Kamis, 18 Desember 2014

Mengenal Puasa Sunnah



Pendahuluan

            
Ini merupakan Tulisan tentang Mengenal Puasa (shaum) Sunnah. Sebelum kita mengetahui shaum sunnah, mari sedikitnya kita mengetahui shaum yang wajib untuk dilaksanakan sebagai seorang Muslim. Ada 2 macam puasa (shaum) yang wajib yang harus dikerjakan apabila ditinggalkan maka akan berdosa. Puasa wajib tersebut tidak lain adalah: Puasa (shaum) Ramadhan, Puasa (shaum) Nazar (Janji).

            
Puasa Ramadhan: Puasa ini merupakan Puasa yang wajib diikuti oleh seluruh Umat Islam yang ada di seluruh Dunia, dimana puasa Ramadhan ini merupakan rangkaian Rukun Islam yang harus dijalani. Lama puasa Ramadhan ini mencapai 29 hari. Namun, ada juga yang sampai 30 hari tergantung dari tampat Hilal itu berdiri dan diputuskan biasanya oleh seorang Ulama yang ahli dibidang Isbat.
                
Puasa Nazar: Puasa nazar ini merupakan puasa janji. Biasanya bila mendapatkan, melakukan sesuatu dan lain sebagainya dan apa yang dilakukannya berhasil maka seseorang tersebut akan melaksanakan puasa nazar. Lama puasa nazar tergantung dari berapa hari kita janjikan untuk melakukan puasannya, kalau seminggu yah harus dikerjakan semiggu.  



Mengenal Puasa Sunnah lebih dekat
            
Ada sekitar lima puasa sunnah yang kita ketahui diantaranya yaitu:

1. Puasa Senin & Kamis
2. Puasa Ayyamul Bidh
3. Puasa 6 hari di bulan Syawwal
4. Puasa Arafah
5. Puasa Asyura &Tasu'a

Berikut penjelasan-penjelasan puasa sunnah sebagai berikut:  

1. Puasa  Senin  & Kamis 



Waktu : hari  Senin  dan  hari  Kamis .

Hikmah : menambah  derajat  kemuliaan  ,karena  amal manusia  ditunjukkan  pada  Allah swt

pada  setiap   hari  senin  dan  hari  kamis . 

Mengapa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita mesti puasa sunnah pada tiap hari Senin dan Kamis? Dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Segala amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Tirmidzi)
 Puasa yang dilakukan secara rutin dapat memberikan banyak manfaat bagi fisik/lahiriah maupun jiwa/bathiniah.

Beberapa manfaat puasa Senin-Kamis bagi kesehatan jasmani antara lain adalah:
 Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan.  
Karena pada hari saat kita tidak berpuasa alat penceranaan di dalam tubuh bekerja sangat keras, dan pada saat puasalah alat pencernaan tersebut beristirahat 

Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi).
Dengan puasa Senin-Kamis, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksi dan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh. 

Mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan gizi, yang belum tentu baik untuk kesehatan seseorang.
Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain.  

2. Puasa Ayyamul Bidh



Waktu : pada  hari  ke  13 , 14  dan  ke  15  setiap  bulan  ( kecuali  hari  tasyrik  13  Dzulhijjah ).


Hikmah : berpeluang  mendapat  pahala  seperti  puasa  selama  setahun.
 Kenapa puasa ini begitu istimewa? Ada beberapa Alasan mengapa puasa ini terasa begitu istimewa, antara lain: 

Bahwa puasa ini memiliki ganjaran yang sangat besar di sisi Allah, sudah tentu kita sebagai umat muslim akan rugi jika melewatkannya. 
  
Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai) 

Puasa ini juga puasa yang selalu dilakukan (sunah muakkad) oleh teladan terbaik kita Rasulullah Muhammad Saw, dan beliau juga mewasiatkannya kepada para sahabatnya juga umatnya: 

Abu Hurairah ra. Berkata, “Teman dekatku (Nabi Muhammad saw.) berpesan tiga hal kepadaku: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih) 

Ibnu Abbas ra. berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul-Bidh, baik di rumah maupun sedang bepergian.” (HR. Nasa’i. Sanad hadits ini hasan) 

Luar biasa? pastinya…jadi tunggu apa lagi, pasang reminder di HP dan niatkan untuk melakukan puasa ini setiap bulannya.

