Senin, 24 Februari 2025

Mengapa Memilih Dunia Pendidikan?

             Ini merupakan perjalanan hidup aku yang entah karena kecelakaan atau bagaimana, tapi sebetulnya saya menyukai dunia pendidikan sejak kuliah semester 5, meskipun kuliah bukan dari pendidikan tetapi di Fakultas Hukum. Tetapi saya baru tahu kalau suatu saat saya akan menjadi seorang guru bagi keluarga nanti. Awalnya ketika saya mengikuti kegiatan mengajari anak jalanan disebuah komunitas yang bernama Kampus Peduli. Disitulah saya merasakan betapa pentingnya kita harus peduli kepada anak-anak, tentunya anak-anak jalanan.

            Lalu ketika aku di semester 8, saya mengikuti perkuliahan PAI (Pandangan Alam/Hidup Islam) tetapi sifatnya seperti kajian yang diselenggarakan dari PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan) Bandung. Disitu aku mengikuti perkuliahan dari 2012 sampai saat ini. Dari muatan materi PAI yang selama ini aku ikuti, rupanya sangat cocok dengan apa yang selama ini dipelajari, terutama ketika membahas konsep Tuhan, Agama, Nabi & Wahyu, Ilmu, Konsep Pendidikan, dan Konsep Kebahagiaan, serta Islamisasi. Disinilah aku merasa sangat menyukai dari materi tersebut apalagi tentang pendidikan.

            Setelah itu, aku memilih menjadi guru karena aku tidak kuat kalau kerja dikantoran, apalagi kalau sudah harus mengikuti aturan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Terlebih karena sudah menjiwai di pendidikan. Karena pilihanku ini, banyak sekali teman-teman yang menanyakan: “Kenapa memilih jadi guru? Padahal aku kan Lulusan Hukum, kenapa engga milih di kerja yang gajinya tinggi atau yang sesuai, kan sayang ilmu yang dipelajari selama kuliah”.

            Memang betul juga yang dikatakan teman-temanku bilang dan aku pun menjawab seadanya saja, tidak terlalu serius. Namun, meski begitu, aku suka membagi-bagikan ilmu kepada siapapun dan juga suka kesana-kemari apabila ada kajian-kajian. kembali lagi ke ceritaku, kenapa aku memilih dunia pendidikan? Sebetulan, ada beberapa hal yang membuat aku memilih dunia pendidikan dan suka didalamnya. Diantaranya adalah:

1.   Inspirasi dari 6 guruku sejak SD-SMA

Salah satu yang membuat aku suka dan memilih dunia pendidikan adalah, seperti yang ada pada poin diatas. Yah, karena inilah yang membuat saya memilih menjadi guru. Karena guru adalah gudangnya ilmu dan sebagai orang tua kedua ketika disekolah, dialah yang selalu dekat denganku, meski aku tidak begitu dekat, tetapi dialah yang selalu dekat, perhatian dan sayang kepadaku dan kebaikan dan ketulusan itulah aku selalu simpan dan dikenang sampai saat ini, meski banyak sekali yang aku kenal. Siapakah guru yang saya sebutkan?

a.       Pak Didi Junaidi

Dia adalah guru wali kelasku dari kelas 5-6 SD. Beliau adalah guru yang selalu baik kepadaku dan selalu memberikan motivasi kepadaku ketika aku lagi turun semangatnya. Beliau selain bisa dalam 5 pelajaran (Matematika, Bahasa Indoensia, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS), tetapi mengajari tentang arti semangat belajar, arti semangat untuk terus hidup. Inilah salah satu kenapa saya tetap semangat untuk terus dan terus berjuang untuk menggapai apa yang diimpikan menjadi orang baik.

b.      Bu Ami

Ada juga yang membuat aku suka dengan dunia pendidikan yaitu kehadiran seorang guru tetapi selalu menaruh perhatian kepadaku, sayang padaku dan karena dekatnya beliau kepadaku membuat aku menjadi senang dan bahagia sekali karena merasa diperhatikan. Dia adalah bu Ami. Guru yang sangat cantik, anggun, sholehah dan baik akhlaknya dan sayang ke anak-anak tentunya kepadaku. Meskipun guru les bimbel di tridaya tetapi seakan-akan aku merasa punya ibu yang sayang padaku dan bahkan seperti ibu peri.

