Senin, 09 September 2013

Etika Dakwah Dunia Maya Bagian 1: Etika Debat dan Diskusi



Dakwah adalah suatu kewajiban yang telah Allah pesankan pada seluruh manusia. Tidak terbagi apakah dia laki-laki ataupun perempuan. Dakwah juga tidak terbatas oleh tempat dan waktu. Dakwah juga tidak dibatasi oleh wasilah yang digunakan untuk menyampaikan seruan Allah. Dakwah adalah kewajiban mulia yang dijalankan oleh para Nabi dan Rasul, lalu dilanjutkan oleh para pewarisnya dari kalangan para ulama dan kaum muslim semuanya.

Dakwah pasti melibatkan wasilah (cara). Fakta masa sekarang menunjukkan, dakwah tidak hanya terjadi lewat wasilahkonvensional dan tradisional saja, melainkan sudah ramai terjadi dalam wasilah yang lebih kontemporer dan modern seperti lewat audio-video dan yang paling ramai adalah internet dan turunannya seperti forum mailing list, forum diskusi, forum jejaring sosial, messenger, chatting, blog dan website dan cara-cara yang lainnya.

Sayangnya, banyak diantara wasilah-wasilah dakwah dan niat-niat dakwah yang baik ini akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mudharat dan tidak bermanfaat. Saya sendiri secara pribadi merasa sedih dan kecewa ketika menyaksikan sebagian ummat muslim yang seharusnya lebih faham daripada sebagian yang lainnya akhirnya terjebak (mungkin tanpa sadar) aktivitas keharaman dalam wasilah modern internet ini. Oleh karena itu saya mencoba untuk menulis sebuah penjelasan tentang panduan-pamduan dakwah khususnya lewat media internet ini agar seorang muslim dapat lebih bijaksana dan syar’i dalam memanfaatkannya.

Berdakwah di dunia maya tidaklah sama dibandingkan dengan dakwah di dunia nyata. Di dunia nyata kita mengetahui siapa objek dakwah kita secara langsung dan melihatnya secara fisik, terjadi kontak mata dan komunikasi dapat berlangsung secara hampir sempurna. Berbeda dengan dunia maya, yang kita tidak mengetahui objek dakwah kita dan kontak yang terjadi biasanya hanya lewat tulisan dan gambar. Karena itu bisa dikatakan dakwah di dunia nyata memiliki keterbatasan dibandingkan dunia nyata.

A. Debat di dunia maya
Dalam dunia maya, acapkali kita melihat diskusi atau debat yang terjadi dalam membahas suatu masalah. Memang betul, debat (jidal) adalah suatu cara untuk berdakwah dan itu diperbolehkan Allah swt, sebagaimana yang disampaikan-Nya dalam al-Qur’an

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS an-Nahl [16]: 125)

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS al-Mujaadilah [58]: 1)

Selain memperbolehkan wasilah debat atau diskusi ini, Allah dan rasul-Nya pun telah menentukan aturan-aturan dalam melakukan debat ini. Secara garis besar anjuran debat dalam Islam ini adalah:

1. Debat dilakukan dalam tataran ide yang sedang diperdebatkan
Debat dilakukan dengan menyerang dan menjatuhkan argumentasi-argumentasi yang batil, lalu memberikan argumentasi-argumentasi yang jitu dan benar, berdasarkan kajian hingga sampai pada suatu kebenaran. Karena itu, seperti telah disebut, debat mengandung dua sifat, yaitu merobohkan dan membangun; menjatuhkan dan menegakkan argumentasi-argumentasi. Di antara teladan cara debat yang diajarkan al-Quran adalah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu heran terdiamlah orang kafir itu;
(QS al-Baqarah [2]: 258)

2. Debat dilakukan dengan cara yang baik (ahsan)sebagaimana yang diperintahkan Allah
Maksudnya dilakukan dengan menggunakan patokan yang sama, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Bukan berpatokan pada “pokok”nya, atau “kata”nya, ataupun dengan akal pikiran. Kalaupun menggunakan akal, maka haruslah dengan menggunakan pemikiran yang rasional, bukan persangkaan ataupun filsafat.

 مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلاَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْلِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam (HR. Bukhari Muslim)

أما بعد فإن أصدق الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم

Amma ba’du: sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk, adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an (QS az-Zumar [39]: 23)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

Diriwayatkan daripada ‘Ali bin Abi Talib katanya: “Jika agama itu dibangun dengan akal pikiran tentu saja bagian bawah khuf lebih patut disapu daripada bahagian atas. Sesungguhnya saya melihat Rasulullah s.a.w. menyapu di bahagain atas khufnya. (HR. Abu Dawud)

3. Menghindari berkata yang buruk, keji, mencaci atau memaki individu
Ketika berdebat, kita benar-benar harus mengingat bahwa yang kita debat adalah ide yang disampaikan, bukan individu yang menyampaikan, sehingga kita tidak boleh menyerang secara individual dan menggunakan kata-kata yang tidak mencerminkan keimanan kepada Allah.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلاَ اللَّعَّانِ، وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ

Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji (HR. Tirmidzi)

4. Tidak mencari-cari perdebatan atau senang dengan perdebatan
Al-Qur’an telah menjadikan debat sebagai salah satu cara dalam menyampaikan kebenaran Islam, tapi bukan berarti al-Qur’an memerintahkan kita untuk senang dalam berdebat atau mencari-cari perdebatan. Seorang mukmin seharusnya memahami bahwa perdebatan adalah salah satu bagian dari 
 dakwah dan jalan terakhir dalam dakwah, bukan malah mengawali dakwah dengan perdebatan.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS al-Anfaal [8]: 46)

5. Perhatikan siapa yang menjadi partner debat/diskusi
Pertama-tama kali yang harus diperhatikan adalah siapa partner debat atau diskusi kita, karena partner debat/diskusi seharusnya seseorang yang memang menginginkan dan mencari kebenaran, bukan hanya menyenangi debat atau menjadikan debat untuk memperolok-olok agama Islam.

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berdebat” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [QS Az-Zukhruf [43]: 58]” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selain itu, tidak semua manusia yang diseru dengan ayat-ayat al-Qur’an akan bertambah keimanannya, Allah memperingatkan bahwa ada juga yang justru bertambah kekafirannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Maka ayat Allah tidak layak dibacakan untuk orang setipe ini.

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (QS at-Taubah [9]: 125)

Dan bila sudah kita pastikan bahwa partner diskusi kita adalah termasuk orang munafik ataupun kafir yang memang bukan mencari kebenaran dalam debat dan diskusi, maka segeralah meninggalkan orang yang semacam ini lalu beristighfar pada Allah karena kita telah melakukan hal yang tidak bermanfaat.

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (QS al-An’am [6]: 68)

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.(QS an-Nisaa [4]: 140)

Maksud “duduk bersama/beserta” adalah berada dalam suatu forum, sehingga seolah-olah dengan adanya kita disitu menjadi legitimasi dalam proses memperolok ayat-ayat Allah.
Imam asy-Syafi’i sendiri berkata perihal berdebat dengan orang semacam ini:

مَا نَاظَرْتُ أَهْلَ الْكَلَام إلَّا مَرَّةً وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذَلِكَ

“Aku tidak mendebat ahli kalam kecuali sekali. Dan setelah itupun aku beristighfar kepada Allah dari hal itu”.