Kapan, nih?
 Terus gimana kalau terlewat atau lupa, atau hari tersebut jatuh pada hari dimana tidak diperbolehkan puasa misalnya…dan apakah harus di tiga hari tersebut?

Mu’adzah Al-Adawiyyah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah ra., “Apakah Rasulullah saw. berpuasa tiga hari setiap bulan?” Aisyah menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Dari bagian bulan mana beliau berpuasa?” Aisyah menjawab, “beliau tidak peduli dari bagian mana beliau berpuasa.” (HR. Muslim)
 Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada pengkhususan di hari berapa puasa sunah 3 hari setiap bulannya. Dan Yusuf Qardhawi dalam fiqh puasa juga berpendapat bahwa perbedaan hadits dalam menetapkan hari- hari puasa menunjukkan adanya toleransi. Setiap muslim boleh saja berpuasa di awal bulan, tengah bulan, atau akhir bulan, sesuai dengan kemudahan dan kesempatan yang ia miliki. Tapi kembali kata imam Nawawi, dalam hadits lain dijelaskan bahwa yang paling utamaadalah di harike -13, 14, dan 15 , seprti  dalam hadist:

Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. At Tirmidzi)

3. Puasa 6 hari di bulan Syawwal

Waktu  :  hanya  pada  hari hari  selama  bulan  Syawal.

Hikmah : yang  melaksanakan  puasa  6  hari  di  bulan  syawal  setelah  puasa  ramadhan  maka

pahalanya  sama  dengan  jika  puasa  selama  1  thn  penuh .

Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim). 

Imam Ahmad dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hubban dalam “Shahih” mereka) 

Dari Abu Hurairah radhallaahu ‘anhu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun.” (HR. al-Bazzar) 

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa enam hari penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka. 

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfa’at, di antaranya: 

1.  Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2.   Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.


3.  Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi.” (QS. an-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfa’at puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci. 

Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta’ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun.” 

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal. 

Ketahuilah amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a’a berfirman, “Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr: 99)

4. Puasa Ara'fah



Waktu : tanggal  9  Dzulhijjah


Hikmah :  dapat  menghapus  dosa  2 tahun ,1  tahun  yang  lalu  dan  1  thn  yang  akan  datang.
 
Hari Arafah memang salah satu hari istimewa, karena pada hari itu Allah membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah di hadapan para malaikat-Nya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, 'Apa yang dikehendaki oleh mereka ini?'” (HR. Muslim, no. 1348; dan lainnya dari 'Aisyah).


Olah karena itulah, tidak aneh jika kaum muslimin yang tidak wukuf di Arafah disyariatkan berpuasa satu hari Arafah ini dengan janji keutamaan yang sangat besar.


Marilah kita renungkan hadits di bawah ini, yang menjelaskan keutamaan puasa Arafah, yang disyariatkan oleh Ar-Rahman Yang Memiliki sifat rahmat yang luas dan disampaikan oleh Nabi pembawa rahmat kepada seluruh alam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah).


Alangkah pemurahnya Allah Ta'ala. Puasa sehari menghapuskan dosa dua tahun! Kaum muslimin biasa berpuasa satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, dan mereka sanggup melakukan. Maka, sesungguhnya berpuasa satu hari Arafah ini merupakan perkara yang mudah, bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala.


Barangsiapa membaca atau mendengar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia ini pastilah hatinya tergerak untuk mengamalkan puasa tersebut. Karena, setiap manusia pasti menyadari bahwa dia tidak dapat lepas dari dosa.

Dosa Apa yang dihapus?

Apakah dosa-dosa yang dihapuskan itu meliputi semua dosa, dosa kecil dan dosa besar? Atau hanya dosa kecil saja? Dalam masalah ini para ulama berselisih.

Sebagian ulama, termasuk Ibnu Hazm rahimahullah, berpendapat sebagaimana zhahir hadits. Bahwa semua dosa terhapuskan, baik dosa besar, atau dosa kecil.

