yang terkenal bernama Sakinah. Setelah beberapa lama terbunuh suaminya, Mush’ab bin Zubair, beliau telah menikah dengan cucu Amirul Mukminin Marwan yaitu Al Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan. Asbagh ini adalah saudara dari Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, sedangkan isteri Asbagh yang kedua ialah anak dari Amirul Mukminin Yazid yaitu Ummu Yazid. (Jamharatu Al Ansab)
  2. Sakinah anak Sayyidina Husain yang tersebut tadi pernah juga menikah dengan cucu Sayyidina Uthman yang bernama Zaid bin Amar bin Utsman.
Sementara anak cucu kepada saudara-saudara Sayyidina Husain yaitu Abbas bin Ali dan lain-lain juga telah mengadakan perhubungan perbesanan dengan keluarga Umayah. Di antaranya yang bisa disebutkan ialah:

Cucu perempuan dari saudara Sayyidina Husain yaitu Abbas bin Ali bernama Nafisah binti Ubaidillah bin Abbas bin Ali menikah dengan cucu Amirul Mukminin Yazid yang bernama Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Kakek dari  Nafisah ini yaitu Abbas bin Ali adalah di antara orang yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah. Beliau terbunuh dalam pertempuran di medan Karbala .

Sekiranya benar cerita yang diambil oleh ahli -ahli sejarah dari Abu Mukhnaf, Hisyam dan lain–lain tentang kezaliman Yazid di Karbala yang dikatakan telah memerintahkan supaya tidak dibenarkan setitik pun air walaupun kepada anak–anak yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain itu sehingga mereka mati kehausan apakah mungkin perkawinan di antara cucu kepada Abbas ini terjadi dengan cucu Yazid. Apakah kekejaman–kekejaman yang tidak ada tolak bandingnya seperti yang digambarkan di dalam sejarah boleh dilupakan begitu mudah oleh anak–anak cucu orang–orang yang teraniaya di medan Karbala itu? Apa lagi jika dilihat kepada zaman terjadinya perkawinan mereka ini, bukan lagi di zaman kekuasaan keluarga Yazid, bahkan yang berkuasa pada ketika itu ialah keluarga Marwan. Di sana tidak terdapat satu pun alasan untuk kita mengatakan perkawinan itu terjadi secara kekerasan atau paksaan.

Perkawinan mereka membuktikan kisah–kisah kezaliman yang dilakukan oleh tentara Yazid kepada rombongan Sayyidina Husain itu cerita–cerita rekaan oleh Abu Mukhnaf, Al Kalbi dan anaknya Hisyam, dan lain–lain.

Cucu perempuan dari saudara Sayyidina Husain, Muhammad bin Ali (yang terkenal dengan Muhammad bin Hanafiyah) bernama Lubabah menikah dengan Said bin Abdullah bin Amr bin Said bin Al Ash bin Umayah. Ayah Lubabah ini ialah Abu Hisyam Abdullah yang dipercayai sebagai imam oleh Syiah Kaisaniyah.

Demikianlah ringkasnya dikemukakan hubungan perbesanan yang berlaku di antara Bani Umaiyyah dan Bani Hasyim terutamanya dari anak cucu Sayyidina Ali, Hasan dan Husain. Hubungan perbesanan di antara mereka sangat banyak terdapat di dalam kitab-kitab Ansab dan sejarah. Pengetahuan lebih lanjut bisa dirujuk dari kitab–kitab seperti Jamratu Al Ansab, Nasbu Quraisy, Al Bidayah wa An Nihayah, Umdatu Al Thalib Fi Ansab Aal Abi Thalib, dan lain–lain.