Sedangkan Imam Malik berkata:
 “Termasuk merendahkan dan meremehkan ilmu jika seseorang membicarakan ilmu di hadapan orang yang tidak mentaati ilmu itu”.

Dan al-Auza’i juga menyampaikan:

إذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَوْمٍ شَرًّا فَتَحَ عَلَيْهِمْ الْجِدَالَ، وَمَنَعَهُمْ الْعَمَلَ

“Jika Allah menginginkan kejelekan pada satu kaum, maka Allah akan membuka atas mereka jidal, dan menghalangi mereka dari beramal.”

Daripada melayani orang semacam ini lebih baik kita beramal shalih. Ingat, meghabiskan waktu 30 menit untuk mendebat orang semacam ini berarti kita membuang kesempatan untuk berdakwah selama 30 menit kepada orang yang mau mendengarkan. Lebih baik beramal daripada mendebat orang yang tidak ingin mencari kebenaran.
6. Perhatikan apa yang akan diperdebatkan/didiskusikan

Seorang mukmin tidak akan menceburkan dirinya dalam perkara-perkara yang seharusnya tidak didiskusikan, dalam perkara yang tidak bermanfaat, dan juga dalam perkara-perkara yang tidak akan meningkatkan keimanan ketika mendebat/mendiskusikannya.
Dalam berdiskusi, kita hanya boleh membahas hal-hal yang telah Allah perbolehkan untuk mendiskusikannya, dan menjauhi perkara yang telah dilarang atau dimakruhkan untuk mendiskusikannya. Termasuk perkara ini adalah mendebat Allah dan ayat-ayat-Nya.

وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ

dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.(QS ar-Ra’du [13]: 13)

جِدَالٌ فِي اْلقُرْآنِ كُفْرٌ

Berdebat tentang al-Qur’an adalah kufur (HR. Ahmad Syakir)

Selain itu, kita juga diperintahkan untuk jangan terlalu dalam dalam memperdebatkan sesuatu yang ghaib semacam takdir, eksistensi Allah dan yang semacamnya

Diriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika diperbincangkan tentang sahabatku maka hentikanlah, jika diperbincangkan tentang ilmu nujum maka hentikanlah, dan jika diperbincangkan tentang takdir, maka hentikanlah,” (Hasan, lihat kitab ash-Shahihah [34]).

7. Tinggalkan perdebatan di forum-forum umum yang tidak terbatas
Seperti yang telah disampaikan di atas, tujuan perdebatan adalah menegakkan yang benar dan menjatuhkan yang salah, atau sederhananya merubah dari yang buruk menjadi yang baik. Apabila perdebatan ini dilakukan di forum-forum umum ataupun wasilah umum yang dapat terlihat oleh publik, maka sesungguhnhya perdebatan semacam ini akan lebih banyak mudharatnya bagi yang lain, dan pasti akan menjadi perdebatan yang tidak berujung.

Saat ini banyak kita liat, di forum-forum diskusi, wall facebook, milis ataupun yang lain, perdebatan yang tidak bermanfaat muncul. Dan dalam forum semacam ini tidak ada moderator yang memoderasi pendapat-pendapat yang muncul disitu. Sehingga semua jenis pendapat mulai dari yang benar dan salah bisa bercampur disitu dan tidak jarang terdapat makian, hasutan, penghinaan, provokasi dan lainnya yang jelas tidak akan membawa kebaikan dan manfaat bagi keimanan. Disitu pula terkadang emosi yang banyak bermain, dan ini dilihat oleh banyak orang dan menimbulkan suatu preseden buruk. Dan jelas hal-hal seperti ini menimbulkan mudharat dan haram hukumnya. Sedangkan kaidah fiqh menyatakan: “wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan ke keharaman maka wasilah itu haram”. Maka berdebat di internet dalam forum-forum umum dan bisa diakses semua orang tanpa moderasi adalah haram.

Jika kita benar-benar ingin menasehati dan berdebat dengan ahsan, undanglah partner debat/diskusi kita untuk off air, kopi darat, lalu diskusikan dan debatlah dengan empat mata atau lebih, ini lebih baik daripada kita berdebat dan berdiskusi di forum umum maya.

Walhasil, saya hanya ingin menyampaikan bahwa waktu kita terlalu berharga untuk mendebat orang-orang yang memang tidak ingin mencari kebenaran. Dan bila kita menemui komentar-komentar yang menyerang Islam di internet, janganlah terburu-buru untuk mendebatnya, karena itulah yang mereka inginkan. Bila kita menemui komentar apapun di internet, maka ada dua pilihan: 1) bila kita suka kita baca dan amalkan, 2) bila kita tidak suka tutup saja. (Bersambung ke bagian B. Etika Posting dan Bersikap. Insya Allah)

Sumber: Eramuslim

Senin, 04 Maret 2013

Perbandingan Studi Tokoh II: Ketika Anas dan Anis selalu Uji Ketangkasan



Masing-masing tiap organisasi, lembaga, atau yang sejenisnya baik yang sifatnya kemahasiswaan maupun yang kemasyarakatan pasti memiliki tokoh atau panutan yang bisa dicontohkan bagi setiap organisasi maupun lembaga, baik yang sifatnya mahasiswa maupun yang sifatnya masyarakat.
             
Setelah tulisan saya dengan judul Perbandingan Studi Tokoh yang pertama: Antara K.H. Zainuddin M.Z. dengan K.H. Rahmat Abdullah, kini saya ingin menulis judul yang kedua. Dalam tulisan kali ini, saya akan menceritakan sedikit saja tentang ketangkasan kedua anak Bangsa ini yang tidak lain adalah Anas Urbaningrum dan Anis Matta yang suatu saat mungkin salah satunya akan menjadi orang No. 1 di Negara kita tercinta ini (Indonesia). Insya Allah.
            
Kita sering sekali melihat Anas dan Anis ini dalam uji ketangkasan, hanya saja Anas seorang Ketua Partai Demokrat namun sekarang sudah turun dan Anis seorang Wakil Ketua DPR RI, sekarang menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera. Mungkin orang-orang melihat sosok ini adalah sosok yang biasa saja, namun bagi saya kedua sosok ini adalah sosok yang sangat fenomenal, mengapa?...
             
Karena Anas seorang Mantan Ketua PB HMI dan Anis Mantan Anggota Majelis Hikmah PP Muhammadiyah. keduanya sama-sama orang besar dalam membangun bangsa ini, umurnya sama-sama masih muda, sama-sama memiliki kapabilitas ilmu yang sangat memadai, sama-sama santri (Anak Pesantren), sama-sama politisi dan sama-sama Pemimpin Partai Cuma bedanya Partai yang dipimpin oleh anis partai Islam sedangkan Partai yang dipimpin oleh Anas partai Nasional. Jadi Tidaklah heran apabila keduanya sama-sama memperjuangkan Negara Indonesia dan Agama Islam.
             
Namun saya menemukan karakter yang berbeda dari kedua tokoh tersebut. Dimana saya menemukannya?.... Saya melihat, Anas selalu mengeksekusi agenda-agenda yang dikerjakan di partainya. Contoh: setiap ada kegiatan-kegiatan yang menyangkut partainya selalu mengambil langkah yang kongkrit, sedangkan Anis ternyata terlalu banyak apologi yang artinya minta maaf. Contoh: ketika Ludfi Hasan Ishak jadi tersangka karena dugaan kasus suap daging import sapi, dia melakukan taubat nasional sampai di ekspos di tv.
            