Namun jumhur ulama, termasuk Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Ibnu Rajab, berpendapat bahwa dosa-dosa yang terhapus dengan amal-amal shalih, seperti wudhu', shalat, shadaqah, puasa, dan lainnya, termasuk puasa Arafah ini, hanyalah dosa-dosa kecil.

Pendapat jumhur ini di dukung dengan berbagai alasan, antara lain:

Allah telah memerintahkan tobat, sehingga hukumnya adalah wajib. Jika dosa-dosa besar terhapus dengan semata-mata amal-amal shalih, berarti taubat tidak dibutuhkan, maka ini merupakan kebatilan secara ijma'.

Nash-nash dari hadits lain yang men-taqyid (mengikat; mensyaratkan) dijauhinya dosa-dosa besar untuk penghapusan dosa dengan amal shalih.

Dosa-dosa besar tidak terhapus kecuali dengan bertobat darinya atau hukuman pada dosa tersebut. Baik hukuman itu ditentukan oleh syariat, yang berupa hudud dan ta'zir atau hukuman dengan takdir Allah, yang berupa musibah, penyakit, dan lainnya.

Bahwa di dalam syariat-Nya, Allah tidak menjadikan kaffarah (penebusan dosa) terhadap dosa-dosa besar. Namun, kaffarah itu dijadikan untuk dosa-dosa kecil (Lihat Jami'ul 'Ulum wal Hikam, syarh hadits no. 18, karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali).


Puasa Arafah untuk Selain yang Berada di Arafah

Kemudian, bahwa disunnahkannya puasa Arafah ini berlaku bagi kaum muslimin yang tidak wuquf di Arafah. Adapun bagi kaum muslimin yang wuquf di Arafah, maka tidak berpuasa, sebagaimana hadits di bawah ini,

“Dari Ummul Fadhl binti al-Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, 'Beliau berpuasa.' Sebagian lainnya mengatakan, 'Beliau tidak berpuasa.' Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari, no. 1988; Muslim, no. 1123).

5. Puasa Asy'suro & Tasu'a 

Waktu : tanggal  9  dan  10  Muharam  atau  10  dan  11  Muharam

Hikmah : menghapus  dosa dosa  kecil  setahun  yang  lalu .

Sebuah hadits Abu Qatadah Radiyyallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi Sallam bersabda : “Aku berdo’a pada Allah bahwa puasa pada hari Asyura dapat menebus dosa tahun yang lalu.” Riwayat Imam Muslim, Al-Jami’-Us-Sahih II/2602.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura, maka beliau menjawab: “Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297).

Ibnu Abbas menyatakan : “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaanya selain hari ini (Asyura’) dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan).” (HR. al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram. (HR. Muslim,1163).

Juga, “Abu Hurairah Radiyallahu Anhu meriwayatkan Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda : ” Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling utama sesudah salat fardlu adalah sholat malam.” HR Muslim II/2611.

Dalam hadits disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah! sesungguhnya Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan.” (HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).

Diperbolehkan untuk puasa hari Asyura. (hari kesepuluh Muharram) satu hari saja, akan tetapi hal itu menjadi lebih baik untuk puasa hari sebelumnya atau hari setelahnya juga dan ini adalah Sunnah yang diajarkan Nabi (Salallaahu `Alaihi wa Sallam) yang bersabda : “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan.” (hari Muharam), (Diriwayatkan oleh Imam Muslim (1134) dari Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Ibn Majah, Ibn Abi Syaibah, At-Tahawi, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi]. Ibn ‘ Abbas ( radliyallaahu ‘ anhumaa) berkata : (bersama dengan hari yang kesepuluh (bulan muharam).

“Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245), red)

Selain  puasa2  sunnah  diatas  masih  ada  puasa  sunnah  yang  lainnya  seperti  puasa  N.Daud  sehari  puasa  sehari  tidak  kecuali  2  hari  raya  ( Idhul  Fitri  dan Idhul  Adha )  dan 3  hari  tasyrik  .Puasa pada  10  hari  pertama  pada  bulan  Dzulhijjah, puasa  bulan  Muharam  dan  puasa  bulan  Sya’ban  semua  puasa  sunnah itu  ada  hikmahnya asal  dijalani  dengan ikhlas  Lillah hita’alla ,artinya walaupun  perut  kosong  jangan  marah-marah,  jangan  gibah,  jangan  bohong &  jangan  riya.