Itulah yang membuat aku sangat menyukai ibu Ami, dengan sosok yang sangat baik dan lembut dalam mengajari ke anak-anaknya termasuk kepadaku dan semakin aku mencintai Dunia Pendidikan, meski akhirnya sempat pisah tidak ketemu karena ketika kelas 6 dan kelas 1 SMP tidak ikutan les Bimbel Tridaya. Namun Alhamdulillah bisa ketemu lagi dengan Ibu Ami saat ikutan les Tridaya di kelas 2 dan 3 SMP. Terimakasih Ibu Ami, kau selalu perhatian dan sayang padaku ketika pertema ketemu yang akhirnya saya belajar tentang kepedulian dan kasih sayang ke orang lain.  

c.       Bu Iyam Sari Hayati

Lalu ada juga guru di SMP Negeri 7 tempat aku belajar, dia adalah Ibu Iyam Sari Hayati. Selain guru Biologi, beliau adalah guru BK (bimbingan konseling) yang cantik dan selalu perhatian kepadaku selama ini di SMP Negeri 7, dialah yang selalu membuatku menjadi sangat senang & bahagia. Karena beliau selalu perhatian kepadaku dengan kasih sayang yang tulus selama aku di SMP Negeri 7.  Meski begitu, beliau tidak membanding-bandingkan dengan murid-murid yang lain antara pintar dan bodoh. Serasa seperti ibu sendiri. Hehehe….

Itulah yang membuat aku belajar untuk tidak membanding-bandingkan dengan yang lain ketika pelajaran ataupun ketika berdiskusi dan disinilah aku belajar bagaimana cara menghadapi anak-anak ketika pelajaran dan ketika bicara 4 mata baik ke sesama maupun ke  lawan jenis, serta mengajariku tentang keindahan apapun itu.

d.      Bu Elin

Selanjutnya guru yang faham dengan pelajaran Sosial dan Kenegaraan, beliau adalah guru bimbel di Tridaya, beliau mengajar mata pelajaran IPS dan PPKn kelas 1-3 SMP. Dialah guru bimbel yang tangguh dan baik, beliau mengajariku pelajaran IPS (Ekonomi, Sejarah Geografi) dan PPKn sejak aku masuk bimbel Tridaya dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMP, bahkan sampai lulus. Beliau mengajarkan banyak sekali hal kepadaku, termasuk pelajaran yang disampaikan dikaitkan dengan kondisi dan realita saat ini dan bagaimana kita menyikapi dan mencari solusinya, dan juga selalu sabar dalam mengajari termasuk kepadaku.

            Itulah yang membuat aku semakin semangat dan terus bangkit serta terus belajar, belajar dan belajar. Karena merupakan bagian dari Ibadah. Berkat beliaulah aku bisa menjadi guru IPS dan PPKn kelas 7, 8 dan 9 SMP Daarul Adab tempat aku mengajar dan mendidik anak-anakku. Artinya, ini mejadi cikal bakal aku terus belajar IPS dan PPKn sejak SMP sampai Sekarang dan menjadi seorang guru yang terbaik dimata Allah dan Manusia lainnya, termasuk ke anak-anakku, inipun juga tak lepas dari Bimbel Tridaya yang dimana tempat lesku selama 5 Tahun (SD kelas 4-5, kelas 6 tidak dilanjut. Namun, dilanjut di SMP kelas 1-3). 

e.       Teh Anggun               

Kali ini adalah guru kesayanganku, dialah Teh Anggun, nama lengkapnya Anggun Widiyani. Dia bukan sekedar guru saja, tetapi sahabat dekat, teteh tempat curhat dan juga faham agama. Beliau adalah pengajar Bahasa Jepang di SMA Plus Muthahhari. Meskipun sekolahnya memang ajarannya Syi’ah. Tetapi untuk teteh anggun ini, beliau menolak bahkan menentang ajaran Syi’ah sejak lama selain mengajariku Bahasa Jepang, tetapi tempat aku belajar agama bersamanya.