Tetapi disisi lain, Partai Keadilan Sejahtera semenjak dipimpin oleh Anis ternyata lebih solid, tegas dan berani dalam mengambil keputusan dan resiko, meski konsekuansinya cukup tinggi. Itulah sebabnya seluruh Kader Partai Keadilan Sejahtera tetap solid dan Istiqamah di partai tersebut. Sedangkan Partai Demokrat semakin galau dalam menghadapi masalah bahkan sampai Presiden RI pun sampai turut campur untuk menangani kisruh yang ada di internal partainya, terlebih setelah Anas mundur dari Ketua Partai Demokrat seluruh Kader jadi galau sehingga benar apa yang dikatakan oleh Jusuf Kalla dimedia: “PKS Lebih tegas daripada Demokrat dan Demokrat harus Belajar dari PKS”.
             
Rasanya saya tidak perlu banyak-banyak menceritakan ketangkasan mereka berdua dihadapan publik. Intinya mereka berdua sama-sama berkontribusi untuk Bangsa, Negara dan Agama ini. Tentunya Agama Islam. Bila saya melihat, keduanya sama-sama memiliki potensi dan motivasi untuk menjadi orang No. 1 di Negara Indonesia kita ini. Hanya saja, masih belum saatnya dikarena umurnya masih sangat muda dan pengalaman masih sedikit serta perlu banyak belajar lagi.
            
 Yah. Oleh karena itu keduanya sekarang harus belajar dulu dalam kepemimpin minimal dalam partai saja dulu setelah itu baru mencalonkan diri menjadi presiden. Siapakah yang diantara kedua orang ini yang akan menjadi No. 1 di Indonesia ini??..... Apakah Anas??.... ataukah Anis??.... atau bahkan Bukan keduanya dan tetap dari Militer lagi??.... Waktu yang akan menjawab semua ini.

Minggu 3 Maret 2013 Pukul 00.15

Selasa, 29 Januari 2013

Kematian Tragis Para Pemimpin Adil !

Ditulis oleh: Budi Ashari.

Kerinduan masyarakat terhadap pemimpin adil sama dengan kerinduan mereka terhadap tanah lapang yang hijau dan sejuk. Tempat mata meraih keindahannya. Tempat nafas menarik dalam kesejukannya. Tempat hati melepas kepenatannya. Atau bahkan lebih dari itu semua.

Apalagi hari ini. Ketika pencarian masyarakat terbentur tembok keputusasaan. Dicerminkan pada sikap apatis terhadap semua bentuk pemilihan pemimpin. Karena mereka telah kecewa. Harapan yang muncul seperti tunas yang baru tumbuh, dihantam oleh badai dusta. Tak tersisa.
Kemunculan pemimpin adil ini harus diusahakan terus. Dicari di tumpukan jerami, walau hanya sekecil jarum.

Siapapun yang akan muncul menjadi pemimpin adil, apalagi di tengah kumuhnya sistim dan kepemimpinan, tulisan ini memberikan rambu sejarah yang akan terulang di sepanjang sejarah.

Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) adalah contoh para pemimpin teradil di muka bumi ini, setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Merekalah para pemimpin yang disebut oleh Nabi sebagai pemimpin yang mendapatkan bimbingan Allah. Pemimpin yang menerapkan syariat Islam dengan utuh dan adil terhadap rakyatnya. Keadilannya, tidak pernah dijumpai dalam sejarah hidup pemimpin manapun di muka bumi ini.

Tetapi mereka semua meninggal dengan cara yang tragis!!  
Inilah kematian mereka satu per satu dalam rekaman sejarah Islam. Setelah mereka mempersembahkan kepemimpinan yang membuat langit memuji mereka.

Abu Bakar Diracun oleh Yahudi?
Para ulama berbeda pendapat tentang penyebab kematian Abu Bakar. Ada yang berpendapat bahwa sebab kematian Abu Bakar adalah sakit yang disebabkan oleh karena beliau mandi pada cuaca yang sangat dingin.

Tetapi ada yang berpendapat bahwa Abu Bakar meninggal karena diracun oleh Yahudi setahun sebelum wafatnya. Sebagaimana yang bisa kita baca dalam kitab tarikh al-Khulafa’ (1/74, MS) karangan Imam as-Suyuthi dan tarikh ath-Thabari.

As-Suyuthi berkata, “Ibnu Sa’ad dan al-Hakim meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu Syihab bahwa Abu Bakar dan al-Harits bin Kildah makan makanan yang dihadiahkan kepada Abu Bakar. al-Harits berkata: Angkat tanganmu wahai khalifah Rasulillah. Demi Allah di makanan ini ada racun yang membunuh dalam setahun. Saya dan Anda akan mati pada satu hari yang sama.

Abu Bakar berhenti memakannya. Keduanya terus sakit hingga meninggal pada satu hari yang sama dengan berakhirnya hitungan satu tahun.”
Untuk menguatkan riwayat ini, as-Suyuthi menukil pernyataan ulama ternama asy-Sya’bi. As-Suyuthi berkata: Al-Hakim meriwayatkan dari Sya’bi, dia berkata, “Apa yang kita harapkan dari dunia yang hina ini. Telah diracun Rasulullah, demikian pula Abu Bakar.”

Setelah itu, as-Suyuthi menyebutkan pendapat kedua. Di mana al-Waqidi dan al-Hakim meriwayatkan  dari Aisyah yang berkata, “Permulaan sakitnya Abu Bakar yaitu dia mandi pada Hari Senin 7 Jumadil Akhir. Saat itu cuaca sangat dingin. Hal itu menyebabkannya demam selama 15 hari. Sehingga tidak bisa keluar untuk shalat. Dan wafat pada malam Selasa 8 malam yang terakhir di Bulan Jumadil Akhir tahun 13 dalam usia 63 tahun.”

Para ulama sejarah memperbincangkan kedua penyebab ini. Masing-masing mencoba mengambil yang dianggapnya lebih kuat. Atau seperti as-Suyuthi yang menyebutkan kedua pendapat sekaligus.

Jika kita mengambil pendapat pertama yaitu sebab diracun, maka ini semakin menambah panjang daftar kematian pemimpin adil dengan cara mengenaskan. Kalau kita mengambil pendapat yang kedua yaitu sebab sakit, maka seakan sejarah Abu Bakar ingin mengatakan bahwa hanya dia dari 4 khulafaur rasyidin yang meninggal karena sakit. Tetapi 3 pemimpin adil lainnya harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.

Umar Ditusuk oleh Majusi
Pagi itu bukan hanya Umar yang ditusuk oleh Abu Lu’luah. Tetapi ada 13 orang lainnya. Dari mereka, 7 meninggal. Penusukan yang telah ditargetkan oleh Abu Lu’luah yang beragama majusi berdasarkan dendam terhadap Umar dan juga muslimin.

DR. Ali Muhammad ash-Shalabi mengatakan bahwa bukti kuat kalau Abu Lu’luah bukan hanya memiliki dendam pribadi kepada Umar tetapi juga kepada muslimin adalah dia menusuk 13 muslimin yang sedang berjamaah Shalat Shubuh. “Kalaulah benar Umar telah berbuat dzalim kepadanya, tetapi apa dosa para shahabat yang dia tusuk. Dan aku berlindung kepada Allah menyebut Umar sebagai orang dzalim,” begitu Ali ash-Shalabi menjelaskan (Umar bin Khattab h. 644)

Abu Lu’luah adalah budaknya Mughirah bin Syu’bah. Di mana dia digaji setiap harinya 4 Dirham dengan kemampuannya sebagai seorang pembuat alat penggiling.