Puasa Ditinjau dari Segi Kesehatan menurut Para Ahli
  
Hal ini juga diakui oleh beberapa orang ahli dari Barat yang non-muslim, seperti Allan Cott M.D (Amerika), Dr. Yuri Nikolayev (Rusia) dan Alvenia M. Fulton (Amerika).

Allan Cott M.D bahkan telah membukukan beberapa hikmah dari puasa ke dalam sebuah buku yang berjudul Why Fast?

Berikut adalah beberapa hikmah dari puasa yang diambil dari buku Why Fast? :
  1. To feel better physically and mentally (merasa lebih baik secara fisik dan mental)
  2. To look and fell younger (supaya terlihat dan merasa lebih muda)
  3. To clean out the body (membersihkan badan)
  4. To lower blood pressure and cholesterol levels (menurunkan tekanan darah dan kadar lemak)
  5. To get more out of sex (lebih mampu mengendalikan sex)
  6. To let the body health itself (membuat tubuh sehat dengan sendirinya)
  7. To relieve tension (mengendorkan/melapaskan ketegangan jiwa)
  8. To sharp the senses (menajamkan fungsi indrawi)
  9. To gain control of oneself (memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri)
  10. To slow the aging process (memperlambat proses penuaan)
Sementara itu, Dr. Yuri Nikolayev berpendapat bahwa kemampuan puasa yang bisa membuat seseorang menjadi awet muda adalah sebagai suatu penemuan terbesar abad ini. Beliau mengatakan: “What do you think is the most important discovery in our time? The radioactive watches? Exocet bombs? In my opinion the bigest discovery of our time is the ability to make onself younger phisically, mentally and spiritually through rational fasting.” (Menurut pendapat Anda, apakah penemuan terpenting pada abad ini? Jam radioaktif? Bom exoset? Menurut pendapat saya, penemuan terbesar dalam abad ini ialah kemampuan seseorang membuat dirinya tetap awet muda secara fisik, mental, dan spiritual, melalui puasa yang rasional).

Alvenia M. Fulton, Direktur Lembaga Makanan Sehat “Fultonia” di Amerika Serikat menyatakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik perempuan secara alami. Puasa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Puasa menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh (fasting is the ladies best beautifier, it brings grace charm and poice, it normalizes female functions and reshapes the body contour).


Penutup


Ketiga orang ahli tersebut yang notabene adalah non-muslim bahkan mengakui kehebatan dari puasa. Mengapa kita yang muslim justru terkadang melalaikannya? Padahal jelas sekali Rasulullah telah bersabda seperti di atas tersebut.


Mari kita mulai berpuasa, jangan menunggu hingga Ramadhan tiba untuk berpuasa karena belum tentu usia kita akan sampai ke Ramadhan mendatang. Mari kita mulai dengan puasa sunnah minimal belajar puasa Senin-Kamis. Dan jangan lupa untuk sahur dan berbuka mengikuti anjuran Rasulullah saw.



Bahan:  Berbagai Sumber 
 

 
 