      Berangkat dari Teh Anggun inilah aku mulai mendalami Agama Islam, meskipun di sekolah sangat bertetangan dengan Islam. Tetapi disini saya belajar lebih dalam Ajaran Islam dan ajaran sesat dan menyesakan lainnya.           

            Itulah kenapa aku memilih untuk terjun ke Dunia Pendidikan, meskipun aku sendiri bukanlah lulusan Dunia Pendidikan atau Lulusan Sarjana Hukum dari Unisba. Tetapi aku mewarisi semangat dari keenam guru ini ditambah aku mengikuti kegiatan seperti mengajar anak jalanan dan mengikuti pelatihan-pelatihan mengajar seperti KMD, KML Gerakan Pramuka, Public Speaking, Master Author, Master Motivator & Trainer Pendidikan dan masih banyak lagi. Namun meski begitu, aku tetap terus belajar untuk menjadi seorang guru teladan.

2.   Generasi muda yang semakin rusak

Kita bisa melihat dari generasi ke generasi kondisi anak-anak muda terutama dengan kondisi hari ini. Yah. Bisa kita katakan generasi muda jaman dulu sangat minim akan teknologi yang canggih, tetapi dalam sifat sopan santun, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda betul betul terasa. Bahkan guru pun dihormati dan ilmu sangat didapat dengan keberkahan berkat doa baik dari orang tua, guru, teman terdekat dan hasil usaha sendiri.

Berbeda dangan generasi muda jaman sekarang. Dimana semua serba ada, baik buku, tulisan, majalan, maupun internet & komputer seperti PC, Laptop, dan semuanya serba ada. Apalagi sekarang sudah banyak fasilitas-fasilitas Wi-fi dimana-mana sehingga semua orang mudah akses. Namun, meski semua sangat mudah untuk di akses, cara dalam pembelajaran semakin berkurang, apalagi bila tidak ada pengontrolan dari kedua orang tua, maka akan akan terbawa arus sehingga anak-anak dapat kecanduan.

Kita lihat saja kasus yang terjadi pada generasi muda sekarang, dimana banyak sekali murid-murid yang berani melawan ke guru, bukannya saling kerjasama antar guru dan orang tua malah guru tersebut dilaporkan karena dianggap melanggar HAM, padahal tujuannya untuk kedusiplinan anak tersebut. Ada juga seperti kebablasana dalam pergaulan sehari-hari seperti seks bebas, penggunaan obat-obat terlarang, tawuran, nonton film tidak senooh, main games yang berlebihan sehingga kondisi anak-anak sekarang menjadi rusak parah.

Itu merupakan cuplikan atau gambaran kondisi generasi yang semakin rusak, bahkan ada yang lebih rusak dari pada itu yaitu, Hilangnya Identitas diri sebagai seorang muslim. Ini murupakan kondisi yang teramat sangat parah. Dimana banyak sekali generasi-generasi mudah serang lebih banyak mengidolakan tokoh-tokoh dari luar negeri baik itu dari dunia perfilman Box Office maupun dari K-Pop yang meracuni generasi muda sekarang bahkan yang lebih parahnya lagi adalah meniru kegiatan dari orang tersebut sehingga identitas sebagai seorang muslim tidak dipedulikan sama sekali dan melupakan sosok yang harus diteladani oleh generasi muslim.  