Sejarah menyebutkan bahwa dendam pribadi Abu Lu’luah ketika dia kecewa dengan keputusan Umar yang dirasa tidak adil saat dia mengadukan tuannya Mughirah. “Semua merasakan keadilannya (Umar), kecuali saya,” kata Abu Lu’luah.

Suatu saat Umar berkata, “Saya diancam oleh seorang budak.” Kalimat diucapkan setelah Abu Lu’luah berbicara kepada Umar, “Saya akan buatkan ‘alat penggilingan’untukmu yang akan menjadi pembicaraan manusia.”

Maka, dia membuat senjata khusus untuk membunuh Umar. Sebuah pisau berkepala dua dengan pegangan di tengahnya yang telah dibubuhi racun. Umar mendapatkan 6 tusukan, salah satunya di bawah pusarnya.

Menjelang kematiannya, Umar diberitahu bahwa yang menusuknya adalah seorang majusi yang bernama Abu Lu’luah. Umar pun berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan seorang yang mengaku muslim.”

Utsman Dibantai oleh Para Pemberontak
6 tahun pertama pemerintahan Utsman adalah pemerintahan yang begitu menyenangkan dan menentramkan seluruh manusia. Utsman yang lembut bertemu dengan kelanjutan kebijakan adil zaman Umar merupakan penyebab kenyamanan itu.

6 tahun kedua pemerintahannya, adalah merupakan tahun-tahun sulit penuh fitnah. Bahkan fitnah itu melebar hingga ke zaman kita dan sungguh tidak mudah diurai oleh masyarakat awam.

DR. Ali Muhammad ash-Shalabi (Utsman ibn Affan h. 146, MS) menukil dari ath-Thabari dalam Tarikh al-Umam w al-Muluk dan Ibnu al-Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh keberadaan penggerak di balik layar fitnah yang ditujukan kepada Utsman. Orang itu adalah Abdullah bin Saba’, seorang yahudi dari Yaman yang berkeliling kota-kota Islam dari Hijaz, Bashrah, Kufah dan Syam untuk menyebarkan fitnah seputar Utsman. Tetapi dia gagal total. Hingga saat dia pergi ke Mesir, di sanalah fitnah itu mendapatkan pendukungnya. Dan menyebarlah fitnah itu...

Kelembutan Utsman, membuat fitnah begitu mudah merajalela tanpa penghalang berarti. Berbagai tuduhan menggelinding liar di kota-kota utama muslimin saat itu. Hingga para pemberontak itu pun menuju kota Madinah untuk menurunkan Utsman dari jabatannya. Ratusan orang berangkat ke Madinah dan mengepung rumah Utsman. Sekitar 40 hari Utman dikepung, dimulai dari bulan Syawwal  35 H. Hingga air pun mereka halangi untuk masuk ke rumah Utsman. Berbagai upaya para shahabat dan anak-anak mereka untuk melindungi Utsman tidak berdaya di hadapan tidak kurang dari 600 orang itu.

Hingga pada Waktu Ashar di Hari Jum’at 8 Dzulhijjah 35 H, para pemberontak itu berhasi masuk ke dalam rumah Utsman melalui pintu lain. Kening Utsman ditusuk, bagian bawah telinganya ditusuk hingga masuk ke kerongkongan, kemudian pedang diayunkan untuk menebas utsman, robohlah Utsman dan melompatlah Amr bin Hamaq menindih dada Utsman dengan menghunjamkan 9 tusukan.

Utsman pun syahid, persis seperti yang pernah disampaikan oleh Rasul saat beliau masih hidup. Mushaf yang sedang dibacanya, menjadi saksi bisu akan kebiadaban para pembunuh itu. Darah mengalir di atas Surat al-Baqarah yang sedang dibukanya.

Tak cukup hanya membunuh Utsman, mereka pun merampok harta yang ada di rumah Utsman. Perilaku sangat biadab.
Para shahabat terkejut. Ali bin Abi Thalib marah. Hingga dia mendatangi kedua putranya Hasan dan menamparnya, juga Husain dan memukul dadanya, “Bagaimana Amirul Mukminin bisa terbunuh, padahal kalian menjaga pintunya?”

Ali mendatangi rumah Utsman. Para pemberontak itu ingin membaiat Ali. Tapi Ali dengan marah berkata, “Demi Allah, saya malu membaiat orang-orang yang telah membunuh Utsman. Dan saya malu kepada Allah, dibaiat sementara Utsman belum dikubur.”

Mereka yang menghalalkan darah Utsman dinyatakan oleh para ulama sebagai kafir. Sementara yang tidak menghalalkan tetapi ikut berperan serta dalam kematian Utsman dinyatakan sebagai fasik (Utsman ibn Affan, ash-Shalabi, h. 186, MS). Sumber fitnah adalah Yahudi yang menyelusup ke dunia Islam untuk mengacaukan ketentraman dan kemakmuran muslimin serta kemajuan Islam.

Ali Dibunuh Orang Khawarij
Kelompok khawarij adalah sekte sesat di tubuh  muslimin yang merasa benar dan dekat dengan Allah serta mengkafirkan muslimin lainnya yang tidak sepaham dengan mereka, hingga para shahabat seperti Ali sekalipun. Kelompok ini telah diingatkan oleh Nabi saat beliau masih hidup. Pemahaman yang dangkal yang berbalut semangat adalah penyebabnya. Secara dzahir, mereka sangat meyakinkan sebagai seorang muslim dengan ibadah-ibadah yang mereka lakukan. Tetapi mereka adalah kelompok sesat.

Zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib, kelompok ini diperlakukan dengan sangat bijak oleh Ali. Dialog ilmiah dibangun dengan sangat baik oleh Ali, hingga keputusan yang sangat ilmiah dan tidak terbawa emosi. Tetapi saat mereka menumpahkan darah, meneror masyarakat muslim dan merampok, terpaksa Ali sebagai pemimpin negara harus melakukan perlawanan. Perang Nahrawan pun meletus antara Ali dan kaum khawarij.

Sesungguhnya saat Ali mengetahui kaum khawarij telah melakukan teror, dia tidak langsung memerangi tetapi meminta agar mereka menyerahkan para pembunuh untuk dihukum. Tetapi mereka justru berkata: kami semua pembunuhnya. Maka Ali pun membawa pasukan yang semula hendak dibawa ke Syam, untuk memerangi kaum Khawarij di Nahrawan pada Bulan Muharram 38 H.
Perang Nahrawan, benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam di hati orang-orang khawarij. Dari seribu pasukan yang mereka miliki, tidak ada yang tersisa kecuali hanya sekitar 10 orang yang lari dari medan perang. Sementara dari pihak Ali korbannya sekitar 12 orang. (Lihat: Ali ibn Abi Thalib, ash-Shalabi,  2/351-356, MS)

Dendam kaum khawarij tidak mati. Pertemuan rahasia antara 3 orang khawarij (Abdurahman bin Muljam, Burak bin Abdillah, Amr bin Bakr at-Taimi) membicarakan keadaan negara dan balas dendam mereka atas kematian teman-teman mereka di perang Nahrawan. Mereka sepakat untuk membunuh orang-orang yang mereka anggap sebagai pemimpin kafir; Abdurahman bin Muljam akan membunuh Ali bin Abi Thalib, Burak akan membunuh Muawiyah dan Amr bin Bakr akan membunuh Amr bin Ash.