Senin, 03 November 2014

Jilbab adalah Keshalihan Pribadi, Akhlak adalah Keshalihan Sosial

Oleh Ustadz Awy’ A. Qolawun


Sebenarnya, berjilbab (menutup aurat) itu tidak ada hubungannya dengan akhlak, dengan moralitas. Dalam pandangan masyarakat kita, wanita berjilbab selalu diidentikkan sebagai wanita yang santun, kalem, rajin shalat,rajin bersedekah, sering hadir di majelis pengajian, dan berbagai predikat kesalehan lainnya.
Boleh jadi -dan faktanya- sebagian besar wanita berkerudung memang seperti yang dipersepsikan masyarakat. Sebaliknya, muslimah yang tak berkerudung, meski akhlaknya baik, tentu saja dipandang tak sebaik muslimah berkerudung. Ini tentunya merupakan hal yang lumrah dan spontanitas muncul dalam benak masyarakat.
Akibatnya, jika kebetulan ada wanita berjilbab melakukan sesuatu yang kontradiktif dengan persepsi jilbab yang dikenakannya, maka sebagian besar masyarakat langsung mengaitkannya dengan jilbab yang dia kenakan. Tindakannya itu dianggap tidak sesuai dg jilbabnya.
Lantas muncullah suara miring seperti, “Pakai jilbab, tapi kelakuannya seperti itu.”
Karena hal inilah, dampaknya adalah sebagian muslimah yang blum berjilbab memilih tetap bertahan pada pilihannya untuk tidak mengenakan jilbab. Mereka berpikiran sangat sederhana, “Daripada tidak bisa menjaga sikap saat mengenakan jilbab, lebih baik aku tidak mengenakannya biarlah aku menjilbabi hatiku terlebih dahulu, (nanti saja pakai jilbab kalau sudah tua, sudah mau mati).”
Atau muncul slogan ironis, “Lebih baik pakai rok mini tapi bermental jilbab, daripada pakai jilbab tapi bermental rok mini.”
Sebenarnya pengkonotasian pasti antara jilbab dengan keshalehan merupakan pemahaman yang kurang tepat dalam masyarakat kita dalam memandang hubungan antara jilbab dengan akhlak.
Karena pada dasarnya sudah seharusnya muslimah yang shalihah menjalankan agamanya dengan baik dan mengaplikasi perintah agama dalam kehidupan sehari-harinya, salah satunya adalah memakai jilbab.
Tetapi saya bisa mengatakan, bahwa sebenarnya tak ada hubungan sama sekali antara jilbab dan berakhlak baik. Berjilbab adalah murni perintah agama yang diberikan kepada kaum muslimah, tanpa melihat apakah moralnya baik atau buruk.
Jadi selama dia muslimah, berjilbab adalah kewajiban. Tentu saja ada muslimah tak berjilbab, tapi itu adalah pilihan pribadi dia.
Nah, setiap pilihan tentu ada konsekuensinya, dan risiko tidak mengikuti intruksi syariat tentu saja ada sanksinya dan sanksi syariat atas pelanggaran adalah dosa.
Memang, bermoral baik adalah tuntutan sosial, di samping tentu ajaran agama. Namun pada dasarnya pelaksanaan segenap taklimat agama yang berhubungan dengan larangan dan perintah (salah satunya tentang jilbab) adalah permasalahan menyendiri yang berhubungan dengan ketundukan seorang hamba pada Tuhannya.
Artinya,berakhlak baik tidak ada hubungan langsung dengan itu,meski tentu scara implisit dari sudut pandang lain berkorelasi dna terkait erat. Contoh mudahnya, meski penjahat sekalipun, ia tetap wajib menunaikan shalat.Bukan lantas karena jahat sehingga shalat tidak wajib baginya
Mungkin seorang muslimah yang belum berjilbab bilang cukup saya jilbabi hati saja dulu. Tetapi dia tetap harus mengakui bahwa berjilbab adalah wajib baginya.
Siap tidak siap, baik tidak baik, kewajiban muslimah adalah berjilbab (dalam konteks bahasa yang lebih umum, menutup aurat)
Jadi kalau kita surfing di internet dan kebetulan melewati judul-judul aneh semacam “jilbab bugil”, “berjilbab tapi telanjang”, atau di keseharian kita menemukan cewek berjilbab tapi bergaulnya dengan lawan jenis sangat Laa Haula wa laa quwwata illa billah, ngakak-ngakak, meluk-meluk, menggelayut manja pada lain jenis, jalan bergandengan, bergoncengan; atau akhir-akhir ini kita kerap menemukan berita muslimah berhijab (bahkan bercadar) yang terlibat kasus korupsi dan narkoba; maka jangan cepat-cepat menyalahkan jilbabnya. Karena dampak negatif generalisasi perspektif seperti itu adalah muslimah lain yang baik-baik dan berjilbab akhirnya menjadi objek omongan dan kecurigaan tak berdasar, “Jangan-jangan seperti itu juga.”
Karena sekali lagi,moralitas tak ada hubungan dengan jilbab,meski tentu dituntut dari gadis berjilbab untuk bermoral sesuai dg jilbabnya.
Jadi, kesimpulannya, jilbab adalah wajib dikenakan tiap muslimah yang telah masuk usia baligh, tanpa melihat apakah moralnya baik atau jelek. Dan moral adalah sesuatu yang sangat dituntut dalam kehidupan sosial sekaligus sebagai bentuk ihsan dalam beragama. Maka, itu yang harus diketahui setiap muslimah terlebih dahulu. Adapun setelahnya jika dia tidak mengenakan, itu pilihan pribadi, tentu saja berkonsekwensi dosa dan ada keharusan dari yang lain mengingatkan muslimah tadi untuk mengenakan jilbab.
Kalaupun si muslimah tadi tetap belum berkenan mengenakan, maka yang menasehati bebas tugas. Dan tentu saja sebaliknya, jika dia mengenakan jilbab, maka pahala akan terus mengalir padanya selama jilbab itu bertengger di kepalanya sebagai bentuk balasan atas ketaatan menjalankan perintah agama.
Soal jilbabnya lebar, kecil, bajunya ketat, longgar, itu bab menyendiri lagi yang berhubungan dg tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang.
Akhirnya, muslimah yang berjilbab dan berakhlak baik tentu saja adalah muslimah sempurna. Adapun muslimah yang berjilbab namun akhlaknya tidak baik atau akhlaknya baik tetapi belum berjilbab adalah muslimah yang belum sempurna dan sedang berproses menuju kepada kesempurnaan.
Semoga segera meraihnya. Allahumma amin..
(Sumber: Fimadani)