3.   Ucapan yang tidak bisa terkontrol atau terjaga

Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi banyak sekali informasi-informasi yang mudah diakses tentunya dari Bahasa-bahasa yang gaul yang kurang dimengerti oleh orang-orang. Salah satunya Bahasa-bahasa gaul didalam kehidupan sehari-hari selain Bahasa gaul yang sudah popular sperti la, loe gua, gue. Tetapi lebih dari itu, seperti otw, omg hello, wew, coy dan lain sebagainya. Namun, meski begitu, penempatan Bahasa-bahasa yang gaul harus ditempatkan pada tempatnya karena tidak semua orang menerima kata-kata seperti itu.

Apalagi sekarang ini banyak istilah Bahasa-bahasa yang gaul tetapi isi dan makna yang tersirat sangatlah merusak sekali. Maka disitulah saya merasa terpanggil untuk mendidik anak-akan dengan perkataan yang baik dan benar. Karena saya percaya, setiap perkataan dan doa pasti akan kembali lagi kepada pemiliknya dan saya sebagai guru akan mengajarkan yang baik dan benar.  

4.   Rusaknya Dunia Pendidikan saat ini.

Kerusakan pada Dunia Pendidikan hari ini betul-betul terasa, betapa tidak? Kerusakan dunia pendirikan ini bukan dari kondisi sekolah dan/atau guru dan/ atau siswa. Melainkan sistem pendidikan yang setiap tahun selalu berganti sehingga para guru dan murid pun menjadi sangat kesulitan untuk belajar dengna efektif dan efisien baik di sekolah maupun di rumah sehingga benar perkataan ini selalu ada, “Ganti Menteri, Ganti Sistem”. Karena setiap ganti menteri pasti selalu ganti kebijakan kurikulum yang diterapkan di sekolah dasar dan menengah.

Ditambah lagi pendidikan kita ini oriantasinya adalah lebih kepada nilai tertinggi dan bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga nilai-nilai pendidikan yang sesungguhnya menjadi hilang dan tidak ada arah. Padahal tujuan pendidikan yang sesungguhnya bukan sekedar mengejar nilai tinggi dan cari pekerjaan semata, tetapi lebih dari pada itu. Yaitu melahirkan orang-orang yang beriman, bertakwa dan beramal sholeh. Itulah tujuan dari pendidikan di Indonesia sebagaimana dalam UU Pendidian. Akan tetapi, pada kenyataanya dalam pelaksanaan di lapangannya jauh dari apa yang diharapkan.

Inilah merupakan tantangan tersendiri bagi aku memilih dunia pendidikan. Tetapi sekali melangkah, Insya Allah tidak akan mundur kebelakang demi melahirkan generasi-generasi yang beriman dan bertakwa.  

5.   Nilai-nilai Islam harus dimasukan.

Ini pun akhirnya menjadi tugasku, misiku, dan bahkan menjadi jalan dakwahku ketika memilih manjadi guru di dunia pendidikan. Yah, memasukan nilai-nilai Islam dalam pelajaran yang aku emban seperti mapel IPS, PPKn, Sejarah dan Pramuka. Karena bagiku, mapel ini sangat vital sekali ketika berhubungan dengan masyarakat luas. Banyak sekali buku-buku dalam mapel ini nilai-nilai Islamnya sangat sedikit bahan hampir tidak ada dan yang lebih parahnya lagi isinya bukan lagi kepada pencerdasan, melainkan mengarah kepada pembodohan.

Akhirnya ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku bagaimana caranya memasukan nilai-nilai Islam dan bahkan merupakan Islamisasi, dimana hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai Islam dimasukan pada mapel tersebut. Ini memang menjadi tugasku yang sangat berat terlebih semenjak mengikuti Kuliah PAI dari PIMPIN Bandung harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Tulisan ini dibuat dari tahun 2016 dan selesai pada tahun 2021