Pada Hari Jum’at Shubuh di Bulan Ramadhan 40 H, Abdurahman bin Muljam beserta teman-temannya yang telah bersembunyi semalaman mencoba membunuh Ali.

Pedang Abdurahman bin Muljam meninggalkan luka sangat serius di kepala Ali. Kepala kedokteran Atsir bin Amr as-Sukuni menyatakan bahwa lukanya sudah tidak mungkin diobati dan akan menyebabkan kematian. Ali hanya bertahan 3 hari setelah terluka itu dan kemudian meninggal pada tanggal 21 Ramadhan 40 H. (Lihat: Ali ibn Abi Thalib, ash-Shalabi,  3/188-194, MS)

Umar bin Abdul Aziz Diracun oleh Lawan Politiknya
Umar bin Abdul Aziz yang mengagumkan. Kepemimpinan dan karya peradabannya belum pernah ada yang bisa menyainginya. Hanya dalam 29 bulan, negeri menjadi makmur, sejahtera dan keadilan ditegakkan. Setelah kemiskinan merajalela, pesta pora penguasa dan kedzaliman selalu menimpa rakyat jelata.

Semua rakyat senang. Negeri muslim yang sangat besar ketika itu sangat berbahagia di bawah pemimpin adil Umar bin Abdul Aziz. 

Tetapi ada yang tidak senang. Ada yang marah. Mereka adalah para mantan pejabat sebelum Umar bin Abdul Aziz menjabat. Mereka dulu menikmati dunia dan harta kemewahan dengan luar biasa di atas air mata dan darah rakyat.

Di zaman Umar bin Abdul Aziz, para pejabat Bani Umayyah itu benar-benar mati kutu. Tidak bisa berkutik. Mereka harus mengembalikan semua harta, tanah dan kedzaliman yang selama ini mereka lakukan terhadap rakyat.

As-Suyuthi (Tarikh khulafa’ 1/215, MS) dan Ali ash-Shalabi (Umar ibn Abdil Aziz, 4/198, MS) menyebutkan bahwa penyebab kematian Umar bin Abdul Aziz adalah diracun oleh para mantan pejabat Bani Umayyah.

Imam Mujahid berkata: Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada saya: Apa pendapat masyarakat tentang keadaan saya sekarang?
Mujahid: Mereka berkata bahwa Anda terkena sihir.
Umar: Saya tidak terkena sihir. Tetapi saya sungguh tahu kapan saya diracun.
Umar kemudian memanggil seorang pembantunya (seorang budak) dan berkata kepadanya: Celakalah dirimu, mengapa kamu memberiku racun?

Pembantu itu berkata: Seribu dinar dan dibebaskan dari perbudakan.
Umar: Berikan ke saya uangnya.

Pembantu itu memberikan uang dan Umar bin Abdul Aziz menyerahkannya ke baitul mal. Dan Umar berkata kepada pembantunya: Pergilah ke tempat yang tidak dilihat seseorang.

Bahkan Rasul pun Diracun oleh Yahudi...
Nabi sendiri yang menyampaikan kepada Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab sakitnya, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakitnya makanan yang aku makan di Khaibar. Dan sekarang aku rasakan putusnya urat nadiku karena racun tersebut.” (ar-Rahiq al-Makhtum, h. 465, MS)

Racun yang dimaksud Nabi adalah racun pada daging kambing yang dibubuhkan oleh Zainab binti al-Harits, istri salah seorang tokoh Yahudi Sallam bin Misykam. “Kalau kamu Nabi, maka kamu pasti tidak akan terkena racun itu, tetapi kalau kamu raja maka saya telah membuat istirahat masyarakat (dengan kematianmu),” begitu jawaban wanita yahudi itu ketika ditanya Nabi mengapa ia meracuni Nabi. (Sulwah al-Katsib, Ibn Nashiruddin ad-Dimasyqi, h. 11, MS)

Peristiwa tersebut terjadi di Khaibar setelah muslimin berhasil menaklukkan kota terakhir Yahudi di Jazirah Arab tersebut tahun 7 H.

Dicari Pemimpin Adil yang Berani Mati..!!

Abu Bakar dalam sebuah riwayat meninggal karena diracun oleh yahudi.
Umar bin Khattab meninggal karena ditusuk oleh Majusi.
Utsman bin Affan meninggal dibantai oleh orang kafir dan muslim fasik.
Ali bin Abi Thalib meninggal dengan pedang tokoh kelompok sesat khawarij.
Umar bin Abdul Aziz meninggal diracun oleh para pejabat lama yang marah.

Dan
Rasulullah meninggal karena sakit yang disebabkan oleh racun yahudi
Pesan sejarah sangat kuat bagi para pemimpin yang adil. Memang kematian tidak boleh diharapkan, ia akan datang pada saatnya tiba. Kematian adalah rahasia Allah. Tetapi para pemimpin adil dalam sejarah Islam, mati dengan semua cara tragis di atas. Bahkan pimpinan mereka semua, Rasulullah sang pemimpin agung pun mati dengan cara yang juga mirip.

Pantas! Jika pemimpin adil dijanjikan Allah perlindungan di akhirat dan Surga. Karena pemimpin adil artinya berhadapan dengan semua bentuk kedzaliman dan kejahatan yang bisa jadi telah dilakukan secara kolektif bahkan sistemik. Tentu nyawa bisa dipertaruhkan untuk mendobrak kedzaliman yang sedemikian besarnya.

Bagi para pemimpin yang mau menegakkan keadilan, tidak usah memilih cara matinya. Tetapi persiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi kematian mulia itu. Walau terlihat tragis.
Sedang dicari, pemimpin yang berani mati dalam menegakkan keadilan!!!

Senin, 14 Januari 2013

Bercanda pun Ada Adabnya

Oleh: Abdul Qadir
           
Bercanda merupakan salah satu hobi yang digemari masyakat Indonesia, baik itu anak-anak maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, penarik becak maupun pedagang, pelajar maupun pegawai. Pokoknya segala lapisan gemar canda.
           
Saking tersebarnya kegemaran dan hobi canda ini di masyarakat Indonesia Raya, sampai-sampai dijadikan profesi oleh sebagian orang. Nah, muncullah di sana grup-grup lawak dan banyolan, ludruk, kelompok musik humor[1], pantomim, film-film humor, promosi dan media massa yang dihiasi dengan humor. Bukan cuma lewat media audio-visual, bahkan juga lewat karya tulis, dan buku-buku. Lebih ironisnya lagi kegemaran bercanda ini digunakan oleh sebagian kiai dan ustadz untuk menarik massa, pemanis retorika dalam berceramah dan berkhutbah sehingga menjadi ciri khas bagi dirinya. Tak heran jika disana ada sebagian pelawak dan artis jadi ustadz[2].

Namun sangat disayangkan jika kegemaran terus menerus bercanda dan humor ini juga merasuk dan menjalar di kalangan kaum santri (baca: thullabul 'ilm), dan kyai yang merupakan panutan dan suri tauladan umat. Jika panutan adalah seorang yang kerjanya humor melulu dan bercanda, maka bagaimana lagi nasib pengikutnya. Ini merupakan pemandangan yang amat menyedihkan dan memprihatinkan[3].