Kamis, 30 Oktober 2014

Hanya Indonesia yang mengabaikan Bahasa Penjajah

Dalam memperingati Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober kemaren, kebanyakan yang saya baca di setiap tulisan baik di media cetak dan media sosial, isinya kebanyakan adalah membahas agar para pemuda Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan. Namun, dalam tulisan saya ini saya akan membahan sederhana tentang bahasa saja, sebab bila membahas tentang kebangkitan pasti sudah banyak.


Ketika Negara Bekas Jajahan menjadikan Bahasa Jajahan sebagai Bahasa Nasional
            
Kita bisa melihat Negara-negara yang dimana bekas jajahan sebut saja Negara Brazil, bila kita kesana masyarakatnya pasti akan menggunakan bahasa Portugal. Karena Brazil bekas jajahan Portugal selama 500 tahun.

Bila kita berada di Mexico, Venezuela, kolombia, Peru atau Negara-negara yang berada di Amerika Latin lainnya, maka kita pasti akan mendapati mereka dengan berbahasa Spanyol. Karena Negara-negara tersebut bekas jajahan Spanyol selama ratusan tahun.    
            
Begitu juga dengan Negara-negara jajahan di benua Afrika seperti Aljazair, Tunisia, Maroko, dan Chad yang dijajah oleh Prancis. Bahkan dinegara mereka menjadikan Bahasa Prancis menjadi bahasa nasionalnya.
            
Malaysia bekas jajahan Inggris menggunakan bahasa Inggris, india kalangan terdidiknya juga menggunakan bahasa Inggris bahkan Negara-negara Oceania (Negara-negara kepulauan yang berada di Samudra Pasifik) seperti Fiji, Selandia Baru, Tonga, Palau, Solomon, Kirimbati dllmenggunakan bahasa inggris sebagai bahasa nasionalnya.

Cuma Indonesia yang Berani Beda
            
Begitulah pemaparan singkat Negara-negara dari Asia, Afrika, Amerika Latin yang bekas jajahan Spanyol, Protugal dan Inggris yang masih menggunakan bahasa jajahan bahkan tak tanggung-tanggung bahasa bekas jajahan tersebut dijadikannya sebagai bahasa nasional mereka.
            
Lalu bagaimana dengan Indonesia yang selama 3,5 abad dijajah oleh Belanda?...... apakah menggunakan bahasa belanda juga sebagai bahasa sehari-hari?..... ternyata tidak, bangsa Indonesia menolak menggunakan bahasa penjajah, bahasa Belanda. Bahkan bahasa belanda sudah dilupakan sama sekali oleh orang Indonesia.
            