Lantas apakah komentar Islam tentang humor dan bercanda. Apakah hukumnya haram ataukah di sana ada keringanan pada kondisi-kondisi tertentu seseorang dibolehkan bercanda? Jawabnya, silahkan ikuti pembahasan berikut:

Bercanda merupakan sesuatu yang disenangi oleh jiwa manusia sebagaimana halnya makan dan minum. Oleh karenanya, syari'at Islam yang sempurna ini datang untuk menjelaskan hukum bercanda. Rasulullah r telah menjelaskan hukumnya, baik dengan ucapan beliau, maupun dengan perbuatan beliau, sebagaimana yang kita dapatkan dalam  banyak hadits.

Anas bin Malik R.A. berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Dulu aku punya adik kecil yang bernama Abu Umair –periwayat hadits berkata: Aku kira Anas berkata: "Dia sudah disapih"- lantas Anas berkata: "Jika Rasulullah r datang kemudian melihatnya, beliau berkata: "Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan si Nughair".  Anas berkata: "Dia (Abu Umair) sedang bermain dengannya" [4].

Imam Abu Hatim Al-Busty –rahimahullah- menarik kesimpulan dari hadits ini: "Bolehnya Bagi Seseorang Untuk Menanyakan Sesuatu -padahal ia tahu- jika itu dalam rangka bercanda".[5]

Abu Darda' t berkata: Rasulullah r bersabda:
(اللهو في ثلاث: تأديب فرسك , رميك بقوسك, وملاعبتك لأهلك)
"Bermain-main itu hanya ada dalam tiga perkara: Melatih kudamu, membidikkan panahmu, dan bercanda dengan keluargamu" [6].

Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi (SAW) dan A'isyah pernah lomba lari, dan juga pernah menyaksikan orang-orang Habasyah bermain senjata dalam masjid.

Adanya riwayat-riwayat ini menunjukkan bolehnya seseorang bercanda sepanjang tidak melampaui batas atau melakukan perbuatan haram, sebagaimana halnya makan dan minum itu diperbolehkan sepanjang tidak melampaui batas dengan berlebih-lebihan serta tidak memakan sesuatu yang haram.

Nabi (SAW) adalah sosok terbaik dalam menerapkan perintah dan tuntunan Allah SWT. Sekalipun beliau pernah bercanda, namun canda bukanlah kebiasaan rutinnya, apalagi jadi profesinya. Silakan dengarkan sahabat Jabir bin Samurah t bertutur  dalam menggambarkan pribadi dan akhlak Nabi r: "Beliau banyak diam dan sedikit tertawa" [7].

Mungkin ada baiknya para pembaca budiman perlu mengetahui beberapa bentuk humor dan canda yang dilarang dalam syari'at Islam yang suci. Tujuan kita mengetahui keburukan adalah bukan untuk diamalkan, akan tetapi untuk dijauhi dan tidak diulang lagi Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penya'ir: "Aku mengetahui keburukan bukanlah untuk keburukan. Akan tetapi untuk dihindari".
Berikut ini akan kami bawakan beberapa bentuk canda dan humor yang dilarang dalam Islam beserta dalilnya:
  •  Menyinggung Allah, Rasul-Nya dan syari'at-Nya.
Di antara musibah terbesar yang banyak melanda umat manusia, dari dulu sampai sekarang. Yaitu menghina dan menyinggung Allah, para Rasul-Nya dan syari'at yang dibawa oleh mereka, karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya.

Suatu hal amat ironis jika ada seorang yang menghina Tuhannya sebagaimana yang dilakukan Yahudi. Mereka telah  menyatakan: "Sesungguhnya Allah itu fakir" atau "Tangan Allah terbelenggu".
Adapun kisah-kisah ejekan mereka kepada para Rasul dan Nabi serta akibat yang mereka terima dari ejekan tersebut, telah banyak diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an agar menjadi ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang datang kemudian.

Sebagian orang ada yang biasa mengejek orang-orang yang belajar agama seraya berkata: "Tak ada gunanya kamu belajar agama. Coba lihat orang yang belajar, tak ada di antara mereka yang kaya, semuanya kere dan miskin. Modelnya juga kayak orang kampungan dan bodoh-bodoh".
Ejekan seperti ini disebutkan Allah SWT dalam kisah Nuh A.S.:

(فقال الملأ الذين كفروا من قومه ما نراك إلا بشرا مثلنا ومانراك اتبعك إلا الذين هم أراذلنا
 بادى الرأي وما نرى لكم علينا من فضل بل نظنكم كـذبين)

Artinya: "Maka berkatalah pemimpin-pemimpin dari kaumnya :"Kami tidak melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang yang hina-dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apapun atas kami. Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta" [8].

Nasib yang dialami Nabi Nuh A.S. sama yang dialami Nabi Musa A.S. Allah SWT telah mengisahkan ejekan Fir'aun kepada Musa A.S.:

(وقال فرعون يأيها الملأ ما علمت لكم من إله غيري فأوقد لي يهــمــن على الطين
 فاجعل لي صرحا لعلي أطلع إلى أله موسى وإني لأظنه من الكـــذبين)

Artinya: "Fir'aun berkata: "Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ada tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa. Sesungguhnya aku benar-benar yakin ia itu termasuk orang-orang pendusta" [9].

Nabi kita yang terakhir-pun tak jauh beda nasibnya dengan para pendahulunya. Allah SWT berfirman:

(وإذا ناديتم إلى الصلوة اتخذوها هزوا ولعبا ذلك بأنهم قوم لا يعقلون. قل يأهل الكتب هل
 تنقمون منا إلا أن ءامنا بالله وما أنزل إلينا وما أنزل من قبل وأن أكثركم فـــسقون)

Artinya: "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, maka mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tak mau mempergunakan akal. Katakanlah: "Wahai Ahli Kitab, kalian tidaklah mencela kami melainkan karena kami beriman kepada Allah, dan (wahyu) yang diturunkan kepada kami, dan (wahyu) yang diturunkan sebelumnya. Sedang kebanyakan diantara kalian adalah benar-benar orang  yang fasik" [10].

Sikap orang-orang Yahudi ini mirip dengan sebagian orang di zaman kita ini. Ketika mereka diajak melaksanakan sunnah Rasul SAW seperti memanjangkan jenggot sesuai perintah Nabi A.S., mereka ngoceh: "Wah, ngapain melihara jenggot, mirip orang tua aja (sebagian yang lain berkata: mirip kambing). Lagian jorok dan ketinggalan zaman". Kalau melihat orang yang tidak isbal (mengangkat pakaian di atas mata kaki, berkomentar: "He, he, he, kebanjiran ya mas?" Si miskin ini tak tahu jika ia mencela masalah jenggot atau meninggalkan isbal, maka ia telah mencela agama Islam yang pelakunya bisa kafir setelah disampaikan hujjah padanya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata: "Barang siapa yang mengolok-olok suatu (ajaran) dari agama Rasul, atau pahalanya, atau  siksaannya, maka sungguh ia telah kafir berdasarkan firman-Nya:

(قل أبالله وءايته ورسوله كنتم تستهزءون. لا تعتذروا  قد كفرتم بعد إيمنكم)

Artinya: "Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya  dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman" [11]." [12].