Mengapa demikian?.... Jauh sebelum Indonesia merdeka, meskipun masih dibawa jajahan Belanda, bangsa Indonesia sudah dari dulu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional. Dan itu pun dibuktikan ketika Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Yang dimana kongres tersebut melahirkan sumpah pemuda yang isinya sebagai berikut:

“Sumpah Pemuda.
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu. Tanah Air Indonesia
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku berbangsa satu. Bangsa Indonesia
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku manjunjung bahasa persatuan. Bahasa Indonesia
HIDUP INDONESIA…… HIDUP INDONESIA…… HIDUP INDONESIA…….”

            
Dengan lahirnya sumpah pemuda dan menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalnya, ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki harga diri menolak menggunakan bahasa penjajah dan jati diri yang sangat kuat. Meski pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda, bangsa Indonesia tidak mau ikut-ikutan menggunakan bahasa dari penjajah Belanda.

Bahasa Juga bisa menjadi Penentu Perdamaian Negara.
            
Pernah mendengar, dengan bahasa sebuah wilayah Negara bisa bersatu tetapi dengan bahasa juga sebuah wilayah menjadi terpacah belah?..... mungkin sebagian besar dari kita belum pernah mendengarnya, tetapi ini perah terjadi di berbagai Negara yang ingin memisahkan diri karena perbedaan bahasa.
            
Kita belajar dari Pakistan barat dan Pakistan timur dimana Negara tersebut terpecah menjadi dua Negara disebabkan (tentu saja ada sebab lainnya) karena perbedaan bahasa sehingga Negara Pakistan Barat dan Pakistan Timur menjadi dua Negara, Pakistan dan Bangladesh.
            
Quebec, salah satu Negara bagian di Kanada, ingin memerdekakan diri. Salah satu alasannya karena mereka ingin bahasa Prancis sebagaian bahasa nasional resmi mereka. Di Belgia terjadi perseteruan antara pendudul yang menggunakan bahasa Belanda dengan penduduk yang sehari-hari menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi mereka. 
            
Namun berbeda dengan Negara Afrika selatan yang menjadikan 11 bahasa, baik bahasa penjajah maupun bahasa daerah atau etnis menjadi bahasa nasional. Hal ini dilakukan untuk mencegah peperangan dan perpecahan karena bahasa.
            
Begitu juga dengan Indonesia, bahkan lebih hebat ketimbang Negara-negara lain. Mengapa demikian? Indonesia memiliki banyak jumlah bahasa, bila dihitung Negara kita memiliki 746 bahasa, tetapi tiak berperang, malah sepakat dengan menetapkan 1 bahasa, yaitu bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuannya.

Terlebih bangsa Indonesia juga bangsa yang berkeinginan untuk bersatu dan mau berkorban menurunkan ego masing-masing tiap suku. Apalagi sejak bangsa Indonesia merdeka dengan slogan “Bhinaka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu dengan penduduk mayoritas musilm.
            
Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13 berbunyi:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
            
Mekipun berbeda-beda suku, bahasa dan bangsa seharusnya membuat semakin saling menyayangi dan menghormati satu sama lain, bukan malah menjadi sebab dari perpecahan, pertikaian apalagi sampai terjadi peperangan.

Tetaplah Bangga dan Bersyukur menjadi Orang Indonesia
            
Kita sebagai orang Indonesia memang sepantasnya berbangga diri karena banyak sekali orang-orang luar negeri baik dari Negara-negara Asia, Eropa, dan Afrika berbondong-bondong mempelajari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah lainnya ditengah-tengah anak-anak muda lebih suka dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Dan juga harus bersyukur Sang Maha Pencipta. Karena ini juga merupakan sebuah kenikmatan kelebihan dari bangsa kita yang memiliki ratusan bahasa dengan suku dan ras yang berbeda yang dimana Negara-negara manapun tidak dimilikinya selain bangsa kita sendiri.
            