Mungkin kita sering mendengar saudari-saudari kita yang selalu mendapatkan olokan dari masyakat disebabkan mereka memakai jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya, longgar, tebal dan berwarna gelap. Di mana-mana mereka mendapat olokan dari masyarakat. Digelarilah: Ninja, setan, kemah berjalan, Vampire, tukang copet dan kata-kata yang jorok lainnya. 

Menanggapi masalah ini, Lembaga Riset Ilmiyah dan Fatwa kerajaan Saudi mengeluarkan fatwa sehubungan dengan seorang yang bertanya tentang kondisi sebagian masyarakat yang kerjanya mengolok para wanita muslimah yang memakai hijab syar'i (jilbab) dengan gelar kemah berjalan dan jin. Lembaga Riset memberikan jawaban dan fatwa berikut: "Barangsiapa yang mengolok-olok seorang wanita muslimah atau laki-laki muslim lantaran ia berpegang teguh dengan syari'at Islam, maka ia kafir. Sama saja apakah (olokan) itu karena berhijabnya seorang wanita muslimah dengan hijab syar'i atau karena masalah (syari'at) lainnya  berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma-, ia berkata: "Seorang laki-laki berkata ketika di perang Tabuk dalam suatu majelis: "Aku tak pernah melihat orang yang lebih rakus daripada qurro' [13] kita itu, dan tak pula ada yang lebih pendusta, dan tidak pula lebih penakut ketika bertemu musuh dari mereka". Maka berkatalah seseorang: "Kamu dusta, kamu itu munafik. Aku akan laporkan kepada Rasulullah r". Lalu hal itupun sampai kepada Rasulullah r dan Al-Qur'an pun turun". Abdullah bin Umar berkata: "Akupun melihat orang itu bergelantungan pada tali kekang onta Rasulullah r sambil sesekali tersandung batu seraya berkata: "Wahai Rasulullah, kami Cuma bersenda gurau dan bermain-main". Sedang Rasulullah r bersabda: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kalian (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa".[14] Jadi, Nabi r menjadikan olokan orang itu kepada orang-orang beriman sebagai olokan kepada Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya" [15].

Wahai pembaca yang budiman, anda telah melihat bahayanya menyinggung syari'at Allah I ketika bercanda dan humor. Maka janganlah sesekali kita berani mencela para hamba Allah I yang ingin mengikuti dan menerapkan sunnah Rasul-Nya r. Janganlah mengolok mereka lantaran mereka memanjangkan jenggot atau memendekkan celananya di atas mata kaki. Sebaiknya diam dan mendoakan mereka agar tetap teguh di atas sunnah. Nabi r bersabda:

(من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت)
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya ia mengucapkan sesuatu yang baik atau diam" [16].

Di antara perkara yang masuk dalam masalah ini adalah menjadikan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasululllah r sebagai bahan anekdot atau ketika membacakan ayat neraka dalam sebuah khutbah dan ceramah, ia sampaikan dalam keadaan tertawa sampai pendengarpun ikut tertawa terbahak-bahak. Hindarilah karena ini berbahaya!!
  •  Merendahkan Orang Lain
Bercanda merupakan suatu hal yang memang mengasyikkan. Namun hal ini kadang mengantarkan pelakunya pada kubang dosa dan ma'shiyat. Di antara ma'shiyat tersebut adalah merendahkan orang lain.
    
Terkadang kita melihat ada sebagian orang yang meniru gaya jalan kawannya, meniru bahasa dan cara ngomongnya dengan alasan humor. Sekelompok lagi, ada yang mengedipkan matanya sambil mengisyaratkan pandangannya kepada yang lain. Ada lagi yang memberikan julukan-julukan kepada kawan dan saudaranya. Andaikan gelar itu diberikan kepadanya, niscaya hatinya akan jengkel. Ada yang melototkan matanya kepada kawannya sambil menjulurkan lidahnya dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semua ini mereka lakukan dengan alasan humor.
    
Ketahuilah, semua ini bukanlah termasuk sunnah dan petunjuk Nabi (SAW) dan para sahabatnya. Mereka bercanda masih dalam batas-batas syari'at. Bahkan contoh yang kami sebutkan, tiada lain kecuali merupakan perendahan terhadap martabat orang lain, apalagi ia muslim
    
Penyakit ini muncul disebabkan karena penyakit sombong dan hilangnya rasa malu di hati pelakunya. Nabi (SAW) pernah bersabda:

(الكبر: بطر الحق وغمط الناس)
Artinya:"Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain" [17].
    
Seseorang yang memiliki iman dan rasa malu di hadapan Allah, niscaya tak mungkin akan mengantarkan pemiliknya kepada sikap sombong dan merendahkan orang lain. Nabi (SAW) bersabda :

(الحياء والإيمان قرنا جميعا  فإذا رفع أحدهما رفع الآخر)
"Malu dan iman dikumpulkan bersama-sama. Jika yang satu hilang, maka yang lain pun akan hilang" [18].
    
Al-Imam Al-Haitamy memandang bahwa diantara dosa besar adalah mengejek para hamba Allah I, tidak menghargai menghargai mereka, dan merendahkan mereka. Beliau berkata setelah itu: "Semua yang disebutkan tadi sumber dan dasarnya adalah keburukan akhlak dan rusaknya hati" [19].
    
Alangkah benarnya apa yang dikatakan beliau. Seorang yang memperbanyak canda dan tawa, hatinya akan rusak dan mati dengan perlahan-lahan disebabkan ia tak terasa telah melakukan dosa dan kekufuran yang menodai hati. Nabi r bersabda:

(لا تكثروا الضحك, فإن كثرة الضحك تميت القلب)
"Janganlah kalian memperbanyak tertawa karena memperbanyak tertawa bisa mematikan hati" [20].
  • Berbicara Tentang Wanita
Berbicara tentang wanita merupakan salah satu bahan humoran bagi sebagian orang yang tipis imannya, dan rendah rasa malunya. Sampai kadang di antara mereka menjadikannya sebagai sebuah profesi dan adat kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Lebih ironisnya lagi kebiasaan ini menjangkit di kalangan thullabul ilmi karena pembicaraan tentang wanita dominannya mengarah kepada hal-hal yang berkaitan dengan jima' dan kebutuhan syahwat [21].

Al-Ahnaf bin Qois -rahimahullah- berkata: "Jauhkanlah majelis kita dari obrolan seputar wanita dan makanan karena aku benci seseorang yang suka membicarakan (masalah) kemaluan dan perutnya" [22].

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata ketika mengomentari kata mutiara ini: "Karena hal itu akan menyibukkan seseorang dari menuntut ilmu. Seperti jika ia bilang: "Semalam aku makan sampai penuh perutku", dan ucapan semisalnya yang tak ada gunanya; atau ia berbicara tentang hal yang berkaitan dengan wanita. Adapun jika ia ngobrol tentang suatu rahasia antara seorang suami dengan istrinya, maka dia itu termasuk orang yang buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat" [23].
Nabi (SAW) bersabda:

(إن من أشر الناس عند الله منـزلة يوم  القيامة الرجل يفضي إلى امرأته وتفضي إليه ثم ينشر سرها)
"Diantara manusia yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dan berduaan dengan istrinya, lantas ia menyebarkan rahasianya"  [24].