Oleh sebab itu, mari kita sama-sama menjaga kekayaan bahasa daerah kita dan bahasa persatuan kita. Boleh kita belajar bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Prancis, bahasa Arab, bahasa Korea dan Jepang yang saat ini lagi buming dan digemari oleh anak-anak muda sekarang dan bahasa Mandarin dan lain sebagainya. Tetapi kita jangan sampai lupa dengan bahasa daerah kita dan bahasa Ibu (persatuan) kita. Semoga bangsa kita ini menjadi bangsa yang besar dan hebat dimata dunia Internasional. Aamiin.

(Sumber sebagian dari buku gara-gara Indonesia) 

Minggu, 26 Januari 2014

Pemimpin Berhati Iblis

Akhir-akhir ini memang telah muncul banyak pemimpin yang sesungguhnya maupun yang karbitan. Yang serius maupun yang membingungkan. Yang Istiqamah (Konsisten) maupun yang mencle-mencle, yang ikhlas mernurani maupun "berhati setan". Tentang fenomena terakhir ini, telah dinubuwatkan Nabi SAW. sebagaimana didokumentasikan Muhammad Bin ABu Bakar dalam kitabnya yang kondang Al-'Usfuriyah bab akhir.

Diberitakan oleh Abdullah ibnu Abbas R.A., bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Pada akhir masa kelak akan lahir golongan (yang dipimpin) oleh mereka yang berwajahnya manusia, tetapi hatinya seperti setan. Mereka ibarat serigala buas yang tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali. Mereka suka menumpahkan darah dan gemar keburukan".

Jika anda mengikuti ajakannya, mereka akan membinamu. Sebaliknya, jika menjauhinya, anda dicela, bahkan dimusuhinya. Ciri-ciri lain: bila anda memberikan amanat, mereka berkhianat. Para remaja mereka suka ugal-ugalan di jalan, sedang orangtuanya bergeming maksiat. Mereka tidak menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran. Hukum (syariat) di tengah kelompok ini adalah bid'ah dan sebaliknya bid'ah bagi mereka dianggap Sunnah. Sehingga, tatkala Tuhan membiarkan mereka berkuasa, lantas ada sedikit yang salah berdoa, sedangkan doanya pun tida diterima.

Selaras dangan Teks tersebut, lalu Muhammad bin Abu Bakar meriwayatkan melalui As-Syaikh Muslim Al-Badani, bahwa Nabi pernah bersabda, "Akan datang suatu zaman, orang akan menganggap sunnahku sudah asing, kemudian memunculkan bid'ah. Maka, barangsiapa mengikuti sunnahku saat itu, mereka menjadi asing. Barangsiapa yang mengikuti bid'ah mereka akan mendapati banyak pendukung." Para sahabat bertanya, "Apakah mereka melihatmu ya Rasul?" Nabi Menjawab, "Tidak!" Mereka bertanya lagi. "Apakah turun wahyu kepada mereka?" kata Nabi, "Tidak! mereka seperti garang di dalam air. Hati mereka meleleh seperti garam di dalam air." Sahabat bertanya, "Seperti ulat didalam cuka." Lantas ada sahabat yang menukas, "Bagaimana mereka menjaga agamanya?"  Bersabdalah Baginda Rasulullah SAW., "Mereka seperti memegang bara api, jika kamu letakkan padam, jika tersentuh niscaya membakar".

Bagaimana kiat kita menghadapi fenomena zaman seperti ini? Tentu saja jalan menuju selamat itu, tidak lain adalah sikap Istiqamah; dan selalu menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai satu-satu petunjuk meraih kebenaran dan keridhaan Allah. Sekaligus kita menjadikan kedua syariat tadi sebagai pemisah atas yang hak dan batil.

Di samping itu, harus ada kesadaran iman dari setiap individu muslim, bahwa kita harus yakin sejak dini bila ingin menjadi muslim yang baik. Juga, jangan terlampau berlebihan fanatisme pada pemimpin golongan. Ingat, idola setiap muslim itu adalah Rasulullah SAW. yang kepemimpinannya hidup dalam ajaran yang kita anut.
Wallahu a'lam   

Dari buku Islam Idealitas, Islam Realitas.