Imam An-Nawawy –rahimahullah- mengambil kesimpulan: "Dalam hadits ini terdapat (faedah) diharamkannya seseorang menyebarkan sesuatu yang terjadi antara dia dengan istrinya berupa perkara jima', serta menggambarkan hal itu secara rinci dan sesuatu yang terjadi pada wanita di dalamnya; berupa ucapan, perbuatan, dan sejenisnya" [25].

Seyogyanya seorang muslim -apalagi thullabul ilmi asy syar'i- selalu berusaha membersihkan lisannya ketika ia berbicara di depan orang. Karena seorang yang mengotori mulutnya dengan kisah-kisah dan cerita tentang wanita yang bisa membangkitkan gejolak syahwat, akan merusak citra dirinya sendiri dan memberikan dampak buruk kepada teman duduknya . Oleh karenanya, seorang sahabat, Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma- berkata: "Sesuatu yang paling pantas disucikan oleh seorang hamba adalah lisannya" [26].

Para ulama kita melarang seseorang untuk berbicara tentang wanita, karena itu merupakan jalan tergelincirnya seseorang dan bisa mengantarkan untuk membicarakan perkara yang haram berupa hal-hal yang berkaitan dengannya, entah itu dengan mensifatkan dan menggambarkan keelokan tubuh dan perangai seorang wanita, ataukah menyebarkan rahasia yang terjadi antara seorang suami dengan istrinya. Sedang ini merupakan seburuk-buruknya perbuatan yang diberikan ancaman keras bagi pelakunya sebagaimana dalam hadits di atas [27].

Jauhilah sejenis pembicaraan ini sekalipun itu dalam bentuk sindiran dan isyarat yang dipahami. Sebab ada pepatah yang berbunyi: "Barang siapa memperbanyak sesuatu, niscaya ia akan dikenal dengannya". Artinya: barang siapa yang suka membicarakan perkara haram –seperti bicara tentang wanita-, niscaya ia akan dikenal dengannya sehingga citra dan harga dirinya tercoreng di hadapan masyarakat.
  • § Dusta Demi Canda
Ciri seorang mukmin adalah jujur dalam berbicara sebagaimana pribadi Nabi kita (SAW). Abu Hurairah R.A. berkata: "Ya Rasulullah, engkau bercanda dengan kami?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku tak akan mengucapkan sesuatu kecuali itu benar" [28].

Satu bentuk kebiasaan buruk jika seseorang berusaha untuk membuat orang lain senang dan tertawa, namun ia mengucapkan sesuatu yang dusta sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pelawak, dan pemain sandiwara atau orang yang kerjanya cuma dusta dan cari muka.
Jauhilah dusta dalam bercanda sebab ini akan meluputkan kalian dari suatu fadhilah dan balasan yang agung di sisi Allah pada hari kemudian. Nabi r bersabda:

(أنا زعيم  ببيت في ربض الجنة لم ترك المراء وإن كان محقا,  وببيت في وسط الجنة لمن ترك
الكذب وإن كان مازحا, وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه)

"Aku akan memberikan jaminan sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercanda, serta rumah di bagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus" [29].

Inilah sebagian canda dan humor yang dilarang dalam Islam, sengaja kami sampaikan di hadapan ikhwah sekalian agar kita bisa mengenal dan menjauhinya. Sebab berapa banyak orang masuk dalam neraka cuma karena salah dalam mengucapkan sesuatu.  Walillahamdu wal minnah.


[1] Haramnya musik telah dijelaskan oleh Nabi r dalam sabdanya: "Akan ada di antara umatku ini suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik". HR Bukhari. Lihat perincian masalah ini dalam Tahrim Alat Ath-Thorb  karya Syaikh Al-Albany –rahimahullah-.

[2] Padahal ia tak pernah belajar agama sebelumnya. Cuma dengan modal bisa baca Al-Qur'an terjemahan dan pandai menarik hati dengan leluconnya, jadilah ia seorang ustadz.

[3] Sampai kami pernah menyaksikan seorang da'i kondang berceramah dari awal sampai akhir kerjanya cuma membuat pendengarnya terbahak-bahak serta terpingkal-pingkal.

[4] HR.Al-Bukhary (5778), Muslim (2151) dan Ibnu Hibban (109). Nughoir: nama burung.

[5] Lihat Shohih Ibnu Hibban (1/312).

[6] Lihat Ash-Shohihah (315) oleh Al-Albany.

[7] HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/88) dan dishahihkan Al-Albany dalam Shahih Al-Jami (4822)

[8] QS. Huud : 27

[9] QS. Al-Qashash: 38.

[10] QS. Al-Maa'idah : 58-59.

[11] QS.At-Taubah : 65-66.

[12] Lihat Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah (1/131).

[13] Qurro': Penghafal dan penafsir Al-Qur'an .

[14] HR. Ibnu Abi Hatim (4/63&64) dan Ath-Thabary (10/172). Hadits ini derajatnya hasan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'iy dalam Ash-Shahih Al-Musnad min Asbab An-Nuzul (hal.123).

[15] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' (2/14 -15).

[16] HR. Al-Bukhary dalam Shahihnya (5672), Muslim dalam Shahihnya (47), Ibnu Hibban (516) dan lainnya.

[17] HR.Muslim dalam Shahih-nya (91) dan lainnya.

[18] HR.Al-Hakim (58), Al-Baihaqy dalam Asy-Syu'ab (7727) dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (4/297), dan dishahihkan oleh al-Hakim, dan syeikh Muqbil tidak mengomentarinya dalam kitab at-Tatabbu' Lima Fi al-Mustadrak Min Auham (1/66).

[19] Lihat Az-Zawajir 'an Iqtirof Al-Kaba'ir (1/141-142) karya Al-Haitamy, cet. Dar Al-Hadits.

[20] HR. Ahmad (8081), At-Tirmidzy (2305), Ibnu Majah (4193), dan lainnya. Lihat Ash-Shahihah.

[21] Kami sering menyaksikan sebagian mereka jika kumpul dan ngobrol tentang wanita dan nikah, mesti nanti larinya ke masalah yang jorok. Hati-hati dan jauhilah dari awal pembicaraan!!

[22] Lihat Siyar A'lam An-Nubala' (4/94) oleh Abu Abdillah Adz-Dzahaby -rahimahullah-.

[23] Lihat At-Ta'liq Ats-Tsamin ala Syarh Asy-Syaikh Ibni Utsaimin (82) oleh Amr bin Abdul Mun'im.

[24] HR.Muslim dalam Shahihnya (1437), Abu Dawud dalam Sunannya (4870), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (4/39).

[25] Lihat Syarah Shahih Muslim (10/8) oleh An-Nawawy.

[26] HR.Ahmad dalam Az-Zuhd (26), Abu Dawud dalam Az-Zuhd (322), Ibnu Abi Ashim dalam Az-Zuhd (26),dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (1/307) dengan sanad yg shahih.

[27] Lihat At-Ta'liq Ats-Tsamin (82) oleh Amr bin Abdul Mun'im Salim.

[28] HR.Ahmad dalam Al-Musnad (8462), At-Tirmidzy dalam As-Sunan (1990), dan lainnya. Hadits ini dishahihkan Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (4/304).

[29] HR. Abu Dawud  dalam As-Sunan (4800), Al-Baihaqy dalam Al-Kubra (10/249), dan lainnya. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah (494).